
Sama halnya dengan Marsha, Jeremy juga sedang dalam kondisi batin yang tidak menentu. Ia yang sedang duduk di ruang kerja hanya memandang layar ponsel di mana foto sang kekasih dan dirinya terpampang di sana. Setahun yang lalu hanya Mia – sang kekasih lah yang menjadi pelipur laranya.
Orangtua Jeremy meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, dia pun kini harus menjadi orangtua tunggal bagi sang adik. Karena rumah lama memberikan kenangan yang terus membuat sesak di dada, pada akhirnya Jeremy memutuskan pindah ke rumah Cantika, dan sang adik dia kirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan.
Meski menuai cibiran paman dan bibinya, Jeremy tak peduli. Toh dia sudah kaya, harta warisan orangtua dan perusahaan yang dia kelola cukup untuk tujuh turunannya. Ia hanya tidak ingin merasa kesepian. Jeremy juga paham Cantika pasti sangat sedih kehilangan putra tertuanya– yang tak lain adalah sang papa.
Mendengkus kasar, Jeremy tiba-tiba kesal mengingat kejadian konyol di mana Marsha tidur di ranjangnya dan sang nenek serta Nova tiba-tiba bak satpol PP menggerebek mereka.
“Sial! nenek pasti sudah merencanakan semua ini, aku tidak mungkin menikahi bocah,” gerutu Jeremy. Ia pijat pelipisnya karena pening. “Kenapa harus berbuat sampai seperti itu? konyol! Mereka menjebakku dengan trik kuno,” ucapnya.
Jeremy sejatinya tahu jika semua yang terjadi hanya lah rencana sang nenek. Namun, mengingat kutukan sial yang disebutkan Cantika, merinding juga bulu kuduknya.
“Mungkinkah kutukan itu benar ada?” Jeremy mengingat ucapan Cantika, jika Marsha memang takdirnya, dan jika dihitung usianya, bisa dibilang kesialannya memang dimulai sejak gadis itu beranjak dewasa.
Kecelakaan orangtuanya, mungkinkah juga kutukan?
Jeremy mencoba berpikir logis, hingga ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi masuk ke aplikasi berbalas pesan miliknya. Sang adik yang bernama Rey mengirim sebuah foto.
“Rey, kenapa bisa?”
Jeremy seketika panik, dia bergegas melakukan panggilan telepon ke sang adik kesayangan. Ia pun gemas saat mendengar Rey tertawa, seolah semua itu hanya prank yang sengaja dibuat agar dia cemas.
__ADS_1
“Apa aku harus menyusulmu? Apa kamu sudah pergi ke rumah sakit?” tanya Jeremy setelah melihat luka di siku, lutut dan kening sang adik yang terjatuh saat bersepeda.
“Kakak berlebihan, aku mengabari bukan untuk membuat kakak khawatir,” jawab Rey dengan kekehan kecil.
Jeremy pun bernapas lega, meski umur Rey sudah dua puluh satu tahun tapi pemuda itu masih seperti adik kecil baginya.
“Katakan padaku jika kamu butuh sesuatu! aku akan menemuimu segera,” ucap Jeremy sebelum Rey mematikan panggilan mereka.
Melempar ponsel ke meja, Jeremy mengusap muka kasar. Apa mungkin kesialannya juga bisa menimpa orang terkasihnya? Ia menyandarkan punggung kasar. Sebuah ide gila melintas di pikiran dan membuatnya semakin gelisah.
“Ah … apa aku harus menikahi bocah itu? apa aku benar-benar harus mengambil alih beban hidup keluarga Tyaga?”
Jeremy frustrasi lalu menggaruk tengkuknya kasar, terlalu heboh kukunya sampai menggores kulit, dia pun mengaduh dan kembali mengumpat. Hingga dia memilih berdiri untuk pindah ke kamar. Namun, tak dia sangka Cantika sudah berdiri di depan pintu ruang kerja sambil menatapnya dengan sorot mata sendu.
“Apa?” Jeremy melongo, dia cengo. Tak paham maksud sang nenek. “Maksud nenek apa?” tanyanya.
“Marsha bilang ke Omanya kalau kamu kejang-kejang di pinggir jalan, apa kamu sakit?” Cantika memasang muka sedih bahkan netranya berkaca-kaca, tak sanggup dia membayangkan sang cucu menderita penyakit seperti itu, tak tega hatinya. “Jer …. “ Cantika menutup muka dengan dua telapak tangan.
“Astaga nenek, aku sehat. Jika tidak percaya aku akan melakukan check up kesehatan untuk meyakinkan nenek, aku sehat.” Jeremy merengkuh tubuh Cantika, dia menepuk lembut punggung wanita itu dan mengumpat di dalam hati.
“Bocah itu! fitnah apa yang dia tujukan padaku yang sempurna ini?”
__ADS_1
***
Pagi harinya Marsha agak terkejut, dia yang selesai sarapan dan tidak langsung mandi tiba-tiba didatangi Jeremy ke rumah Nova. Pria itu bahkan berpenampilan rapi, sepertinya Jeremy ingin mengajaknya pergi kesuatu tempat.
Gadis itu menggaruk pantatnya yang gatal, setelan piyama bermotif kelinci yang dia kenakan membuat penampilannya menggemaskan, tapi jelas berbeda di mata Jeremy. Baginya Marsha nampak seperti bocah TK.
“Kenapa Om pagi-pagi ke sini? tidak mungkin karena merindukan aku ‘kan?” ucap Marsha sembarangan. Ia bahkan menggaruk tengkuk karena bingung.
“Aku ingin mengajakmu bermain golf.”
“Apa? golf? Tidak! gundu aja deh gundu kalau Om mau ngajak aku main,” jawab Marsha sekenanya. “Atau congklak, monopoli, ular tangga,” imbuhnya.
Jeremy mengulum bibir, ingin rasanya dia menjitak kepala Marsha jika saja tidak sadar ada Nova yang berjalan keluar dari dalam dengan senyum semringah. Wanita itu bahkan berdiri dan langsung memeluk tubuhnya.
“Marsha kamu ‘kan calon istri CEO, sudah sepantasnya kamu menguasi olahraga seperti itu,” ujar Nova. Ia sudah mendengar apa yang hendak dilakukan Jeremy dari sang bestie.
“Apa aku harus menguasai olahraga panahan juga?” tanya Marsha, dia membuat gerakan seperti menarik anak panah dari busur lalu melepaskannya tepat ke arah Jeremy. “Aku panah Om tepat di jantung, Om mati dan aku menjadi janda kaya,” ucapnya.
“Marsha!” bentak Nova. Sedangkan yang dibentak tak menunjukkan rasa takut sama sekali.
“Aku mandi dulu, tunggu aku! sepertinya akan seru menghabiskan waktu dengan Om hari ini.” Marsha mengerlingkan mata, Jeremy reflek mengedip. Pundaknya bahkan mengedik.
__ADS_1
"Bocah itu astaga!"