
Jeremy mencoba mendengarkan Marsha lebih dulu, dia tahu perasaan sang istri pasti tidak enak harus mengatakan hal seperti ini kepadanya. Jika dipikir dia, Marsha juga Mia dan Andro sama-sama membuat kesepakatan di awal. Melihat kenyataan sekarang , Jeremy merasa dirinya dan Marsha lah yang ingkar, di luar keselahpahaman yang memang sengaja dibuat Mia dan tidak diketahuinya, tetap saja sebagai manusia ada perasaan bersalah di hati Jeremy dan itu mungkin yang dirasakan Marsha sekarang.
“Aku dan Mia sudah berakhir, Sya. Jadi aku tidak perlu mengucapkan apapun lagi padanya.”
Jeremy akhirnya menjawab karena Marsha tak lanjut bicara, gadis itu malah semakin memeluk erat, ada rasa takut kehilangan di hatinya setelah meminta Jeremy mengucapkan selamat tinggal ke Mia. Biasa, wanita. Berbasa-basi untuk memancing berharap sang pria peka. Beruntung Jeremy tipikal pria yang perasa.
“Aku merasa merebut kakak darinya.”
“Aku bukan barang jadi tidak ada yang merebut, aku punya perasaan dan aku berpisah dengan Mia juga ada alasan, dan itu bukan karenamu.”
Marsha mengurai pelukan, sumpah dia penasaran akan apa yang menjadi alasan Jeremy meninggalkan Mia. Namun, dia tahu mengulik lebih dalam malah hanya akan membuatnya tak enak hati.
“Aku akan jadi istri yang baik, aku janji. Aku akan membagi waktu kuliahku dan mengurus kakak.”
“Kenapa dari Mia tiba-tiba kamu membahas istri yang baik?”
Jeremy urung ke kamar mandi, kepalang tanggung dia menarik kaki Marsha dan menjadikannya bantalan kepala.
“Aku tahu masih kekanak-kanakan, aku bukan tipikal wanita idaman yang ingin seorang pria dapatkan atau nikahi. Sedangkan kakak adalah tipe pria yang menjadi idaman banyak wanita, aku takut kakak direbut pelakor.”
__ADS_1
Jeremy jelas tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dadanya bahkan terasa digelitiki dari dalam karena gede rasa. Ia mendongakkan kepala, menarik tengkuk Marsha dan mencium bibir istrinya itu.
“Tenang saja! aku akan membatasi diri mulai sekarang, aku sudah punya istri yang cantik, imut, baik hati meski kadang bodor sepertimu.”
“Kak Je!”
“Aku belum selesai bicara Marsha. Meski masih seperti anak kecil aku akan menerimamu apa adanya.”
Pipi Marsha merona, dia mencoba menahan senyumannya dan memalingkan wajah ke arah lain. Namun, tak bertahan lama karena Jeremy menolehkan pipi lalu mencium bibirnya lagi.
“Aku mandi ya, habis itu …. “
“Iya Sya makan, kamu pikir aku mau apa? pikiranmu pasti sudah kemana-mana.”
_
Di malam yang sama, Andro nampak murung. Ia baru saja menerima pesan dari papanya yang memintanya untuk memeras Marsha dengan membongkar hubungannya atau kesepakatan yang dilakukan oleh Jeremy dan gadis itu.
Andro sebenarnya tak tega, dia merasa selama ini sudah banyak berbuat salah. Ia memang memanfaatkan Marsha untuk memenuhi gaya hidupnya, tak hanya dirinya tapi seluruh keluarganya. Andro pikir dengan berubah maka Marsha mau menerimanya lagi. Namun, kenyataannya gadis itu malah menjauh dan sudah jarang membalas pesan darinya.
__ADS_1
Mereka memang sudah putus, tapi beberapa minggu kemarin Marsha masih sering menemuinya meski hanya untuk menagih uang. Andro pun memutuskan menghubungi Marsha dengan cara mengirim pesan, tapi karena pesan itu sama sekali tidak dibalas, dia pun menelepon di mana saat itu Marsha dan Jeremy sedang bercanda berdua sebelum tidur.
“Angkat dulu ponselmu!”
Jeremy mencekal tangan Marsha, mereka baru saja adu cubit dan saling menggoda. Gadis itu menggeleng untuk menolak perintah sang suami, tapi karena mulai mengganggu akhirnya Marsha meraih ponselnya meski dengan gaya malas-malasan.
“Siapa?”
Jeremy yang mendapati Marsha hanya memandangi layar ponsel pun mulai curiga, ada gurat kebingungan di wajah istrinya itu dan membuatnya menerka.
“Apa itu Andro?”
Marsha mengangguk pelan, dia memilih mematikan ponsel lalu melompat kembali ke ranjang. Dipeluknya pinggang Jeremy lantas menyembunyikan wajah di dada pria itu.
“Kenapa tidak kamu angkat?” Jeremy semakin penasaran karena Marsha tidak mau menjawab pertanyaannya. Ia pun terpaksa mengurai pelukan agar Marsha mau memandang wajahnya. “Sya, aku tanya. Kenapa telepon itu tidak kamu angkat? Benar dari Andro ‘kan?”
“Aku sudah putus dengannya kak Je, tapi entahlah dia masih suka menghubungiku. Mungkin karena aku meminta dia membayar hutang, jadi dia telepon untuk mengajak bertemu.”
“Lalu temui dia, selesaikan kisah cinta konyolmu itu. Apa mau aku temani?”
__ADS_1