Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 161 : Marsha Sakit


__ADS_3

“Marsha, dia mual-mual setiap pagi sudah beberapa hari ini. Apa mungkin dia hamil?”


Meski tidak ada orang disekitarnya, tapi wanita tua itu berbicara sambil berbisik. Cantika menghubungi Nova setelah melihat kondisi Marsha yang lagi-lagi tidak bisa memasukkan makanan ke dalam perut.


“Jeremy bahkan tidak bekerja hari ini, dia sepertinya sedang membujuk Marsha untuk pergi ke rumah sakit,”imbuh Cantika.


“Coba kamu terus pantau kondisinya, apa Kimi sudah tahu putrinya sakit?”


“Apa aku harus memberitahu Kimi?” tanya Cantika.


“Jangan! biarkan saja Jeremy yang memberitahu mertuanya kalau benar istrinya sakit, kita tidak perlu mencampuri urusan mereka.”


Setelah berbicara beberapa menit dengan sahabatnya, Cantika pun turun menemui pembantu. Ia meminta dibuatkan bubur untuk Marsha. Cantika khawatir jika tidak ada makanan sedikitpun yang masuk ke dalam perut gadis itu.


Sementara di kamarnya Marsha nampak memejamkan mata. Kepala gadis itu bersandar di dada Jeremy yang sudah berganti baju karena mengurungkan niat bekerja. Diusapnya kepala Marsha lalu mengecup kening gadis itu lembut. Ia masih berusaha membujuk Marsha untuk pergi ke dokter. Selain memeriksakan kandungan, Jeremy pikir sang istri juga butuh obat atau vitamin penunjang.

__ADS_1


“Sya, apa kamu tidur? Ayo kita ke dokter. Ke rumah sakit lain, bukan di tempat mami,”bujuk Jeremy.


“Tidak mau, Kak. Sama saja, hampir semua dokter kenal mami. Jika sampai dokter itu memberi selamat di group chat dan mami tahu, aku takut dia akan marah.”


“Mami tidak akan marah, Sya! Percaya padaku! kita ke dokter,ya!”


Merasakan kondisi tubuhnya yang memang tidak baik, Marsha akhirnya mengangguk. Untuk beberapa menit Jeremy mencoba mengecek ketersediaan dokter kandungan di rumah sakit, yang terletak agak jauh dari tempat tinggal mereka. Jeremy melakukan ini hanya untuk melegakan hati istri kecil yang sangat dicintainya ini.


Cantika yang datang bersama pembantu ke kamar, awalnya agak kecewa karena Marsha tidak mau menyantap bubur yang sudah dibuat. Namun, mendengar cucunya itu akan pergi untuk memeriksakan kandungan hatinya seketika merasa senang. Ia bahkan mengantar sampai ke halaman dan tak lupa berpesan agar Jeremy membawa mobil dengan hati-hati.


***


“Nggak enak banget ya, Sya?”


Jeremy melepaskan tangan kirinya dari kemudi, dia meraih jemari Marsha yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


“Rasanya mual lagi, kak!” keluh Marsha. Matanya bahkan merambang dan hampir menangis.


Jeremy bingung dengan kondisi yang terjadi. Baik dirinya ataupun Marsha pasti seratus persen sadar, kalau sering bercinta tanpa menggunkan pengaman memberikan peluang lebih besar kebobolan. Ia pria sehat, Marsha juga memiliki fisik yang sama sehatnya ,jadi kehamilan ini sungguh sangat wajar terjadi. Hanya saja masalahnya, Marsha dengan usia yang tergolong masih muda seperti belum bisa menerima kondisinya.


“Sabar ya! setelah lampu merah aku akan masuk jalan perkampungan agar kita cepat sampai.”


Jeremy semakin mempererat genggaman tangan mereka. Ia merasa sangat sedih melihat kondisi Marsha yang seperti ini. Kecerian seolah pudar dari sang istri, selama menikah baru kali ini Jeremy melihat Marsha tak berdaya, dan ini pun karena ulahnya.


“Aku harus senang atau sedih? Brontosaurus milikku ternyata sangat hebat,”gumam Jeremy di dalam hati.


Ia menoleh Marsha yang kembali memejamkan mata, tubuh gadis itu terlihat lemas. Hingga, Jeremy ketakutan karena genggaman tangan Marsha melonggar.


“Sya, Marsha!” panggil Jeremy yang panik.


Ia menepikan mobil lalu mencoba menepuk pipi Marsha, jantungnya hampir saja berhenti berdetak menyadari bahwa Marsha pingsan.

__ADS_1


Tak berpikir panjang, Jeremy memutar mobilnya kembali. Rumah sakit Kimi jauh lebih dekat dari posisi mobilnya berhenti. Ia tak peduli akan dimarahi atau dimaki mertuanya, yang terpenting baginya adalah kesehatan Marsha.


__ADS_2