
Setelah berdebat dengan calon istrinya, Jeremy pamit pulang. Sepanjang perjalanan dia sibuk memikirkan alasan, kenapa belakangan ini dia tidak suka melihat Marsha dekat atau didekati pria lain. Dia juga heran, bagaimana bisa pria dewasa sepertinya bisa terjebak perasaan galau layaknya remaja. Jeremy masih bingung mengartikan perasaannya sendiri. Namun, ada satu hal yang Jeremy yakini. Dia percaya bahwa perasaan sang adik ke Marsha bukanlah rasa suka apalagi cinta.
“Ya, Rey tidak mungkin menusukku dari belakang,” gumamnya. “Ah … sialan!” umpat Jeremy setelah sadar. “Kenapa bisa aku berpikir seperti itu, Rey menusukku? Sudah gila,” lanjutnya.
Dua puluh menit kemudian, Jeremy nampak masuk ke dalam gerbang rumah. Ia bergegas memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam. Tempat pertama yang dia tuju adalah mini bar. Berharap bertemu dengan Rey tapi nyatanya sang adik kesayangan tidak ada di sana. Jeremy berjalan menuju halaman belakang, saat berpapasan dengan pembantu dia pun bertanya keberadaan sang adik.
“Mas Rey ada di kolam renang.”
Setelah menerima informasi itu, Jeremy pun mengayunkan langkah. Ia melihat Rey duduk di pinggir kolam dengan kaki terendam, pemuda itu menatap layar ponsel sibuk memandangi foto yang dia ambil di pesta ulang tahun Marsha tadi, tapi saat melihat bayangan mendekat Rey langsung mengalihkan ke akun sosial medianya, berpura-pura sedang stalking akun selebgram ibu kota.
“Belum tidur?” tanya Jeremy.
Rey menoleh dan menatap heran, dia balas bertanya ke sang kakak, “Memang aku bayi jam segini sudah tidur.”
__ADS_1
Jeremy tergelak, dia yang sudah ikut duduk di samping Rey memukul lengan sang adik gemas. Mereka pun tertawa tapi kemudian terdiam, seperti bisa menebak isi pikiran masing-masing.
Jeremy penasaran kenapa Rey memberikan hadiah mahal ke Marsha, sedangkan Rey merasa tak enak hati karena belum bercerita ke Jeremy membelikan hadiah cukup mewah ke calon kakak iparnya.
“Marsha tadi pamer, dia bilang kamu memberinya hadiah mahal.” Jeremy akhirnya memilih menyampaikan apa yang sedang dia pikirkan. Membuat semuanya clear memang tujuannya. Ia ingin melihat apakah Rey menaruh rasa ke Marsha.
Rey tersenyum dan mengangguk, dia tak menyangka gadis itu memamerkanl hadiah yang dia berikan. “Dia calon kakak iparku, terlebih dia baik dan menghibur, tentu saja aku harus memberinya hadiah yang pantas.”
“Menghibur? Memang apa yang dia lakukan sampai kamu merasa terhibur?” selidik Jeremy, dia bahkan menyenggol kaki Rey yang ada di dalam air.
Jeremy menipiskan bibir, dia merasa Rey menganggap Marsha manis padahal gadis itu bagai iblis. Di dalam hati Jeremy mencibir ucapan calon istrinya kepada sang adik.
“Dia bahkan memintaku menganggap om Richard dan tante Kimi seperti ornagtua kandung, dia bahkan memintaku memanggil orangtuanya papi dan mami seperti yang kakak lakukan.”
__ADS_1
Kening Jeremy berkerut, dia tidak suka dengan yang satu ini. Ada perasaan iri yang tiba-tiba muncul di hati. Dia berpikir seharusnya Marsha tidak meminta Rey melakukan itu, panggilan papi dan mami terasa sangat spesial baginya.
“Ya panggil saja mereka mami dan papi.”
Meski merasa sedikit tak terima, tapi yang meluncur dari bibir Jeremy malah persetujuan bagi Rey.
Di dalam benak pemuda berumur dua puluh dua tahun itu, sang kakak tidak keberatan jika dia memanggil orangtua calon kakak iparnya dengan sebutan papi dan mami. Jeremy kembali gelisah, dia merasa seperti seorang munafik di mana hati dan lisan berbeda.
Hingga lagi-lagi kemunafikannya diuji saat ponsel Rey berbunyi. Nama Marsha terpampang di layarnya dan membuat Jeremy menatap tak percaya.
Rey pun tesenyum, dia mengangkat paggilan itu di depan Jeremy karena merasa tidak ada dusta di antara dirinya dan sang kakak.
Marsha berucap dari seberang panggilan,“Kak Rey, besok kuliahku ditiadakan, hanya ada tugas dan dikumpulkan di hari berikutnya, jadi aku bisa menemani kakak.”
__ADS_1
“Menemani? Kemana?” tanya Jeremy mendengar sang adik dan Marsha memiliki rencana.