
“Ah … Mia, ada apa?”
Mia yang melihat Marsha di sana merasa kikuk. Ia mencari Kimi untuk meminta tandatangan surat keterangan selaku pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
“Maaf Dok, apa saya mengganggu? Saya ingin meminta tandatangan?” Mia tersenyum canggung.
“Kenapa harus kamu sendiri yang datang? Bukankah ada bagian administrasi?”
Kimi mendekat ke arah meja menjauhi Marsha, putrinya itu lantas duduk kembali ke sofa sambil mengamati gerak-gerik Kimi juga Mia. Dari apa yang dikatakan maminya, Marsha tahu bahwa wanita yang dia anggap cinta sejati Jeremy itu hendak mengambil kuliah spesialis.
“Semoga semuanya lancar, aku harap kamu bisa lulus kuliah tepat waktu dan menjadi salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini,” puji Kimi.
Senyuman tulus pun Mia berikan, dia menunduk sambil memeluk map bening berisi surat keterangan yang sudah dibubuhi tandatangan Kimi. Mia menoleh ke Marsha dan melempar senyuman ramah, hingga seorang perawat tiba-tiba menerobos masuk berkata ada pasien darurat.
Kimi pun meninggalkan Marsha dan Mia di ruangannya setelah berpamitan, dia meminta sang putri untuk pulang atau pergi kuliah karena dia pasti akan lama.
“Pulang sana, atau ke pergi ke kampus! Jangan berkeliaran ke mana-mana!”
Marsha cemberut, bisa-bisanya Kimi menasehatinya seperti itu di depan Mia yang notabene adalah pujaan hati Jeremy. Jatuh harga diri Marsha sampai ke dasar jurang. Gadis itu memalingkan muka dengan bibir komat-kamit, dia tak sadar Mia menatapnya dan tersenyum geli.
__ADS_1
“Aku pergi dulu ya, Sya.” Mia berpamitan. Karena tidak ada orang lain di sana, dia pun bersikap biasa ke Marsha.
Mia sudah hampir menutup pintu, tapi Marsha yang awalnya mengangguk saat dipamiti tiba-tiba berdiri. Ia mencegah Mia dan bertanya-
“Apa Kakak sibuk? Jika tidak, bisa temani aku mengobrol?”
Sejenak Mia nampak berpikir, hingga mengangguk mengiyakan permintaan Marsha dengan menjawab bahwa di dekat rumah sakit ada bakery yang menjual banyak roti enak.
“Apa kamu mau mencoba roti di sana sambil minum latte? Pasti akan lebih santai,” kata Mia.
Tanpa perlu berpikir, Marsha pun mengiyakan. Ia menyambar tas lalu menyusul Mia keluar dari ruangan Kimi. Gadis cantik dengan t-shirt putih dan celana jeans kasual itu bahkan melingkarkan tangan ke lengan Mia lalu tertawa lebar.
“Aku akan mentraktir kakak, aku dapat duit banyak dari kak Je,” ucap Marsha yang seketika membuat Mia kehilangan tawa.
_
_
“Aku bisa makan semua ini,” ucap Marsha dengan semangat.
__ADS_1
Benar saja dia membeli satu nampan roti sampai membuat Mia melongo. “Apa akan kamu habiskan semua kue-kue ini?” tanyanya tak percaya.
“Kak, aku belum sarapan. Jadi ini makan pagi plus makan siangku, anggap saja begitu. Makanku memang banyak, tapi entah kenapa badanku tidak gemuk-gemuk, aku sampai pernah memaksa mami untuk memeriksaku. Siapa tahu aku memiliki dua lambung,” cerocos Marsha.
Mia terbahak, dia senang karena istri dari pria yang dicintainya sangatlah lucu. Mengingat dulu dia bertemu dengan Jeremy di rumah sakit, saat pria itu menjalani konseling dengan psikiater. Jeremy mengalami tekanan karena kehilangan orangtuanya secara mendadak, dan seketika harus berubah peran menjadi kepala keluarga. Menurut Mia, Marsha bisa membuat Jeremy jauh lebih bahagia.
“Makan pelan-pelan, aku tidak akan merebut rotimu,” ucap Mia dengan nada bercanda.
“Ya, kakak tidak akan merebut rotiku tapi suamiku.”
DEG
Mia kehilangan senyum karena ucapan Marsha. Sementara gadis di hadapannya sekarang malah tertawa. Marsha sadar Mia menanggapi serius ucapannya. Ia lantas mengibaskan tangan di depan muka wanita itu, dan meminta Mia untuk tidak memikirkan perkataannya.
“Haish … Kakak jangan anggap serius, aku cuma bercanda,” ucap Marsha. Ia tersenyum sampai matanya menyipit. “Aku tidak mungkin cemburu, karena sama sekali tidak mencintainya.”
“Dia suamimu, Sya. Jadi kamu harus mencintainya,” kata Mia.
Marsha yang masih mengganggap semua itu hanya bercanda seketika terdiam. Mulutnya yang sedang memproses makanan pun berhenti bergerak.
__ADS_1
“Apa maksud Kakak?”
“Aku dan Jeremy sudah tidak ada hubungan, kami putus.”