Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 166 : Nanonano


__ADS_3

Setelah beberapa hari beristirahat, akhirnya Marsha kembali ke kampus dan mengikuti kelas seperti biasa. Morning sickness yang dialaminya sudah mereda, obat yang diresepkan dokter cukup ampuh.


“Kamu pulang sendiri?” tanya Zie saat keduanya baru saja selesai mengikuti kelas.


“Aku akan telepon Kak Je, dia janji mau menjemput,” jawab Marsha sambil merapikan buku.


Zie mengangguk kemudian mengajak Marsha keluar dari ruang kelas. Saat baru saja berjalan keluar dari gedung perkuliahan, ponsel Marsha yang berada di dalam tas terus berdering. Ia pun buru-buru mengambil benda pipih itu dan melihat nama Kimi terpampang di sana.


“Mami, aku jawab bentar ya,” kata Marsha meminta izin ke Zie.


Marsha pun menjawab panggilan dari Kimi, dia sedikit penasaran karena sang mami menghubungi.


“Halo, Mi.”


“Sya, apa kelasmu sudah selesai?” tanya Kimi dari seberang panggilan.


“Sudah, Mi. Baru saja,” jawab Marsha. “Ada apa?”


“Mami ada di parkiran, kamu ke sini ya!"


Marsha cukup terkejut mendengar perkataan Kimi, hingga menatap Zie yang masih menunggunya.


“Ada apa?”


“Mami ternyata jemput aku. Aku pulang dulu ya!"


Marsha pergi meninggalkan Zie yang melambaikan tangan. Ia berjalan cepat ke parkiran dan mencari mobil Kimi. Setelah menemukan, Marsha langsung menghampiri dan masuk.


“Sudah makan siang?”


“Belum,” jawab Marsha sambil menggelengkan kepala pelan.

__ADS_1


Kimi mengulas senyum, kemudian memacu mobil meninggalkan area kampus sang putri. Kimi ternyata mengajak Marsha makan siang ke restoran kesukaan putrinya itu. Tak perlu bertanya, Kimi langsung memesan nasi goreng kesukaan anaknya.


Marsha terus memerhatikan Kimi, merasa aneh karena maminya datang menjemput kemudian mengajak makan makanan kesukaannya.


“Apa Mami tidak ada jadwal praktik?” tanya Marsha.


“Mami sengaja mengosongkan jadwal hari ini, makanya ada waktu buat jemput kamu,” jawab Kimi.


Marsha mengangguk, dia menoleh ke kiri dan kanan mengamati resto yang memang sering dia datangi itu. Tak perlu membuang waktu, Marsha bahkan langsung menyantap nasi goreng kesukaannya sesaat setelah dihidangkan pelayan.


“Oh ya.” Kimi membuka tas lantas mengeluarkan sesuatu dari sana.


Marsha memerhatikan, hingga melihat Kimi mengeluarkan sebuah kotak dan memperlihatkan isinya. Sebuah kalung yang sangat indah ada di dalamnya.


“Ini hadiah Mami atas kehamilanmu,” kata Kimi sambil meletakkan kalung itu di meja.


Marsha tidak percaya akan mendapatkan hadiah dari maminya, dia sangat terharu mendapatkan hadiah itu sampai hampir menitikkan air mata.


“Makasih ya, Mi.” Marsha mengambil kotak itu dan mengamati kalung di dalamnya.


Marsha mengerutkan alis, dia tidak ingat dengan kejadian yang dibicarakan sang mami.


“Aku tidak ingat,” jawab Marsha.


Kimi tertawa kecil, tentu saja putrinya lupa karena kejadian itu terjadi saat Marsha masih sangat kecil.


“Waktu itu kita menghadiri pesta peresmian rumah sakit. Mami dan Papi asyik berbincang dengan kolega, sampai tidak sadar kamu hilang. Kamu tuh dulu badung sekali, hampir setiap hari membuat Mami hampir terkena serangan jantung,” ujar Kimi bercerita.


Marsha menjadi canggung karena ternyata dia senakal itu saat kecil.


“Mami dan Papi mencarimu hingga keluar gedung, lalu bertemu dengan Jeremy yang ternyata menemukanmu sedang main sendiri.” Kimi melanjutkan cerita.

__ADS_1


Marsha terkejut mendengar cerita Kimi, jadi dia dan Jeremy ternyata sudah pernah bertemu saat kecil.


Ya, saat itu Marsha masih berumur empat tahun, sedangkan Jeremy sudah remaja.


***


Sore harinya, Jeremy baru saja pulang tapi langsung ditarik Marsha dan diajak duduk di tempat tidur.


“Ada apa?” tanya Jeremy keheranan.


“Kak Je, kata Mami kita dulu sudah pernah bertemu sebelumnya. Katanya saat aku masih kecil, peresmian rumah sakit Mami. Emangnya benar?” tanya Marsha yang penasaran. “Soalnya aku lupa,” imbuh Marsha.


“Oh … malam itu. Ya benar,” jawab Jeremy santai.


“Kok aku nggak ingat.” Marsha tiba-tiba protes.


“Kamu saat itu masih kecil, sedangkan aku sudah besar, aku sudah tahu apa itu onano kamu tahunya nanonano," balas Jeremy.


“Tahu gitu sejak awal, kenapa Kakak nggak pernah cerita?” Marsha lagi-lagi protes.


“Itu nggak penting juga, buat apa diceritain. Lagi pula kejadian itu sudah sangat lama,” ujar Jeremy menjelaskan.


Mendengar Jeremy berkata jika hal itu tidak penting, membuat Marsha marah. Dia langsung berdiri dengan bibir mengerucut dan meninggalkan Jeremy.


Jeremy tentu terkejut dan heran, kenapa Marsha meninggalkannya. Gadis itu bahkan tidak kembali ke kamar, membuat Jeremy bingung dan mencari.


Saat menemukan Marsha, istrinya itu buru-buru masuk ke kamar Cantika.


“Oma, aku mau tidur di sini malam ini,” kata Marsha langsung naik ke ranjang dan berbaring di samping Cantika.


Cantika tentunya kebingungan, kenapa Marsha tiba-tiba ingin tidur di sana. Di saat bersamaan, Jeremy masuk dan menatap Marsha yang sudah berbaring. Jeremy naik ke ranjang dan berbaring di samping Marsha, hingga posisi gadis itu kini diapit oleh Jeremy dan Cantika.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kenapa kalian tidur di sini semua?” tanya Cantika keheranan.


“Ish … Kak Je pergi sana, aku lagi kesal!”


__ADS_2