Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 96 : Kaus Couple


__ADS_3

“Kamu tidak sedang mengerjaiku, kan?”


Jeremy menatap Peter curiga, dia masih tidak percaya Tuan Kevin meminta hal semacam itu. Kesepakatan besar yang bisa membuat perusahaannya semakin bersinar, dipertaruhkan dengan sebuah double date di pulau Dewata. Apa ini candaan belaka?


“Tidak Pak, untuk apa saya mengerjai Anda? Silahkan tatap mata saya, apakah ada kebohongan di dalamnya?” Jawab Peter sebelum mengedipkan mata ala boneka.


Jeremy menggaruk kening, sebelum bertanya lagi kapan tepatnya Pak Kevin dan istrinya akan datang.


“Nah … itu yang menjadi masalah, dia meminta disiapkan saja, karena kedatangannya akan dia buat sebagai kejutan untuk Anda.”


Peter mengangguk dengan mantap, meski disebutkan bahwa Tuan Kevin ingin pertemuan bisnis ini berjalan ala kencan ganda, tapi Peter yakin pasti diajak juga. Lumayan begitu pikirnya, karena dia bisa cuci mata.


“Kalau begitu cari informasi ke semua resort, villa atau hotel yang mungkin akan digunakan Tuan Kevin. Kamu jelas tahu maksudku ‘kan Pit?” tanya Jeremy. “Aku tidak ingin sampai ada masalah, apa lagi kesepakatan penting ini hancur berantakan.”


Peter mengangguk paham, dia berjanji akan mengusahakan semuanya agar berjalan lancar. Namun, sebelum keluar dari ruangan Jeremy, pria itu berucap-


“Anda bisa percaya pada saya untuk hal yang satu itu, Pak. Tapi bisakah Anda percaya kalau istri Anda tidak akan membuat masalah?”


Jeremy menelan saliva, dia memejamkan mata sekilas sebelum membalas ucapan Peter dengan sedikit jemawa.


“Tenang saja! aku pawangnya.”

__ADS_1


_


_


Jeremy menghabiskan waktu di ruang kerja sampai sore. Rey siang tadi pergi ke perusahaan yang dipimpinnya, sedangkan Cantika belum juga pulang dari acara kumpul sosialita. Seharian ini yang bisa dikerjakan oleh Marsha hanya menyusuri rumah besar itu, dia mencoba berkenalan dengan para pembantu, dan setelah lelah gadis itu masuk ke kamar Jeremy.


“Lihat kamar ini, dia itu masih berumur tiga puluh tiga tahun atau sudah aki-aki sih?”


Marsha mengomentari kamar pribadi sang suami. Menurutnya nuansa kamar itu sangat suram, sehingga dia berniat merubahnya agar nampak sedikit ceria.


“Aku akan membuat temboknya berwarna pink, sprei juga harus pink dan korden itu juga harus pink,” gumam Marsha sambil menunjuk bergantian benda-benda yang dia sebutkan dengan jari telunjuk.


“Astaga, kenapa aku bisa sebodoh ini?” gumamnya. Ia merasa tak bisa berlama-lama, digosoknya seluruh permukaan badan dengan sabun, membilasnya dan menyambar handuk untuk bergegas keluar dari kamar mandi.


“Aku tidak bisa pakai baju yang sudah bau keringat sebanyak dua kali.” Marsha memajukan bibir, dia bingung hingga melihat lemari baju sang suami.


Senyum kecil terbit di bibir Marsha. Ia berjalan mendekat dan membuka lemari itu. deretan kaus milik Jeremy terpampang di depan matanya, semua tersusun rapi berdasarkan warna.


“Aku pinjam kausmu ya Om, iya ambil saja. Terima kasih,” cerocos Marsha. Ia berpura-pura meminta izin kemudian menjawabnya sendiri.


Kini gadis itu sedang sibuk mematut diri di depan cermin. Marsha tersenyum geli saat mendapati kaus Jeremy bagaikan sebuah rok saat dipakainya. Ia ingat dan bergegas mengirim pesan ke Kimi, meminta tolong maminya agar memerintahkan sang pembantu membawakan baju ke rumah Cantika.

__ADS_1


Saat masih sibuk mengetik pesan, Jeremy yang baru saja selesai dengan pekerjaannya masuk ke dalam. Pria itu kaget melihat Marsha yang memakai kaus miliknya. Kaus itu bukanlah kaus sembarangan, itu kaus pasangan yang dibuat khusus oleh Mia sebagai hadiah.


“Marsha, kenapa kamu memakai kaus itu?” amuk Jeremy, pria itu terlihat sangat tidak terima dengan kelakuan sang istri.


“Oh … itu karena …. “


Belum juga Marsha menjelaskan alasannya, Jeremy sudah menarik dan memintanya untuk melepas.


“Lepaskan!”


“Ya ampun Om, aku hanya pinjam karena sudah tidak ada baju ganti. Aku melihat kaus ini motifnya lucu jadi aku ambil saja,” kata Marsha.


“Ini kaus pasangan milikku dan Mia, jangan sembarangan kamu pakai!”


Mendengar ucapan Jeremy entah kenapa hati Marsha mencelos. Dadanya serasa teriris. Ia bergegas menyambar baju lamanya dan masuk ke dalam kamar mandi. Mata Marsha berkaca-kaca, dia melempar kaus yang sudah dia lepas ke depan muka Jeremy sesaat setelah keluar.


“Ini! aku kembalikan kaus pasanganmu!” bentak Marsha setelah itu keluar dari kamar dan membanting pintu.


“Di-di-dia? Apa dia menangis?” gumam Jeremy, dia melihat lelehan air mata membasahi pipi Marsha tadi. “Ah … sial!” pekiknya frustrasi.


Jeremy tak sadar bahwa dia sangat membutuhkan Marsha, agar kesepakatannya dan Tuan Kevin berjalan lancar. Kini gadis itu marah, pasti akan sulit baginya untuk melunakkan hati Marsha.

__ADS_1


__ADS_2