
"Jangan bicara sembarangan , Sya!"
Jeremy memperingati sang istri. Ia melotot sebelum membetulkan celananya yang melorot.
Marsha yang sadar bahwa ucapannya mungkin saja salah dan menyakiti, memilih memukul bibirnya dua kali lalu meminta maaf, dengan manis gadis itu berkata-
"Maaf kak Je, aku janji tidak akan bicara sembarangan lagi."
Jeremy menyambar pergelangan tangan Marsha, dia mencegah gadis itu memukul bibir lagi.
"Jangan lakukan itu, jangan pukul bibirmu!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan ke bibir yang berucap jahat seperti tadi?" Tanya Marsha.
Mata gadis itu mengedip beberapa kali, dia menelan ludah karena merasa salah bicara. Pipinya seketika merona merah begitu juga dengan Jeremy yang langsung menunduk dan meminta Marsha membantunya keluar kamar.
Dua orang itu terlihat sama-sama canggung, hingga Marsha mencoba mencairkannya dengan rasa terkejut yang berlebihan karena tak melihat Zie di sana.
__ADS_1
"Kemana anak itu? Jangan-jangan dia berkeliaran ke mana-mana, bagaimana kalau dia nyasar sampai kamar jenazah?" cerocos Marsha.
"Bilang jenazah lagi, aku kunci kamu di kamar mandi," ancam Jeremy.
Marsha memajukan bibir, dia memilih bungkam dari pada Jeremy marah-marah lagi.
Zie yang dicari oleh Marsha ternyata benar-benar ikut Mia ke kantin rumah sakit. Ia menikmati traktiran bakmi yang dimaksud oleh mantan kekasih Jeremy itu.
"Jangan pikir kakak bisa membuatku lupa dengan kekesalanku hanya karena semangkuk bakmi," ucap Zie. "Kenapa kakak bisa bersama suami temanku di kafe itu, apa kakak sejenis valakor? Setan yang suka merebut suami orang?" tanyanya.
***
Di kamar perawatannya, Jeremy yang sudah duduk kembali di atas ranjang mengirimkan pesan ke Mia. Ia memberitahu bahwa semua orang mungkin akan curiga dengan hubungan mereka, jadi sebagai langkah antisipasi, dia meminta gadis itu menjawab sesuai dengan perintahnya.
[ Katakan bahwa kita teman lama, aku tidak ingin sampai kamu mendapat masalah ]
Mia diam-diam membaca pesan itu di bawah meja, hatinya terasa diiris tapi juga sadar bahwa ini memang jalan terbaik yang harus diambil. Ia memulai senyum untuk menyemangati dirinya sendiri sebelum membalas pesan Jeremy.
__ADS_1
[ baik, bagaimana kead... ]
Mia terdiam cukup lama, jemarinya yang hampir menuliskan pesan seketika berhenti. Ia pun menghapus pesan yang sudah ditulisnya untuk menanyakan kondisi Jeremy, lalu menggantinya dengan sebuah kalimat yang cukup diplomatis.
[ Baik, aku akan melakukannya ]
Mia merasa hubungannya dan Jeremy benar-benar sudah berakhir, meski belum ada kata putus, tapi tanpa penegasan pun dari pembicaraannya dan pria itu sudah menjurus ke sana.
Mia lega, meski hatinya sakit tapi setidaknya Jeremy kini tidak akan lagi memikirkan hubungan mereka. Ini yang dia mau dan memang pilihan yang terbaik.
Namun, hubungan rumit di antara mereka tidak akan bisa dengan mudah putus begitu saja. Mia lupa bahwa selain dirinya ada Andro yang juga tahu kesepakatan antara Jeremy dan Marsha. Andro diam-diam juga menyusun rencana, dia tidak ingin begitu saja kehilangan sumber cuannya. Meski Marsha sudah tak begitu peduli, tapi kartu mati gadis itu ada padanya.
"Ada masalah apa kamu dengan Marsha? Tidak bisakah kamu membuatnya lengket seperti dulu lagi?"
Pria bernama Galaksi yang tak lain adalah ayah Andro terdengar sedang mengompori sang putra. Andro yang baru akan pergi kuliah pun nampak memakai sepatu sambil mendengarkan ucapan pria itu.
"Dia tahu selama ini aku hanya memerasnya. Papa pikir untuk apa aku bekerja di kafe? Semua itu untuk membuatnya percaya dan bersimpati ke aku lagi," jawab Andro. Ia berdiri kemudian mengambil tasnya dari kursi. "Papa tenang saja, aku yakin dia masih memiliki rasa ke aku."
__ADS_1