Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 159 : Tes


__ADS_3

‘Kenapa takut? Kamu sudah punya suami, ibumu dokter, pemilik rumah sakit. Kamu pasti akan menjalani masa kehamilan dengan tenang’


Marsha mengingat kalimat penyemangat yang diberikan oleh Zie tadi. Ia takut memberitahu Jeremy tentang kemungkinan bahwa dia sedang hamil. Marsha sendiri tidak tahu dan tidak mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukan uji kehamilan.


Jadi, kini dia sedang duduk di atas closet. Marsha sudah menurunkan celana berendanya sampai ke lutut tapi tiba-tiba bingung.


“Seharusnya aku membaca petunjuknya sebelum buka-bukaan.” Marsha merutuki kebodohannya. Ia mengambil kembali plastik tespek yang sudah dibuang ke tempat sampah lalu membaca petunjuk di bagian belakang.


“Tampung urine… “ Marsha membaca lalu melihat sekeliling, dia mencari barang yang bisa digunakan untuk menampung air seninya.


Kebetulan ada gelas yang biasa digunakan Jeremy untuk menampung air saat gosok gigi, tanpa pikir panjang Marsha memutuskan menggunakan gelas itu.


Jantung Marsha berdebar, alam bawah sadarnya masih saja membuat dia ketakutan. Masih muda, masih punya masa depan panjang tapi memiliki bayi.


“Sudahlah Marsha! Apa yang kamu takuti. Kamu punya suami kaya raya, tidak bekerja pun kebutuhanmu tercukupi. Kamu anak tunggal, warisan papi dan mami mau jatuh ke tangan siapa kalau bukan ke tanganmu? Ingat Marsha kamu itu pewaris bukan perintis.”


Marsha berbicara panjang sambil menunggu cairan naik sampai ke batas yang tertera pada tespek. Ia meletakkan tespek itu ke wastafel dan membuang air seni di dalam gelas tanpa mencuci gelasnya.

__ADS_1


Setelah beberapa detik, Marsha meneguk saliva karena dua garis merah tercetak di sana, menandakan bahwa dirinya memang sedang hamil.


“Wah … aku hamil betulan, bagaimana ini?” Marsha terbeku dia memasukkan hasil tes itu ke dalam kantung piyama karena dari luar terdengar suara Jeremy memanggil.


“Marsha!”


“Ya kak, aku di kamar mandi.”


Marsha keluar, dia tersenyum canggung lalu mendekat dan membantu Jeremy melepaskan dasi. Gerak-geriknya berbeda, dia tak banyak bertanya hingga membuat Jeremy curiga.


“Kenapa? ada apa? apa ada yang membuat buruk harimu?”


Marsha menyandarkan punggung ke headboard ranjang, dia bingung bagaimana mengatakan ke Jeremy bahwa dia baru saja melakukan uji kehamilan dan hasilnya positif.


Sementara Marsha masih sibuk berpikir, Jeremy merasa heran kenapa gelas yang biasa dia pakai untuk menampung air saat gosok gigi tak berada di tempat semestinya. Ia tak berpikir macam-macam, hingga pintu kamar mandi di gedor berulang dari luar.


Dengan sikat yang ada di dalam mulut, Jeremy membuka pintu. Keningnya berkerut mendapati Marsha memasang muka takut.

__ADS_1


“Apa kakak menggunakan gelas itu?”


Marsha berharap Jeremy berkata tidak, tapi dengan santai pria itu mengangguk. “Yah, seperti biasa,”jawab Jeremy meski sedikit tidak jelas.


“Kak, aku tadi menampung pipis dengan itu.”


“Apa?”


Sikat gigi di tangan Jeremy terlepas. Ia melotot tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Marsha.


“Aku sudah terlambat datang bulan, Kak. Dan aku tadi mual-mual di kampus jadi aku melakukan tes.”


“Jadi, bagaimana hasilnya?”


“Kakak bilas dulu mulut kakak,” ucap Marsha.


Jeremy yang bersemangat melakukan apa yang diminta sang istri. Ia begitu antusias ingin mendengar hasil tes Marsha sampai tak menyelesaikan mandinya. Dia melilitkan handuk lalu mendorong pelan Marsha sampai terduduk di ujung ranjang.

__ADS_1


Gadis itu merogoh tespek dari kantung piyama lalu menunjukkan hasilnya. “Aku hamil!”


“Mati aku!” kata Jeremy lantas menepuk jidatnya.


__ADS_2