
Bak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, Marsha pagi itu terlihat bahagia. Ia tersenyum sambil melirik Jeremy yang sejak tadi menatapnya dengan senyuman manis.
Suasana sarapan di kediaman mewah Cantika pun menjadi agak aneh, karena dua orang itu seolah menganggap neneknya, Rey juga pembantu hanya penumpang gelap di dalam indahnya kapal pesiar megah milik mereka.
Jeremy memberikan roti miliknya yang sudah dioles selai cokelat spesial ke piring Marsha. Baik Cantika dan juga Rey mengerutkan kening, apa lagi Marsha tertawa kecil lalu mengucapkan terima kasih dengan sangat manis ke Jeremy.
Meski memiliki perasaan terpendam ke Marsha, tapi Rey ikut senang melihat gadis itu bersikap seperti ini ke sekarang. Senyuman Marsha sudah cukup membuatnya bahagia.
Semalam, memang terjadi sesuatu di antara Jeremy dan Marsha. Namun, jelas bukan hal berbau plus dua satu yang ditunggu oleh warga Wakanda.
Jeremy dan Marsha hampir dua jam bercerita tentang masa lalu masing-masing, bukan hanya sekadar cerita biasa, mereka berbicara sambil saling memeluk, mengecup bibir bahkan kening. Marsha sudah terjerat oleh pesona Jeremy, sedangkan om-om itu sepertinya juga mulai melekat ke sang istri yang bahkan belum punya pemikiran dewasa.
_
_
"Kakak yakin mau berangkat bekerja? Tidak di rumah saja dulu seminggu lagi?"
__ADS_1
Marsha seolah masih tak Ikhlas membiarkan Jeremy berangkat bekerja. Dia bahkan mengeluarkan jurus cemberut agar sang suami mengurungkan niat.
"Iya, aku sudah lama diam di rumah, aku harus bekerja untuk menghidupimu dan calon anak kita nanti."
"Ah... Kak Je."
Marsha reflek memukul lengan Jeremy lantas menutup muka dengan telapak tangan.
"Anak apa? diproses aja belum," imbuhnya.
Jeremy terang saja malu, dia berdehem lalu menoleh ke kiri dan kanan, beruntung tidak ada orang di sekitar tempatnya dan Marsha berdiri sekarang. Bisa celaka jika ada yang tahu dia tidak memberi nafkah batin istrinya.
Jeremy mengulum bibir setelah mengucapkan kalimat itu. Dia dan Marsha saling pandang, hingga rasa canggung menyeruak di dalam dada masing-masing membuat pipi Marsha semakin merah bak kepiting rebus. Jeremy yang menyadari itu pun mengusap bagian atas kepala sang istri sebelum mendaratkan kecupan di kening dengan sangat mesra.
"Aku berangkat ya!"
"Hati-hati!"
__ADS_1
Rasanya Marsha ingin melompat karena terlalu senang. Ternyata menyukai seseorang tanpa perlu takut dengan pemikiran orang lain semenyenangkan dan sebebas ini. Jika saja dia dan Jeremy sudah bisa membuka hati sejak lama.
(Jika saja level novel ini bagus dan manusiawi, tentu saja markonah sudah sejak lama membuat kalian bahagia, tanpa perlu mendengar hujatan dari pembaca)
Marsha membuang napas kasar, dia pun memiliki sebuah ide cemerlang. Gadis itu bergegas kembali ke kamar untuk membaca beberapa materi kuliah. Senin depan dia ujian, sedangkan Sabtunya dia harus pergi berkencan dengan Jeremy.
"Siang ini aku akan menemui kak Je di kantor, aku akan membuatkannya makan siang yang bergizi lalu mengantarkannya," gumam Marsha. ia bersenandung riang hingga membuat Cantika semakin curiga.
-
[ Nov, entah apa yang terjadi tapi Marsha terlihat sangat bahagia pagi ini ]
[ Mungkin saja dia baru diberi asupan gizi oleh Jeremy ]
Cantika tertawa membaca balasan pesan dari Nova. Ia pun meyakini bahwa ramuan ibu perang yang diberikannya ke Marsha memang memiliki dampak besar ke dalam keharmonisan rumah tangga.
[ Bukannya kebalik, yang dapat asupan gizi Jeremy? ]
__ADS_1
Cantika cekikikan, duo nenek girang itu selalu saja bersemangat jika membahas tentang cucu-cucu mereka.