Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 58 : Laptop


__ADS_3

Marsha benar-benar merana, biasanya hanya perlu menggesekkan kartu untuk membayar segala yang dibutuhkan, tapi kini hanya ada selembar uang merah yang tak bertahan lama di dompetnya. Di saat Marsha hampa dan frustrasi karena tak ada lagi kartu yang bisa dibanggakan, Andro menghubungi. Ponsel yang ada di sampingnya berdering dan nama cowok itu terpampang di sana.


“Andro.” Marsha tampak begitu bersemangat, bahkan langsung melakukan tes suara sebelum menjawab panggilan kekasihnya itu.


“Halo, baby aku.” Sapaan manis Marsha membuka percakapan.


“Beb, apa kamu sibuk?” tanya Andro dari seberang panggilan.


“Tidak,” jawab Marsha. “Ada apa?”


“Begini beb, aku butuh mengerjakan tugas kampus. Tapi laptopku malah rusak, aku butuh laptop untuk mengerjakan semuanya. Apa kamu ada uang yang bisa aku pinjam untuk membeli laptop baru?” tanya Andro dari seberang panggilan, cowok itu berbicara dengan suara lembut agar Marsha mau mengabulkan permintaannya.


Marsha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa di saat dirinya tak punya uang, Andro malah butuh seperti sekarang.


“Aku sekarang sedang tidak ada uang. Tapi ….” Marsha menjeda ucapannya, mulai berpikir tentang ide Zie siang tadi. “Mungkin orang itu bisa membantu.”


“Orang itu?”


“Ah … bukan apa-apa.” Marsha mengelak karena tak ingin Andro salah paham, tak mungkin juga dia berkata akan meminta uang dari pria yang akan menjadi suaminya alias Jeremy.

__ADS_1


“Kamu beneran nggak ada uang? Terus aku gimana ini?” tanya Andro dari seberang panggilan dengan nada suara sedih agar Marsha kasihan.


“Kamu tenang saja, nanti aku usahakan. Oke.” Marsha mencoba menenangkan Andro, meski tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang.


“Benar kamu mau usahakan? Ya sudah, aku tunggu kabar darimu. Bye baby aku.” Andro pun mengakhiri panggilannya.


Marsha termenung memandangi ponsel di mana kontak Andro masih terpampang di sana, dia berpikir dari mana bisa mendapatkan uang untuk diberikan ke sang pacar. Hingga Marsha benar-benar memikirkan Jeremy, dia tak mau membuang waktu dan menghubungi calon suaminya itu.


“Om, aku ada satu permintaan dan ini sangat penting.”


Tanpa basa-basi, Marsha langsung mengatakan apa yang menjadi maksud dirinya menghubungi Jeremy.


“Apa ini? Kamu pikir aku jinnya Aladin bisa langsung mengabulkan semua keinginanmu. Aku masih sibuk di kantor, kita bicarakan ini nanti.” Suara Jeremy terdengar malas meladeni.


“Kamu itu benar-benar. Bukankah uang jajanmu banyak?” cibir Jeremy dari seberang panggilan.


“Sudah! Langsung saja pada intinya. Om mau atau tidak memberiku uang?” Kesabaran Marsha mulai diuji.


Jeremy masih mencerna setiap kata demi kata yang keluar dari mulut gadis itu. Tidak biasanya Marsha bersikap seperti ini kepadanya, hingga Jeremy merasa jika pasti telah terjadi sesuatu sampai gadis itu berani meminta uang.

__ADS_1


“Tidak ada yang gratis di dunia ini, Marsha. Kamu tahu apa maksudku, ‘kan? Dan … kenapa aku harus memberimu sepuluh juta?” tanya Jeremy menyelidik.


“Karena kamu adalah calon suamiku. Aku mau perawatan ke salon. Kamu mau dibuat malu karena punya calon istri yang dekil?” Marsha memberikan alasan yang bisa diterima oleh Jeremy.


“Tidak mungkin hanya karena itu.” Tentu saja Jeremy tidak akan percaya semudah itu. Dia bukan pria bodoh.


“Ya sudah kalau tidak mau memberikan uang ke aku, jangan salahkan jika nanti ada berita heboh yang menyebutkan, kalau calon istri dari CEO J Corp adalah gadis dekil miskin dan tidak terawat.”


“Marsha Rizia Tyaga alias MRT,” panggil Jeremy. “Sebutkan saja alasan mengapa aku perlu memberikanmu uang dan jangan terlalu berbelit.” Kali ini Jeremy tak mau lagi membuang terlalu banyak waktu hanya untuk meladeni calon istrinya itu.


“Sudahlah, Om. Berikan saja aku uang, ya? Om butuh apa? katakan! bagaimana kalau pijatan hangat?” Suara Marsha mulai menggoda.


“Apa kamu sedang menantang pria dewasa sepertiku?” Jeremy tak mau terpancing dan meladeni godaan Marsha.


“Ya sudah kalau tidak mau!” Marsha menggosok telinga, bibirnya mengerucut. Nampaknya merayu Jeremy tidak akan berhasil.


Marsha pun memilih mengakhiri panggilan itu, jangan sampai dirinya naik darah hanya karena dipaksa Jeremy untuk memberikan alasan meminta uang.


“Dasar pelit!” umpatnya ke panggilan yang sudah berakhir.

__ADS_1


“Kalau bukan karena kutang, mungkin aku bisa menikahi pria lain yang jauh lebih kaya," sesal Marsha. "Haduh bagaimana ini? Andro sedang membutuhkan laptop.”


Marsha berpikir dengan keras, siapa lagi yang bisa dimintai uang agar dirinya bisa membelikan pacarnya itu laptop.


__ADS_2