
Marsha bahkan ingin menertawakan ucapan Rey barusan. Di dalam otaknya, Marsha menerka Rey mungkin saja ingin melihat apakah dia benar-benar mencintai sang kakak atau tidak. Marsha juga tak habis pikir, bagaimana bisa dengan polosnya Rey menarik kesimpulan tentang gadis seperti dirinya yang disukai oleh banyak Pria.
Ah …. seandainya Rey tahu seperti apa rusuhnya seorang Marsha, sudah pasti dia akan menarik kembali kata-kata pujiannya tadi.
Mereka masih berada di toko, keduanya saling pandang dengan Rey yang masih duduk mencoba sepatu dan Marsha yang berdiri sambil membetulkan letak tali tas di depan dada. Hingga sebuah notifikasi pesan membuat Rey tersadar lalu merogoh ponselnya lagi.
[ Kenapa tidak mengangkat panggilanku? ]
Rey tersenyum, dia sudah bisa menebak kakaknya pasti akan memantau dan bahkan curiga dengan apa yang dia lakukan dan Marsha. Rey memilih mengabaikan pesan itu, mengerjai Jeremy adalah hal yang jarang dia lakukan, jadi sekali-sekali biarlah sang kakak merasa kelimpungan.
“Siapa? kenapa tidak dibalas?” tanya Marsha penasaran.
“Kak Je, entah apa yang diinginkan, dia hanya bertanya kenapa tidak mengangkat panggilan, nanti kalau penting dia pasti mengirim pesan atau menelepon lagi.” Rey menjawab Marsha lalu mengalihkan tatapan ke rak untuk memilih sepatu yang lain.
“Ah … seharusnya aku membeli sepatu formal juga untuk acara pernikahan kalian,” ucap Rey.
Marsha yang mendengar perkataan Rey tak bisa menjawab. Akan jauh lebih baik jika pernikahan tak terduga antara dirinya dan Jeremy tidak terjadi. Ya, meski sebenarnya dia sendiri diuntungkan karena bisa mendapat kebebasan seperti yang dimau.
__ADS_1
“Kapan tanggal pernikahannya?” tanya Rey dengan air muka penasaran.
“Kalau soal itu, kamu bisa tanyakan ke kak Jeremy, ada beberapa tanggal tapi kami dan keluarga belum memutuskan,” jawab Marsha, dia menjawab dengan alasan yang baik. Dia tidak sewot meski sejatinya tidak suka saat ada yang mengingatkannya dengan pernikahan itu.
Rey dan Marsha pun berjalan ke luar toko setelah selesai membayar, mereka bergurau sambil sesekali membahas apa yang sedang happening di kalangan anak muda, termasuk cipeyem fashion weekend yang sudah dibubarkan.
“Aish! Kenapa dia terus menelepon? Memangnya tidak kerja?!” Rey kesal saat ponselnya bergetar lagi, dia sudah bisa menebak pasti sang kakak yang menghubungi.
“Sudah angkat saja! lagi pula itu dari kak Je, siapa tahu penting sampai dia menghubungimu terus-terusan.”
“Wow, wow! Kenapa kamu ngegas Rey, aku hanya ingin tahu sepatu apa yang kamu beli,” jawab Jeremy.
Rey dan Marsha yang mendengar tertawa serempak. Alasan Jeremy terlalu tak masuk akal untuk didengar.
“Hentikan kebohongan, kakak! Apa sebenarnya kakak setengah hati mengizinkan aku pergi dengan Marsha? Ayolah … biarkan kami menikmati jalan-jalan kami dengan tenang, atau sebenarnya kakak cemburu aku membawa Marsha jalan?” goda Rey. Ia sengaja ingin mematikan panggilan untuk membuat Jeremy semakin kesal, tapi Marsha menyambar ponsel milknya lebih dulu.
“Berikan padaku! aku mau bicara padanya,” pinta Marsha.
__ADS_1
Berbeda dengan Rey, Marsha memilih menjauh dan memulai percakapannya. “Woi, Om Jerami jangan mengganggu kami, dasar! Tidak bisakah pria tua sepertimu membiarkan anak muda bersenang-senang.”
“Haha! Lucu!" Tertawa Jeremy sengaja dibuat-buat. "Aku tidak mengganggu, aku hanya sedang mengawasi adikku dari gadis sepertimu.”
“What? Gadis sepertiku apa maksud, Om? Rey baru saja bilang kalau aku adalah gadis idaman semua pria! Rey sepertinya menyukaiku. Jadi, bersikap manislah padaku atau aku akan berselingkuh dengan adikmu setelah kita menikah,” ketus Marsha.
Panggilan itu dimatikan sepihak oleh Marsha dan seringai licik pun terbit di bibirnya. Gadis itu mengembalikan ponsel Rey sambil tersenyum.
Di sisi lain Jeremy dibuat emosi jiwa. Pria itu berhenti di koridor menuju ruangan rapat, dan malah memaki benda pipih di tangannya.
“Sial! Apa yang dia bilang tadi? gadis itu, apa yang ingin dia lakukan ke Rey?” umpatnya. "Kenapa aku terus memikirkan mereka?"
Peter yang berdiri di dekat Jeremy pun kebingungan, sejak pagi atasannya itu uring-uringan seperti wanita yang sedang PMS. Bahkan sapaan para karyawan yang melintas diabaikan oleh Jeremy.
“Jangan coba-coba bermain dengan Rey, aku tidak akan membiarkan adikku sakit hati karenamu,” gumam Jeremy di dalam hati.
Matanya menyipit membuat Peter khawatir. "Pak, Anda tidak sedang ketempelan 'kan?"
__ADS_1