
Marsha mengangguk, dia tersenyum manis sambil mengembalikan kalung yang baru saja dia coba ke pelayan toko. Gadis itu berniat membelinya dan langsung mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam dari tas kecil yang dia bawa.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Nova penasaran. Sontak saja Marsha memasang mimik bingung apa lagi di saat yang bersamaan pelayan juga mengajaknya berbicara.
“Tidak,” jawab Rey dan Marsha kompak.
Rey bersyukur bahwa dia tidak jadi mengucapkan kata ‘iya’, sungguh dia pasti akan sangat malu karena gadis yang dia puji manis dan cantik di dalam hati itu ternyata adalah calon kakak iparnya. Sama halnya dengan Rey, Marsha juga merasa jawabannya tepat. Gadis itu berpikir pemuda itu pasti seperti Jeremy, sombong dan belagu.
“Lalu kenapa kalian sepertinya sudah sangat dekat?” selidik Cantika. Wanita itu menatap Rey dengan sorot curiga.
“Kami tidak sengaja bertemu di jalan kemarin, saat dia membagi-bagikan makanan,” jawab Rey.
“Makanan?” Cantika nampak menelengkan kepala seolah berpikir. “Ayam makdi yang kemarin nenek makan kulitnya dan kamu marah itu?”
Rey melotot, dia tak menyangka Cantika akan membahas hal sekonyol ini di depan Nova juga Marsha. Pemuda itu pun mencebik kesal, sebelum akhirnya tertawa karena melihat Marsha yang tersenyum manis mendengar cerita Cantika barusan.
__ADS_1
“Dia, kenapa baru lulus SMA tapi sudah mau menikah dengan kak Je? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu?”
Baru saja berbicara di dalam hati, Rey dibuat terperangah karena Marsha mengusap perut dengan gerakan memutar, Ia sudah berpikir mungkin saja gadis itu tengah hamil anak sang kakak. Namun, perasaan suuzan Rey termentahkan saat Marsha merajuk manja pada Nova.
“Lapar Omano.”
Entah kenapa Rey merasa sangat lega, dia yakin Marsha pasti gadis baik-baik. Meski tidak begitu mengenal siapa itu keluarga Tyaga, tapi jelas orang yang dekat dengan keluarganya pasti bukan dari kalangan sembarangan. Karena tahu bahwa Marsha adalah calon istri sang kakak, Rey pun sekuat tenaga menepis rasa yang sempat terlintas di dalam hatinya. Rasa yang biasa orang sebut dengan istilah ‘naksir’. Namun, apa mungkin dia bisa menghindar saat menyadari bahwa Marsha adalah tipe cewek idamannya.
Gadis itu berbeda dengan gadis lain yang pernah Rey kenal, meski dari kalangan atas tapi Marsha tanpa segan makan nasi ayam menggunakan tangan. Gadis itu banyak bercerita, dan tawanya sungguh sangat renyah, hingga Rey beberapa kali menunduk dan tersenyum untuk menyembunyikan senyuman. Marsha juga tak sungkan meminta lalapan miliknya dari pada tidak dimakan. Gadis itu merasa Rey asyik dan tidak kaku seperti Jeremy.
Marsha tak peduli dengan kartu matinya yang baru saja dibocorkan oleh Nova, dia sibuk menikmati paha ayam yang empuk sampai ke tulangnya.
“Kak Rey sudah lama di luar negeri, jadi aku yakin belum banyak tahu tempat hits anak-anak di kota ini. Bagaimana kalau besok kita pergi ke cipeyem fashion weekend?” Marsha menawarkan sesuatu yang terdengar bagai nyanyian surga di telinga Rey.
Pemuda itu tahu ini salah, dia harus menyadarkan pikirannya bahwa gadis yang sedang sibuk makan sambil kepedasan ini adalah calon istri kakaknya. Dia tidak boleh naksir.
__ADS_1
“Tapi kenapa harus kakak? Ada apa? kenapa mereka harus menikah? Marsha baru saja lulus SMA. Aku harus mendapat jawabannya, aku akan bertanya ke nenek atau kak Je nanti,” gumam Rey di dalam hati.
“Kak Rey? Ih … kok diam aja, mau nggak?" tanya Marsha karena Rey hanya diam saja.
"Aku paling suka jajan di sana, karena jajannya murah-murah. Kakak harus coba Takoyaki yang besarnya se-bola kasti,” imbuh Marsha. Gadis itu bahkan tak malu menyedot ingusnya, sampai Nova mengambilkan tisu dan membantunya mengelap hidung.
“Ah … ya. Tentu saja! aku akan senang sekali bisa jalan-jalan denganmu,” jawab Rey pada akhirnya.
“Kalau begitu jemput aku besok ya, jam empat sore kita ke cipeyem.”
_
_
_
__ADS_1
Woi … gimana kabar kleyan?