
“Ini hotel bintang lima atau wahana rumah hantu sih, kok horor,” celoteh Marsha. Ia berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher. Sedangkan Jeremy sibuk sendiri dengan ponselnya.
Baik Jeremy dan Marsha sepakat untuk tidak melakukan provokasi, guna menghindari adanya kemungkinan bentrok berujung kericuhan dan tawuran.
Namun, bukan Marsha namanya jika tidak jahil. Ia putar badannya menghadap Jeremy lalu berucap lagi.
“Oh … jelas saja horor, setannya ada di sini.”
Ocehan Marsha sukses membuat Jeremy menghentikan jarinya yang sibuk menuliskan pesan ke Mia. Ia memang berniat menemani kekasihnya itu sampai pagi, dengan cara berbalas pesan. Mia sedang berjaga di UGD, tapi selain itu Jeremy juga seperti ingin meyakinkan sang kekasih, bahwa tidak akan terjadi apa-apa malam itu di antara dirinya dan Marsha.
“Bisa tidak jangan berisik? kamu itu benar-benar mengganggu. Sana nonton kutube atau stalking media sosial temanmu,” kata Jeremy sambil membuat gerakan mengusir Marsha.
“Jika saja Andro ada, tapi dia sekarang sedang sibuk bekerja di kafe sebagai pelayan. Semua itu dia lakukan demi menunjukkan ke aku, kalau sudah tidak matre lagi.”
Jeremy tersenyum mencibir sambil mengedikkan bahu, dia akhirnya menyimpan ponsel ke nakas, karena Mia berkata ada pasien kecelakaan masuk ke UGD.
__ADS_1
“Kamu ternyata masih percaya pada cowok mata duitan itu.”
“Ya, seperti Om yang percaya ke kak Mia, aku juga percaya ke Andro,” Jawab Marsha dengan nada sindirian di kalimatnya.
“Menurut Om apa ada di zaman sekarang pria dan wanita berkencan hanya berdasarkan cinta? Tidak mungkin. Aku mau berpacaran dengan Andro juga karena dia tampan, aku bahkan ingin mendorongnya menjadi anggota boy band,” imbuh putri tunggal Richie itu jemawa.
“Brrttt …. boy band, dia lebih pantas menjadi glue band, margarin buat nyeplok telur,” cibir Jeremy. Kalimatnya sukses membuat Marsha tersinggung.
“Jangan meremehkan orang! Aku yakin Andro sudah berubah, dia bahkan berniat mencicil semua yang aku berikan kepadanya seumur hidup,” kata Marsha, dia percaya saja dengan gombalan putra pria bernama Galaksi itu.
Merasa dihina dan diabaikan, Marsha pun geram. Ia tendang punggung Jeremy sekuat tenaga hingga pria itu terjatuh dari atas ranjang. “Pergi dari sini!” usirnya.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Jeremy sambil meringis kesakitan. Ia hanya bisa menatap Marsha yang sudah merentangkan tangan dan kaki. Gadis itu menguasai ranjang.
Marsha tak menjawab pertanyaan Jeremy, dia malah menggeliat-geliat menegakkan bagian atas tubuhnya dan memasukkan sebelah tangan ke dalam. Gadis itu melepas kain penutup dada lalu melemparnya sembarangan.
__ADS_1
“Aku tidak bisa tidur kalau pakai kutang,” ucap Marsha santai. “Selamat malam, semoga tidur Om nyenyak, tidak diganggu setan pinjol.”
Jeremy mengepalkan tangan, tapi kali ini dia lebih memilih untuk mengalah. Ditariknya bantal yang dipakai Marsha hingga kepala gadis itu merosot.
“Aduh!”
“Diam dan tidur!” titah Jeremy, dia mematikan semua lampu hingga kamar tipe president suit itu menjadi gelap-gulita.
***
Pagi harinya Jeremy bangun dengan badan pegal-pegal, dia merasa punggung dan pinggangnya sakit. Pria itu meringis lalu memaki Marsha yang masih tidur nyenyak di atas ranjang dengan nyaman.
Setelah mencuci muka, Jeremy keluar untuk menuju sebuah toserba yang berada di dekat hotel. Ia ingin membeli sejenis koyo pedas untuk ditempel ke pinggang. Karena merasa sakit, Jeremy beberapa kali berhenti untuk mendorong pinggangnya ke depan lalu melakukan peregangan.
Namun, tak Jeremy sangka, pembantu Cantika yang kemarin menyamar menjadi pelayan hotel, kini merubah penyamaran menjadi seorang tuna wisma. Jeremy tak bisa melihatnya karena orang itu memperhatikan dari seberang jalan.
__ADS_1
“Sepertinya Tuan muda sampai encok menggempur istrinya, kabar ini harus segera disampaikan ke Nyonya Cantika.”