Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 124 : Menyesali Ucapan


__ADS_3

“Marsha.”


Kimi berlari menghampiri putrinya. Marsha baru saja melepas Jeremy masuk ke ruang UGD. Tangannya yang berlumuran darah nampak gemetar. Kimi benar-benar merasa de javu, seolah melihat dirinya dulu yang sedang ketakutan karena Richie juga hampir celaka.


“Mami!”


Marsha semakin terisak. Ia peluk Kimi dengan tangan yang terkulai di sisi tubuh. Ia benar-benar takut setengah mati melihat Jeremy pucat dan tak sadarkan diri.


“Mami, Kak Je akan baik-baik saja ‘kan? di-di-dia banyak mengeluarkan darah,” ucap Marsha dengan suara tercekat.


Kimi tak bisa menjawab pertanyaan putrinya karena dia belum melihat bagaimana keadaan Jeremy. Saat masih menenangkan Marsha, seorang perawat nampak berlari keluar dan membuat Marsha semakin panik.


“Mami, kenapa perawat berlarian seperti itu?” teriak Marsha. “Aku tidak akan bisa hidup kalau sampai Kak Je kenapa-napa, Mi.”


Marsha malah semakin meraung, Zie yang tahu kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja memilih memeluk dan mengusap punggungnya berulang. Hingga tiba-tiba saja Marsha ambruk. Beruntung Kimi memegang tangan dan Zie membantu menyokongnya dari belakang.


“Sya, kamu kenapa?” ucap Zie katakutan mendapati sahabatnya pingsan.

__ADS_1


Kimi pun memanggil perawat untuk membantu membopong putrinya ke UGD. Marsha pun dibaringkan di bilik terpisah dengan Jeremy yang sedang mendapat perawatan.


“Dokter luka tusuknya tidak dalam, tapi sepertinya mengenai pembuluh darah,” ucap Mia.


Kimi agak heran melihat mata gadis itu sembab. Namun, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal lain. Keselamatan menantunya jelas yang paling utama. Kimi menyerahkan Marsha ke dokter jaga dan Zie, sedangkan dia langsung meminta disiapkan ruang operasi darurat untuk Jeremy.


-


Beberapa menit kemudian, Marsha bangun. Samar dia melihat wajah Zie yang duduk di sampingnya. Gadis itu berteriak memanggil perawat saat melihat sang sahabat membuka mata. Zie menggenggam erat tangan Marsha, bersyukur sahabatnya itu akhirnya siuman.


“Dia sedang menjalani operasi.”


“Operasi? Kenapa dia harus dioperasi? Apa pisau itu melukai organ tubuhnya?” Marsha langsung bangun, dia membuat dokter jaga dan perawat yang datang sampai mundur karena kaget.


“Entah aku tidak tahu, tapi dia sudah berada di bawah penanganan dokter yang tepat. Kamu jangan cemas, jangan pingsan lagi aku takut.”


Zie meraih tangan Marsha, mengguncang pelan sampai temannya itu berkata ‘iya’. Namun, Marsha hanya diam. Air matanya yang sempat berhenti menetes lagi membayangkan peristiwa penusukan yang dialami oleh suaminya.

__ADS_1


Marsha termenung, hingga bergumam dalam hati. Ia berjanji akan menuruti apapun keinginan Jeremy jika pria itu sembuh nanti. Marsha merasa sangat berhutang budi, juga ada perasaan aneh di dalam hatinya. Ia benar-benar takut jika sesuatu yang buruk menimpa sang suami.


“Zie aku mau menunggu di depan ruang operasinya,” ucap Marsha. Ia menurunkan kaki dan tak peduli dengan kebingungan dokter juga perawat yang ada di sana.


Sebagai anak dari pemilik rumah sakit, tidak ada seorang pun yang berani menghalangi Marsha. Akan tetapi gadis itu benar-benar kehilangan kewarasan, dia meninggalkan tasnya yang robek terkena tusukan juga sepatunya. Marsha berjalan bertelanjang kaki mencari di mana ruang operasi Jeremy.


“Lihat dia! Apa dia masih bisa bilang tidak memiliki perasaan ke Om Je, dasar!” gerutu Zie. Ia memungut sepatu sang sahabat, menenteng tas Marsha lalu berlari menyusul.


Marsha berjalan di lorong mencari ruang operasi, dia menoleh ke kanan dan kiri sampai sebuah suara memanggil namanya. Gadis itu menghentikan langkah, dia melihat Rey dan Cantika duduk di depan ruangan yang dia cari.


“Kak Rey,” lirih Marsha.


Langkah kakinya semakin cepat, hingga dia menangis lagi di pelukan sang adik ipar. Marsha berkata semua ini salahnya. Ia banyak memiliki musuh sampai selalu menjadi incaran penjahat.


“Jangan bicara seperti itu! Papi dan pamanmu sedang mencari tahu siapa pria itu. CCTV kafe tempat kejadian merekam gerak-gerik pria itu,” ujar Rey.


“Kak Rey aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk sampai terjadi ke suamiku,” ucap Marsha. Ia menyebut Jeremy dengan kata suami.

__ADS_1


__ADS_2