
“Kecilkan suaramu MRT!” bentak Jeremy. Wajahnya datar tak merasa berdosa padahal sudah mencemari kesucian pabrik bahan bakar calon anak Marsha nanti.
“Om … sengaja ‘kan? Om benar-benar mesum.” Marsha balas memukuli Jeremy.
Keduanya masih berdebat di dalam kamar mandi, sampai suara ketukan pintu terdengar dari luar. Peter memanggil nama mereka, karena teriakan Marsha tadi terdengar ke seluruh ruangan yang ada di dekat kamar.
“Pak, Anda baik-baik saja ‘Kan?” tanya Peter dari luar pintu.
“Iya Pet, aku baik. Jangan khawatir! Hanya saja tolong panggil kebersihan villa ini, kenapa ada kecoa. Marsha sangat ketakutan.”
Jeremy berdusta, tapi ini lah satu-satunya cara menyelamatkan muka di depan semua orang terutama tuan Kevin dan istrinya.
“Baik, Pak.”
Peter yang ternyata datang bersama bodyguard tuan Kevin pun memberitahu bahwa semuanya aman. “Maaf! kamu bisa menjelaskan ke tuan Kevin, bahwa tidak terjadi hal yang buruk,” ucap Peter.
Jeremy mendelik, dia tunjuk muka Marsha dan memperingatkan gadis itu lagi. “Sarapan pagi ini sangat penting, ingat! kamu tadi berteriak memanggil namaku karena takut dengan kecoa, bukan karena aku yang menyentuh … “
Pria itu menjeda lisan, sedangkan Marsha sudah memasang muka cemberut karena masih tak terima asetnya dijamah oleh tangan kekar Jeremy.
“Om jahat, padahal aku jaga untuk disentuh perdana suamiku.”
__ADS_1
“Bodoh! aku ini suamimu.” Jeremy mendorong kening Marsha. Gadis itu pun semakin cemberut bahkan menghentakkan kaki ke lantai secara berulang.
“Jangan terlalu percaya diri, dadamu itu tak seberapa. Tak menonjol pun,” hina Jeremy. Ia tak sadar sudah menyakiti hati Marsha.
Selama mandi, Marsha terus memegangi dada. Bahkan saat selesai, gadis itu juga masih terus memandangi bagian itu. Dia tak terima dengan ucapan Jeremy yang mengatakan asetnya tak seberapa. Mata Marsha menyipit, setelah kembali nanti, dia berjanji akan mengajak Zie ke Korea untuk memasang implan. Agar dadanya bisa sebesar bola kasti.
“Sya, buruan! Apa kamu bertelur di dalam sana?”
Marsha menoleh pintu kamar mandi dengan tatapan tajam. Ia mengangkat tangan kanan ke atas, menatapnya lalu menggenggam dan membukanya beberapa kali, gadis itu membuat gerakan seperti meremaas, hingga saat membuka pintu dia mendapati Jeremy sudah berada di depannya.
Detak jantung Marsha tiba-tiba tak menentu karena ada misi di dalam pikirannya, hingga gadis itu memilih menjalankan rencana. Marsha dengan sengaja menyentuhkan tangan ke area pribadi Jeremy. Terang saja suaminya itu syok, Jeremy menoleh dengan wajah bingung.
“Astaga, ukurannya bahkan tak lebih besar dari ibu jari kakiku,” hina Marsha.
“Hah … a-a-apa? apa kamu bilang?” Jeremy merasa oksigen di dalam paru-parunya habis. Pria itu megap-megap karena ukuran brontosaurus-nya dijatuhkan oleh sang istri.
Marsha tersenyum mencibir, dia bergumam di dalam hati ‘rasakan, memang enak dihina'. Gadis itu mengibaskan rambut. Berjalan berlenggak-lenggok seolah tanpa dosa. Jika bisa dia ingin melompat kegirangan karena berhasil membungkam keangkuhan Jeremy.
***
Setengah jam kemudian, Jeremy dan Marsha sudah berada satu meja dengan tuan Kevin dan Linda. Mereka berempat sarapan di samping kolam renang dengan bagian atas terbuka, sehingga sinar matahari langsung mengenai permukaan kulit.
__ADS_1
“Sayang villa sebagus ini ada kecoa,” ucap Linda. Matanya memandangi Marsha yang sejak tadi menunduk sambil menikmati omelet di piring. Marsha memang memilih diam karena takut Jeremy akan menginjak kakinya di bawah sana.
“Aku tidak akan menyarankan teman-temanku menyewa tempat ini,” imbuh wanita tua itu.
Marsha seketika mengangkat kepala, dia menoleh Jeremy yang sama sekali tak mengemukakan pendapat atau pembelaan. Menurut Marsha sangat jahat jika sampai villa itu dicap jelek dan kehilangan penyewa. Padahal masalah kecoa itu hanyalah kebohongan yang dibuat sang suami. Marsha terdiam sejenak, dia menelan saliva dan tersenyum setelah mendapat ide.
“Ah … sebenarnya yang saya lihat tadi bukan kecoa tapi – “ Marsha mencondongkan badan ke Linda, lalu meletakkan telapak tangan dekat dengan sudut bibirnya. “Itu mainan dua satu plus kami.”
Alis mata Marsha naik turun dan pipi Linda pun seketika merona. Wanita itu malah berseloroh, “Pasti memberi sensasi jijik-jijik geli, kalau begitu aku juga mau satu. Dimana kamu membelinya?”
“Mati, apa yang dikatakan Marsha ke Bu Linda, anak ini benar-benar,” gumam Jeremy, dia menatap wajah sang istri dari samping, Marsha mengedipkan matanya beberapa kali.
“Sial! dari mana aku bisa mendapat sekss toy dengan model kecoa? apa ada di tokopakedi?"
_
_
_
Satu bab dulu ya geng, hari ini aku baru tamatin novel lain. Gumoh hehehe
__ADS_1