
Setelah membuat orangtuanya syok dengan bahasa yang menjurus ke hal dua satu plus. Marsha pun berangkat sekolah dengan riang gembira, sudah terlintas di dalam otak gadis itu apa saja yang ingin dia lakukan setibanya di tempatnya menimba ilmu.
Marsha berencana meletakkan tasnya kemudian mencari Andro. Makan sepiring berdua di kantin pasti akan sangat romantis, siswa jomlo yang melihat tentu akan dibuat meringis dan menangis.
Gadis itu tertawa sendiri, tak pernah dia merasakan cinta seperti yang dia rasakan saat ini. Andai saja Andro dikenalnya sejak kelas sepuluh, tapi sayang Andro baru masuk ke sekolah yang sama dengannya saat naik kelas dua belas.
Namun, sepertinya rencana hanya tinggal rencana saat Marsha melihat sesosok mahkluk tinggi jangkung berdiri di gerbang sekolah. Gadis itu memindai sekitar dan seketika mencebik melihat sebuah sedan mewah bernomor polisi 6969 ** terparkir tak jauh dari sana.
“Ah … untung dia tampan, jika tidak aku pasti tidak akan mau bicara dengannya.” gerutu Marsha. Ia betulkan letak tali tas yang kurang pas di pundak lantas mendekat ke arah Peter.
“Pasti hidupmu suram karena setap hari hanya menjadi orang suruhan Om Jerami,” ucap Marsha setelah berdiri tepat di depan Peter.
Pria berwajah tampan mirip pentolan boy band itu tersenyum, dia sejatinya lebih penyabar jika dibandingkan dengan sang atasan.
“Pak Jeremy menunggu Anda di dalam mobil.” Peter menunjuk mobil di mana Jeremy berada di dalamnya dengan kedipan mata, Marsha yang paham pun memilih untuk memutar tumit dan mendekat.
Entah apa yang ingin dibicarakan Jeremy kepadanya pagi-pagi. Yang pasti akan lebih baik jika pria itu segera mengatakan keperluannya agar dia bisa membuat sesama siswa iri dengan rencana beromantis ria dengan Andro di kantin.
“Cakap! Cakap!” ucap Marsha menirukan serial kartun dua bocah kembar mirip tuyul yang tayang di ABI TV.
Jeremy mencebik, dia memukulkan sebuah amplop berwarna cokelat ke kepala Marsha dan membuat gadis itu cemberut.
__ADS_1
“Apa ini? apa kontrak yang kemarin ingin Om bicarakan saat di lapangan golf?” tanya Marsha sambil membuka amplop itu. Matanya memindai setiap tulisan yang ada di sana dan mulutnya mengaga.
“Em – em- empat ratus juta? Om akan memberiku uang empat ratus juta setiap bulan?” tanya Marsha tak percaya, dia mulai berhitung berapa kali lipat uang bulanan yang akan diberikan oleh Jeremy dan membandingkan dengan uang bulanan yang diberikan orangtuanya.
“Kalau begini, kapan kita nikah Om?” ucap Marsha yang tak lagi memikirkan isi dari lembar setelahnya.
“Baca dulu sampai habis lalu tandatangani, kamu harus menjadi istriku sampai aku menceraikanmu atas keinginanku sendiri,” kata Jeremy.
“Maksud Om?” Marsha membalik lembar berikutnya, di sana tidak tertulis batas waktu perjanjian dan bahkan tak membahas masalah ranjang seperti novel-novel yang sering Marsha baca.
“Kata Nenek, aku harus menikah denganmu untuk menghilangkan kesialan yang datang silih berganti di hidupku, jadi jangan berpikir macam-macam. Anggap saja kamu hanya aku jadikan jimat keberuntungan.”
“Apa aku boleh pacaran dengan pria lain meski sudah menjadi istrimu?” tanya Marsha dengan mimik muka serius.
“Tentu saja karena aku juga akan berkencan dengan wanita lain meski sudah menikah denganmu,” jawab Jeremy tanpa sedikit pun rasa ragu.
“Oke, aku mengerti konsep hubungan ini.” Marsha mengangguk lantas membuka tas sekolahnya, gadis itu mengambil sebuah pulpen untuk membubuhkan tanda tangan tepat di bagian atas namanya.
Untuk sejenak Jeremy merasa menjadi pria paling brengsek di dunia, bagaimana bisa dia memanfaatkan anak manusia sebagai jimat? tapi secepat kedipan mata dia membuang jauh perasaan itu. Jeremy memang harus melakukan ini, dia masih ingin hidup setidaknya sampai Rey berumah tangga.
“Ini, simpan baik-baik. Aku tidak mau dicurangi ya. Jangan sampai Om tiba-tiba mencoret satu nol di belakang nominal ini.” Marsha menunjuk angka empat ratus juta yang tercetak di kertas perjanjian itu. “Tapi kalau Om mau menambahi satu angka di belakangnya lagi, aku akan sangat berterima kasih,” imbuhnya.
__ADS_1
Marsha tersenyum lebar, memasukkan kertas itu ke dalam amplop dan memberikannya ke Jeremy. Ia turun dari mobil dan bersenandung riang. Gadis itu bahkan mengerlingkan sebelah matanya ke Peter yang menunggu di luar mobil sejak tadi.
Jeremy hanya bisa melirik gadis itu dari kaca spion, hingga matanya melihat sebuah ikat rambut tergeletak di karpet mobil. Jeremy meraih dan menatap lekat ikat rambut itu. Bukannya mengembalikannya ke Marsha, dia memilih memasukkannya ke dalam kantong celana.
_
_
“Marsha!”
Suara yang sangat dikenali membuat Marsha menoleh, dia tersenyum lebar melihat Andro berjalan ke arahnya. Cowok itu selalu terlihat tampan di mata Marsha, sampai-sampai dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan sang tante dan Bu Dewan bahwa Andro dan keluarganya itu mata duitan.
“Hei, apa kamu sudah sarapan?” tanya Marsha penuh perhatian, dia bahkan membetulkan kerah baju cowok itu dan menepuk bagian dada seolah membersihkan kotoran dari sana.
“Aku melihatmu masuk ke mobil di depan pagar tadi, siapa? apa pria itu?” selidik Andro.
Marsha mengangguk, gadis yang masih saja percaya dengan cinta tulus sang pacar pun malah bercerita tentang apa yang disepakatinya dengan Jeremy tadi.
“Be-be-berapa?” tanya Andro terbata.
“Empat ratus juta, bukankah itu gila. Wah … yang dibilang Omano ternyata benar. Ia memang kaya raya,” cicit Marsha. Sedangkan Andro nampak mengedip tak percaya.
__ADS_1