Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 139 : Resmi Pacaran


__ADS_3

Marsha duduk di tepian ranjang, mengayunkan kaki ke depan dan belakang hingga tumit sesekali membentur dipan. Dia memandang pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka, hingga kemudian menghela napas kasar.


“Kenapa dia lama sekali di kamar mandi?” Marsha bertanya-tanya sendiri, bibirnya mengerucut menanti Jeremy yang tidak kunjung selesai.


Hingga tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Marsha langsung melompat dan berdiri dengan tegap saat melihat Jeremy keluar.


Jeremy menatap heran ke arah Marsha yang tersenyum kepadanya, hingga gadis itu menarik tangannya dan mengajak ke ranjang.


“Biar aku lihat luka kakak lagi,” kata Marsha.


Marsha memaksa Jeremy untuk berdiri tegak seperti biasa, hingga membuka perlahan kaus bagian bawah yang dikenakan Jeremy. Setelah memastikan perban luka itu tidak basah, Marsha pun lantas menurunkan lagi ujung kaus milik sang suami.


Jeremy tidak memprotes hal yang dilakukan Marsha karena sudah biasa, dia lantas memilih duduk di samping gadis itu.


“Aku sudah tidak apa-apa, tidak perlu lagi mengeceknya setiap habis mandi,” ucap Jeremy dengan dahi berkerut halus.


“Hanya berjaga-jaga, mana tahu kakak kebanyakan gerak, kemudian lukanya terbuka lagi. Kita kan nggak tahu,” balas Marsha yang bicara dengan cepat seperti kereta ekspres yang tidak bisa dihentikan.


Jeremy menghela napas kasar, suka-suka gadis itu sajalah, dirinya juga tidak ingin berdebat.

__ADS_1


“Aku sebenarnya ingin bicara serius ke kakak,” ucap Marsha.


Jeremy kembali menatap Marsha, setelah sempat ingin berdiri mengembalikan handuk yang melingkar di leher.


“Bicara serius? soal apa?” tanya Jeremy kebingungan.


“Soal tawaran kakak yang mengajak aku pacaran," ucap Marsha.


Jeremy cukup terkejut dengan apa yang Marsha katakan, tapi jujur saja di dalam hati pria itu begitu senang karena sang istri sendiri yang memulai membahas hal ini.


"Hem ... bagaimana?"


Jeremy tersenyum lebar, hatinya merasa berbunga-bunga karena Marsha mau menerima idenya untuk berpacaran.


Marsha melebarkan senyum, hingga tiba-tiba mengangkat telunjuk tepat di antara wajahnya dan sang suami.


“Tapi, aku punya persyaratan,” kata Marsha.


Jeremy lagi-lagi mengerutkan dahi, seharusnya dia tidak senang dulu, dia lupa bahwa yang dia ajak berpacaran adalah istrinya yang masih bocah.

__ADS_1


“Katakan!” perintah Jeremy.


“Syarat pertama, kakak wajib bertanya ke aku sudah makan apa belum, sebanyak tiga kali sehari,” ucap Marsha mulai mengabsen apa yang diinginkannya.


Jeremy awalnya merasa syarat yang diajukan Marsha sangat aneh, bukankah tiga kali sehari terlihat seperti sedang minum obat. Namun, meski demikian dia mengangguk tanda menyetujui syarat Marsha.


Gadis itu tersenyum senang, lantas kembali memperlihatkan jari tengah, hingga kini dua jari yang ditunjukkan olehnya.


“Syarat kedua, setiap Sabtu malam Minggu, wajib berkencan. Entah kita jalan-jalan, nongkrong, nonton bioskop, atau keluar. Pokoknya wajib kencan.” Marsha bicara sambil memberikan sedikit penekanan.


Jeremy menghela napas kasar, tapi kemudian mengangguk begitu saja tanda setuju.


"Oke princess aku akan memenuhi syaratmu,"kata Jeremy sambil mengangguk dan memegang dua jemari sang istri.


Marsha terlihat begitu senang mendapat persetujuan dari Jeremy, rasanya tidak percaya bisa sangat mudah membuat sang suami mengiyakan syaratnya.


“Jadi … apa kita resmi pacaran?” tanya Jeremy sambil menyingkirkan jari Marsha yang masih dia genggam.


“Tentu, kakak sekarang jadi pacarku dan aku pacar kakak," kata Marsha.

__ADS_1


Mendengar ucapan Marsha barusan Jeremy pun menggeleng, pria itu mendekatkan wajah lantas berkata, "Hei, kita suami istri tahu! kenapa kamu terus melupakan hal yang satu itu? catat dan ingat di otakmu MRT, kita suami istri!"


__ADS_2