
Pengantin baru itu masih memiliki satu malam lagi di hotel. Namun, sesuai dengan ucapan Kimi kemarin, Jeremy dan Marsha harus pergi ke rumah Nova karena wanita itu mengadakan pengajian sekaligus syukuran kelancaran acara pernikahan mereka.
Marsha tak banyak bicara, di dalam mobil dia hanya fokus ke ponselnya. Sesekali nampak senyuman terbit di wajahnya. Gadis itu sibuk berbalas pesan dengan Andro. Cowok itu menanyakan bagaimana sang pacar melewati malam kemarin.
[ Aku membuatnya sakit punggung dan pinggang karena tidur di sofa ]
Marsha mengirim pesan itu setelah melirik Jeremy. Pria keren bertubuh atletis itu bau koyo pedas. Marsha sampai mengedikkan bahu mencibir.
“Jompo,” cicitnya.
“Apa kamu bilang?”
Sial bagi Marsha ternyata Jeremy mendengar. Ia pun memakai jurus diam seribu bahasa dan tidak memberikan tanggapan.
“Apa sih Om, orang aku diam dan anteng dari tadi,” ucap Marsha. Sepertinya 'dusta' bisa dijadikan nama belakangnya.
__ADS_1
Jeremy tak menganggap lagi, meski dia tadi mendengar dengan jelas istrinya itu menyebut kata jompo. Menghindari perdebatan dengan gadis itu jelas lebih baik karena bisa menghemat energi.
Memakan waktu lebih dari tiga puluh menit karena jalanan agak padat, akhirnya Jeremy dan Marsha sampai di rumah Nova. Suasana sedikit ramai, meski acara masih sore nanti tapi kesibukkan terlihat jelas di sana. Seperti biasa, Marsha langsung masuk ke dalam mencari omanya untuk sekadar mencium tangan.
“Lho, mana Jeremy?” tanya Nova. Ia penasaran apakah benar yang dikatakan oleh Cantika padanya, kalau Jeremy sampai sakit pinggang.
“Itu di belakang, jalannya kek kakek-kakek,” kata Marsha. Dia akhiri ucapannya dengan tawa karena takut kalau sampai Nova berpikir dia tidak menghargai suaminya.
“Aduh … aduh, kenapa kamu Je?”
Nova bertanya seolah khawatir, padahal bibirnya sudah tersenyum. Pikirannya liar memikirkan bagaimana panasnya malam pertama di antara Jeremy dan Marsha.
“Oh … iya ada.”
Nova mulai merasakan sedikit keanehan, dia berpikir mungkinkah hanya karena menggempur Marsha Jeremy sampai encok? Wanita itu menoleh sang cucu, dia heran karena Marsha berjalan dengan biasa, gadis itu bahkan melompat dan ikut mendorong meja dengan pembantu rumah.
__ADS_1
“Tunggu, jika digempur semalaman, kenapa Marsha biasa saja? seharusnya dia berbeda donk, minimal jalannya aneh gitu. Kenapa Jeremy yang malah kena encok? Tidak-tidak! jangan bilang cucuku itu sangat jago di atas ranjang. Astaga! dia pasti benar-benar keturunan Tyaga. Kuat dan tahan lama.”
Nova tersenyum sendiri, pikirannya itu membuatnya tak sadar, bahwa di sana Jeremy masih memperhatikannya dengan seksama.
“Oma? Omano!” panggil Jeremy.
Nova pun sadar, dia mengerjab beberapa kali lalu meminta pembantunya memanggilkan rekan sesama pembantu yang jago dalam ilmu perpijatan. Jeremy mengucapkan terima kasih, dia naik ke lantai atas di mana kamar tamu berada.
Tentu saja hal ini tidak disia-siakan Nova begitu saja, wanita itu mendekat ke sang cucu dan menarik tangan Marsha menjauh dari kerumunan orang yang sibuk menyiapkan acara.
“Aduh … apa sih Oma? Kenapa tarik-tarik, pelan-pelan bisa nggak sih,” sewot Marsha.
Nova meminta maaf, dia meminta cucu perempuannya itu untuk diam dan tak banyak bicara, setelah berada jauh dari kerumunan, Nova pun bertanya dengan volume suara kecil. Kepo dia. Tak percaya dengan berita yang dikatakan Cantika karena fakta di lapangan sepertinya berbeda.
“Heh … Sya, kamu udah belah duren belum?”
__ADS_1
Blunder. Nova seperti lupa bahwa cucunya itu gadis paling jahil sedunia. Mendapati pertanyaan seperti itu dari sang oma, Marsha pun berpura-pura bodoh.
“Hah … duren? emang kemarin Omano ninggalin duren di hotel? Kok aku nggak tahu."