Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 67 : Dicoret


__ADS_3

“Aduh! Sakit tahu.”


Marsha menumpukan dua telapak tangan ke kening, karena Jeremy baru saja menyentil dahinya dengan kekuatan dua jari membabi buta. Ia meringis, tapi sejurus kemudian menatap pria di depannya ini dengan sorot mata benci, padahal baru saja dia terpesona tadi.


“Belum menikah saja sudah berani melakukan kekerasan, apa jadinya nanti," omel Marsha.


“Jangankan disentil. Anak sepertimu pantas untuk dipukul! Ke mana ponselmu, kenapa tidak menjawab panggilan mami?”


Jeremy tak mau kalah, jika bukan karena tanggungjawab sebagai seorang pria dan warna negara yang baik, dia juga enggan mencari Marsha seperti ini. Tubuhnya lelah karena bekerja seharian, tapi dia mulai berpikir untuk membiasakan diri. Setelah menikah mungkin menghadapi Marsha akan lebih berat, dari hanya sekadar mencarinya seperti ini.


“Pergi saja kalau Om mau ceramah, tapi berikan aku ongkos untuk naik taksi. Aku bukan mengemis, aku pinjam. Setelah punya uang aku akan kembalikan.”


Marsha masih saja bersikap sombong, padahal bisa saja dia menurut. Kalori dari sushi yang dia makan dengan jaminan gelang tadi bahkan sudah habis terpakai untuk marah pada Andro dan jalan kaki. Seharusnya dia menurut saja, jadi tak perlu menguras energi.


“Aku masih bersikap baik, jangan tunggu kesabaranku habis. Masuk mobil dan aku akan mengantarmu pulang!” bentak Jeremy. Ia tidak peduli dengan pandangan orang yang memperhatikannya dan Marsha sejak tadi.

__ADS_1


Marsha mematung, dadanya naik turun menahan amarah tapi pada akhirnya dia memilih untuk membuang egonya jauh-jauh. Gadis itu berjalan setelah menghentakkan kaki di depan muka sang calon suami.


“Pakai sabuk pengamanmu!” titah Jeremy.


Namun, gadis sembilan belas tahun di sampingnya ini malah membuang muka, hingga dia meraih seat belt dan menariknya ke depan, barulah Marsha mengambilnya.


“Aku bisa memakainya sendiri, tidak usah sok perhatian. Ingat! hubungan kita tak lebih dari …. “ Marsha melirik ke kiri dan kanan, dia bingung menggambarkan hubungannya dan Jeremy.


“Hubungan kita tak lebih dari ….. “


Marsha kicep, dia tolehkan badan menghadap jendela. Sepanjang perjalanan pulang dia memilih bungkam. Ia yakin orangtuanya pasti akan memarahinya. Marsha memang sudah terbiasa di anak emaskan. Beruntung baginya, saat tiba di rumah ternyata pamannya Daniel ada di sana.


“Paman!” Marsha berlari dan bahkan tak menutup pintu mobil Jeremy dengan benar. Ia tahu Daniel sangat memanjakannya, jadi kesempatan untuk mencari pembela terbuka lebar.


“Dari mana saja kamu? kami semua mencemaskanmu,” ucap Daniel sambil membalas pelukan sang keponakan.

__ADS_1


Marsha tak menjawab, dia melihat maminya bersedekap dada dengan wajah masam. Beruntung wanita itu tak memarahinya. Begitu juga dengan sang papi yang hanya diam memandangi penampilannya dari atas ke bawah. Marsha pikir akan lolos, tapi nyatanya tidak.


“Sya, kalau kamu sudah tidak mau dididik oleh Papi dan mami, lebih baik kamu bilang sekarang,” ucap Richie.


DEG


Bukan hanya Marsha yang kaget, Jeremy, Daniel bahkan Kimi sendiri tak menyangka Richie bisa berbicara seperti itu.


“Papi!”


“Semua orang lelah Sya, Papi lelah, mami lelah, Jeremy lelah bahkan pamanmu juga ikut kepikiran, sampai datang kemari untuk memastikan keadaanmu, tapi ternyata kamu malah enak-enak keluyuran pacaran dengan cowok itu.” Richie membuang muka, dia sukses membuat takut sang putri.


“Papi,” lirih Marsha lagi.


“Sudah, besok kita ke kantor catatan sipil. Papi mau coret nama kamu dari kartu keluarga.”

__ADS_1


“Ah …. Papi, jangan!”


__ADS_2