
“Sudah ya, kami tinggalkan kamu di sini. Ini boleh nggak kami nyalakan apinya. Keluargamu sudah hampir datang ‘kan?”
Penculik itu bertanya pada Marsha, mereka lebih seperti bermain drama dari pada benar-benar melakukan tindak kejahatan.
“Om Pen, Om Cul, dan Om Lik, aku mohon tunggu sampai ada orang yang datang setelah itu terserah mau dinyalakan, dinyanyikan apinya aku rela,” ucap Marsha, dia memelas. Karena tidak tahu nama tiga orang yang menculiknya alhasil dia memanggil dengan nama aneh yang dibuatnya sendiri.
“Kenapa dia bisa tahu namaku Pendi?”
“Dia juga tahu kalau aku Lilik.” Penculik itu malah berbisik-bisik.
“Anehnya dia juga tahu julukannku ‘pacul’, Apa mungkin anak ini punya indera ke enam?”
Marsha tak tahu apa yang sedang dibicarakan para penculik itu, yang pasti dia harus mengulur waktu. Ia juga yakin pernikahannya dan Jeremy pasti gagal. KUA sudah tutup, satpamnya pasti sudah pulang.
__ADS_1
“Om, aku mohon! Please! aku akan mengingat kebaikan Om sekalian, beri aku nomor rekening Om, aku akan mentransfer uang sebagai ucapan terima kasih,” cerocos Marsha. “Tenang saja, ini bukan gratifikasi. Aku tidak berniat mencalonkan diri sebagai petinggi jadi tidak usah takut tertanggkap KPI, ah … salah maksudku KPK.”
Marsha menunjukkan ekspresi memelas, matanya berkedip memohon belas kasihan. Ia berharap masih ada waktu yang bisa diulur sampai papi, paman dan mungkin calon suaminya sampai ke gudang itu.
“Lagi pula Om, ini gudang siapa? kalau Om bakar kasihan yang punya.”
“Penjahat itu tidak perlu merasa kasihan pada korban, sudahlah! berdoa saja, kami akan nyalakan apinya sekarang,” kata si penculik.
“Astaga Om haruskan aku menyanyikan lagu happy birthday. Itu bukan lilin yang Om mau nyalakan tapi api.” Marsha masih terus mencoba memohon, tapi akhirnya pasrah juga saat penculik itu menjauh dari kursi tempatnya diikat.
BOOM
Api berkobar, nyalanya bahkan membuat Marsha susah membuka mata. Beruntung api itu melewati posisi Marsha berada. Ini karena aliran bensin yang dibuat penculik hanya mengitari dirinya.
__ADS_1
“Selamat …. Selamat …. Selamat,” ujar Marsha, meski begitu asap membumbung dan dia mulai terbatuk-batuk. Ke tiga penculik itu meninggalkannya. Marsha tak bisa bernapas, dia bahkan mulai sesak napas.
“Papi, Om Je, siapa pun tolong aku!” Marsha terkulai di kursi, sebelum benar-benar tak sadarkan diri, dia melihat sosok pria berlari menuju arahnya.
“Sya … Marsha, bangun!” Jeremy panik, dia bahkan juga merasakan pernapasannya sedikit tertanggu. Pria itu bergegas membuka ikatan tali Marsha, dia menggendong tubuh calon istrinya itu keluar dari sana.
“Kak, cepat lewat sini!” Rey memberi arahan, rasanya sangat panas di dalam. Ia bersyukur akhirnya Marsha bisa ditemukan meski dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Rey sepertinya dia banyak menghirup CO2.”
Rey pun mencoba menghubungi ambulan, dia ingin meminta bantuan tapi lebih dulu Richie dan keluarganya datang. Bahkan mobil pemadam langsung bergerak cepat untuk memadamkan api.
“Marsha!” teriak Kimi, dia melihat putrinya terkulai dan khawatir. Wanita itu berteriak meminta Sara memanggil ambulan dari rumah sakitnya.
__ADS_1
“Marsha! Bangun!” Kimi mencoba melakukan upaya yang bisa dia coba sebagai dokter untuk menolong putrinya. Ia bahkan mengecek denyut jantung sang putri. “Syukurlah, dia tidak apa-apa. Marsha, maafkan Mami, Maaf!” bisik Kimi, dia benar-benar menyesali perbuatannya yang bersikap keras belakangan ini. Kimi pun tak sadar bahwa Marsha sebenarnya sudah sadar.
“Aku mau tidur saja lah, capek!”