
“Matre sekali kau Sya, aku tidak bisa menuruti yang satu itu.”
Jeremy menolak. Lagi pula semua ATM nya yang ada berisi uang miliaran, dia bingung harus memberikan yang mana ke Marsha.
“Ya sudah, aku tidak akan memaafkan Om. Aku juga mulai detik ini berjanji tidak akan menyentuh barang pribadi Om, tidak akan!”
Marsha berucap dengan penuh kekesalan, dia menekankan setiap kalimat yang diucapkan lalu membuang muka seolah tak sudi untuk mentap wajah Jeremy. Marsha tidak tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan bantuannya. Bisa saja saat bertemu tuan Kevin dia memberi alasan bahwa Marsha sibuk kuliah atau ujian, tapi Jeremy takut jika Tuan Kevin malah mengundur kesepakatan lagi. Ini sulit baginya karena memiliki rekan bisnis yang sangat mencintai dan mengagungkan istri.
“Sya, Maaf ya!”
Jeremy mencoba membujuk. Sampai Marsha bingung. Ia menjauh saat Jeremy mendekat dan duduk di atas kasur.
“Pergi! Jangan dekat-dekat, aku tidak mau bersentuhan dengan barang milik Mia.” Sindiran Marsha membuat Jeremy mati kata. Gadis itu bahkan tak menyematkan kata ‘kak’ lagi saat menyebut nama Mia.
“Oke, baiklah kalau kamu mau marah. Tapi aku yakin kamu tidak akan bisa menolak yang satu ini,” ujar Jeremy kemudian memasang mimik wajah nakal. “Bagaimana kalau aku mengantarmu bertemu dengan Andro.”
“Tidak!” tolak Marsha mentah-mentah
__ADS_1
“Apa?”
Jeremy kaget, padahal jurus ini adalah jurus pamungkasnya. Ia sudah jemawa jika Marsha pasti akan menerima tawaran yang satu itu.
“Aku tidak akan mau bertemu Andro dengan bantuanmu, karena apa? karena itu hanya akan kamu buat sebagai senjata untuk mengancamku nantinya. Aku tahu Mami belum tahu kalau Mia adalah kekasihmu, sekali aku bilang ke Mami maka lihat saja, kekasihmu itu akan kehilangan pekerjaannya,” oceh Marsha dengan sangat berani.
“Sya!
Jeremy tak lagi bisa berkata-kata, ternyata diam-diam Marsha tak sebodoh seperti apa yang dia sangka. Gadis itu sudah berani mengancamnya. Ia jelas sangat mencintai Mia, dan kelemahan terbesarnya adalah sang pujaan hati.
“Bilang saja, semua orang juga diam-diam sudah tahu.” Marsha menjawab dengan enteng, dia bahkan membuat senyuman mencibir sambil mengedikkan bahu. “Om pikir aku bodoh? aku hanya berpura-pura bodoh, tapi karena Om sudah sangat kejam padaku, aku juga bisa menunjukkan kekejamanku.”
“Sya, itu hanya kaus, maksudku …. “
“Ya, karena itu hanya kaus seharusnya Om membiarkan saja aku memakainya, untuk apa marah seperti itu, dasar budak cinta Mia.”
Marsha kembali melontarkan kata-kata beracun. Baginya Jeremy benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
"Aku bahkan bisa meminta papi membelikan pabrik kaus itu, kalau aku tidak kepepet aku juga tidak akan sudi meminjam bajumu, tapi gambarnya memang lucu sih, ” omel Marsha. dengan kencang lalu lirih di akhir.
“Kamu memang keras kepala, dengar sekarang aku suamimu jadi kamu harus menuruti perintahku. Ayo pulang! atau aku akan membuat keributan di sini dan membuat Mami Kimi menangis, apa kamu mau pernikahan kita menjadi pernikahan tersingkat di dunia.” Jeremy menunjukkan posisinya, dia gemas juga sampai ingin meremas ke dua pipi Marsha.
Ucapan Jeremy barusan membuat Marsha diam dan berpikir, dia membayangkan bagaimana kecewanya Kimi dan Richie jika sampai Jeremy benar-benar menjalankan ancamannya.
“Jangan mengancamku! Aku tidak suka.”
“Sepertinya semua yang ada di diriku memang tidak kamu sukai,” kata Jeremy.
“Tidak, aku suka dompetmu,” jawab Marsha sambil memutar bola matanya malas.
_
_
Scroll ke bawah
__ADS_1