Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 17 : Makan Malam


__ADS_3

Makan malam keluarga yang direncanakan oleh Jeremy pun tiba, Marsha malam itu sangat cantik dengan gaun berwarna pink selutut, sedangkan Jeremy, pria itu memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Terlihat begitu keren. Ia meminta maaf karena baru saja selesai menghadiri sebuah jamuan sehingga penampilannya sedikit berantakan.


“Berantakan dari mana, pembohong. Mukanya saja masih tampak segar,” gerutu Marsha. Ia menenggak air dari gelas sambil memalingkan muka.


Jeremy yang tahu kalau gadis itu menggerutu pun memilih untuk abai, dia sunggingkan senyum di hadapan Richie dan Kimi yang nampak serasi. Orangtua Marsha itu jelas lebih pantas menjadi kakaknya dari pada mertua.


“Bisnismu sepertinya semakin maju, aku bahkan melihat saham J air naik banyak hari ini,” ucap Richie. Jika harus basa-basi membicarakan bisnis jelas pilihan yang tepat.


“Saya anggap sebagai pujian,” jawab Jeremy dengan sopan.


“Tidak perlu terlalu formal, kamu bisa memakai kata aku dan kamu juga bisa memanggilku papi seperti Marsha.”


“Uhuk … uhuk … “ Marsha terbatuk-batuk, dia bahkan menyambar serbet dan menutup mulut. “Dagingnya nyangkut di tenggorokan,” ucapnya membela diri.


Semua orang pun tersenyum melihat tingkah gadis itu, hingga Jeremy menukar piringnya dengan milik Marsha. Gadis itu sontak saja kebingungan, hampir saja Marsha gede rasa, tapi dia sadar semua ini jelas hanya pencitraan.


“Pelan-pelan saja makannya,” ucap Jeremy sambil menyodorkan steak miliknya yang sudah terpotong.

__ADS_1


“Terima kasih.” Marsha memasang muka datar, meski begitu semua orang yang berada di sana merasa mereka sangatlah serasi. Jeremy tampan dan Marsha cantik, perbedaan usia tak nampak jelas di antara mereka.


Orang-orang itu menikmati makan malam sambil bercengkerama, sampai Jeremy meletakkan garpu dan pisau untuk menyampaikan maksud dan tujuannya mengundang makan malam.


“Pak Richard, saya ingin menikahi putri Anda.”


Marsha mengatupkan bibir, tak dia sangka Jeremy benar-benar akan melamarnya langsung di depan orangtua, omano dan neneknya. Dua wanita tua itu bahkan langsung bergandengan tangan. Jika tak malu, Nova dan Cantika pasti sudah menyanyikan lagu gembira dan bertepuk tangan. Keinginan mereka akhirnya akan terwujud sebentar lagi.


“Kita sudah tahu apa yang terjadi dan menikahkan kalian sepertinya memang pilihan terbaik, kalian bisa menikah setelah usia Marsha legal untuk menikah,” jawab Richie.


“Astaga, gercep sekali pria ini. Apa yang sebenarnya membuat dia ngebet sama aku. Jangan-jangan dia sudah jatuh cinta,” gumam Marsha dalam hati.


“Dekat dengan Marsha memberi energi tersendiri bagiku, lagi pula menikah adalah ibadah, maka tidak perlu ditunda lama-lama.”


Nova dan Cantika semakin girang, mereka tak menyangka Jeremy akan memberikan alasan sedalam ini. Padahal pria itu sejatinya hanya takut kesialan menerpanya lagi. Diam-diam sebuah proyek besar Jeremy pertaruhkan, jika kesialan terus menimpanya bisa jadi dia akan kehilangan kesempatan emas melebarkan sayap perusahaan. Maka dari itu Marsha yang sudah dia anggap jimat hidup harus segera dimiliki, Jeremy tidak ingin kesialan menimpanya kali ini.


“Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin membiarkan kalian menikah jika umur Marsha belum memenuhi syarat, bisa-bisa aku dipikir menjual anakku sendiri.” Ucapan Richie sontak membuat semua orang menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Perusahaanmu sedang moncer-moncernya, semua orang pasti berpikir pernikahan ini hanya pertukaran bisnis.”


Baik Jeremy dan Marsha sama-sama menelan saliva, ada rasa getir yang merayap di dada, bagaimana jika Richie tahu kalau mereka menikah hanya untuk kepentingan masing-masing.


“Apa aku boleh bicara?” Marsha mengangkat tangan kanan seperti menginterupsi. Ia membenarkan posisi duduknya setelah Richie dan Jeremy mengangguk hampir bersamaan.


“Bukankah ada yang namanya nikah siri?”


Semua orang melongo, Kimi bahkan sampai menjatuhkan garpu. “Ba-ba-bagaimana bisa anak ini berpikir sampai ke sana?”


_


_


_


bersambung

__ADS_1


__ADS_2