
Marsha cemberut, dia melakukan aksi bungkam karena kesal ke Jeremy. Pria yang menjemput dan sedang mengantarkannya pulang setelah kencan di kafe tadi juga tak kalah masam. Jeremy tidak menyangka Marsha bisa dengan berani berciuman dengan Andro seperti tadi.
“Kan hanya pipi,” sangkal Marsha saat diberondong nasihat oleh Jeremy.
“Iya pipi tapi jika tidak ada mata yang melihat bisa saja kamu memberikan bibir atas bawah.” Jeremy keceplosan. Mukanya berubah menjadi merah karena baru saja mengucapkan sesuatu yang berbau dua satu di otaknya, sedangkan Marsha berpikiran tak sama.
“Memang ada orang ciuman bibir atas doang? Itu namanya bukan ciuman tapi nyangkut.”
Jeremy menggeleng, dia lirik Marsha dengan penuh rasa kesal sebelum fokus menatap ke depan. Karena kejadian tadi dia memilih menarik gadis itu untuk pulang. Meski ingin membiarkan Marsha bertingkah seenaknya, kenyataannya Jeremy tidak bisa. Ada beban moral di pundaknya untuk menjaga putri Richard Tyaga itu.
__ADS_1
“Ah … apa jangan-jangan Om cemburu?” tuduh Marsha yang terang saja membuat Jeremy kaget. Pria itu menginjak pedal rem dalam-dalam dan membuat tubuh Marsha condong ke depan. “Nah … kan, apa Om mau mencelakaiku?” omelnya. Namun, tak lama Marsha terbungkam dan memekik kesakitan saat Jeremy menjentik jidatnya.
“Agh …. Kekerasan pra nikah ini namanya.” Tak tinggal diam Marsha memukuli lengan Jeremy membabi buta hingga pria itu harus sampai merapatkan badan ke arah pintu.
“Kamu juga melakukannya tau, apa kamu tidak sadar? Sakit tanganku woi!” bentak Jeremy. Ia melepaskan sabuk pengaman lalu mencekal tangan Marsha. Alhasil mereka saling tatap dan tiba-tiba sama-sama merasa canggung.
Jeremy menghempaskan tangan Marsha, lantas kembali melajukan mobil sambil memasang kembali sabuk pengaman. Sementara gadis di sebelahnya memilih membuang muka ke arah jendela. Marsha berdehem untuk menetralkan rasa yang kurang nyaman di dada.
“Kamu pikir segampang itu? aku yang mengajakmu pergi, jika sampai terjadi hal yang buruk padamu siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban, Ha?” sewot Jeremy. Nada suaranya agak membentak kali ini, dia berhasil membuat Marsha sampai bergidik ngeri.
__ADS_1
“Astaga apa orang yang sudah tua memang suka sekali marah-marah? apa tidak takut terkena hipertensi?” cicit Marsha, dia geleng-geleng kepala tanpa mau menoleh ke arah Jeremy. “Memang kalau ciuman itu langsung bisa hamil? ha? aku juga belajar biologi Om, hal itu hanya bisa terjadi kalau denis masuk ke vagini.”
“Apa?” Jeremy melongo tak percaya, tapi Marsha malah menganggap pria itu tidak paham dengan kata plesetan yang baru saja dia ucapkan.
“Haruskah aku mengatakan nama dua organ itu dengan gamblang?” Marsha memutar bola matanya malas dengan nada suara geram.
“Ah … aku lama-lama bisa masuk RSJ karena berdebat denganmu,” kata Jeremy. Sebagai pria dewasa, ganteng, berwibawa, otaknya mengatakan untuk tidak membalas lagi ucapan calon istrinya itu. Marsha hendak membuka mulutnya lagi, tapi Jeremy membungkamnya lebih dulu dengan melajukan mobil sampai kecepatan seratus kilometer per jam.
“Astaga! apa Om ingin pindah alam? Pelankan mobilnya!” teriak Marsha ketakutan
__ADS_1