Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 101 : Mencari Baju


__ADS_3

Marsha dan Zie pergi ke mall. Istri kecil Jeremy itu memang sengaja mengajak Zie untuk menemaninya membeli pakaian yang akan dibawa liburan ke Bali.


Keduanya berjalan ke lantai dua tempat toko pakaian berada. Marsha terus memindai toko mana yang ingin dimasukinya lebih dulu dengan Zie.


“Sya, ke sana yuk!” ajak Zie sambil menunjuk ke salah satu toko yang berada di lantai itu.


Marsha menyipitkan mata, melihat toko pakaian tidur wanita yang ditunjuk Zie. “Ah … nggak,” tolaknya.


Zie ternyata menunjuk ke toko pakaian wanita dewasa, di mana di sana menjual pakaian tidur dan juga pakaian seksi salah satunya lingerie.


“Lho, kenapa?” Zie keheranan, bukankah sudah sewajarnya Marsha memilih pakaian seperti itu sebagai wanita yang sudah menikah.


“Ke sana aja!” ajak Marsha menggandeng tangan Zie menuju toko pakaian remaja yang berisi deretan piyama dengan motif lucu.


Zie menghela napas panjang, kemudian memilih mengikuti ke mana Marsha mengajaknya. Apalagi dia dirayu akan dibelikan minuman boba, sogokan itu membuat Zie memilih ikut saja dengan kemauan Marsha.


Mereka pun masuk ke toko pakaian remaja, Marsha tampak asik memilih piyama yang tergantung dan terpasang pada manekin.

__ADS_1


“Sya, piyama seperti itu tidak akan membuat Om Jeremy terpesona,” ledek Zie saat melihat Marsha mengambil sebuah piyama bermotif beruang.


Marsha melirik tajam ke arah Zie, kemudian membalas, “Aku tidak peduli, yang penting aku suka.”


Marsha dengan percaya diri mengambil piyama itu, mengabaikan ledekan dan penilaian sang sahabat.


Zie hanya bisa memandang malas karena Marsha tidak mendengarkan pendapatnya, dia kemudian menunggu temannya itu membayar sebelum keluar dari toko.


“Tapi menurutku, kamu tetap butuh pakaian itu.” Zie merangkul lengan Marsha, kemudian mengajak temannya itu masuk ke toko pakaian wanita dewasa.


Marsha sangat terkejut dengan yang dilakukan Zie, tapi mereka merasa kepalang tanggung masuk ke sana, sehingga akhirnya Marsha menurut saja dengan ajakan Zie.


Pelayan toko yang melihat Zie dan Marsha pun merapat, bukannya melayani mereka malah asyik bergosip karena melihat dua gadis muda memilih lingerie dewasa.


“Lihat, masih kecil cari lingerie. Pasti bocah nggak bener,” bisik salah satu pelayan.


“Bener, lihat saja tampangnya masih kecil begitu. Buat apa juga beli lingerie,” timpal yang lain.

__ADS_1


Awalnya mereka berpikiran positif kalau lingerie itu mungkin saja akan dibuat kado, tapi jika hanya kado kenapa di keranjang belanjaan Marsha sudah ada kurang lebih setengah lusin lingerie.


“Ssttt … mau kecil atau dewasa, dia pelanggan. Siapa tahu mau belikan ibunya biar makin mesra dengan ayahnya,” bisik yang lain mencoba berpikir positif.


Dua pelayan yang berpikiran negatif saling tatap, kemudian memilih membubarkan diri untuk melayani pelanggan lain.


***


Sementara itu, Kimi pulang lebih awal karena sudah membuat janji dengan sang suami, untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka sudah di kamar bersiap untuk malam panas nan menggairahkan, agar hubungan rumah tangga tetap terjalin harmonis, meski sudah tak lagi muda.


Kimi baru saja selesai mandi, lantas pergi ke kamar ganti untuk mengambil baju kekurangan bahannya. Wanita itu terlihat memandang lemari dengan dahi berkerut, dia kehilangan salah satu model lingerie yang dipunya. Lingerie dengan bentuk jaring-jaring kesukaan Richie.


“Sayang, apa kamu lihat bajuku?” tanya Kimi yang masih berdiri di depan lemari.


“Baju mana? Biasanya juga di lemari,” teriak Richie.


Ternyata Richie pun sedang kebingungan di samping ranjang. Dia sedang kehilangan satu modnok yang disimpan di laci mejanya.

__ADS_1


“Perasaan kemarin masih ada empat, kenapa tinggal tiga?” Richie bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2