
Marsha malah tertawa, dia melirik Jeremy yang masih duduk dengan menahan nyeri. Meski dikatai MRT dia tidak ambil hati, toh Marsha sadar pria di depannya ini pasti sudah dibuat pusing tujuh guling-guling karena perjodohan yang dicetuskan Nova dan Cantika.
“Sepertinya hari ini aku tidak bisa membahas apa yang ingin aku bahas, jadi aku akan menghubungimu lagi nanti,” ucap Jeremy pada akhirnya.
Marsha mengangguk, dengan penuh percaya diri dia membalas ucapan Jeremy. “Serius? kalau begitu pertemuan selanjutnya Om harus benar-benar membahasnya, kalau tidak …. “
“Kalau tidak apa?” potong Jeremy cepat.
“Kalau tidak, aku akan menganggap Om menyukaiku karena dengan sengaja terus meminta bertemu.”
Jeremy melongo, ternyata luar biasa tinggi tingkat kepercayaan diri gadis bernama Marsha ini. Pria itu pun mulai berpikir bahwa berurusan dengan Marsha benar-benar tidak akan mudah, jika benar gadis itu bisa meredam kesialan yang datang bertubi-tubi menerpanya, maka mungkin bisa jadi hipertensi akan menjadi konsekuensi. Jeremy merasa tekanan darahnya terus naik saat berbicara dan menghadapi putri Kimi ini.
“Sudah lah ayo pulang! aku tidak ingin menghabiskan hari libur dengan bertemu Om, tak berfaedah sekali,” ucap Marsha. Gadis itu berdiri lantas memakai tas selempang ke pundak.
“Apa? tak berfaedah? Apa dia sedang meremehkan aku?”
Gigi Jeremy bergemerutuk, jika tidak sedang berada di tempat dengan pengawasan CCTV di setiap sudut, jelas dia akan langsung menjitak kepala Marsha.
“Lebih baik Om berikan poin-poin apa saja yang harus aku sepakati, jika ada yang tidak aku setujui aku akan merevisinya langsung. Jadi, kita tidak perlu sering bertemu. Aku takut Om lama-lama jatuh cinta ke aku.”
Lagi, netra Jeremy membola. Ia yang sudah berdiri dari sofa kini membeku. Ingin rasanya dia kalungkan lengan ke leher masa dan menguyah kepala gadis itu bak zombie kelaparan.
“Dari mana kamu bisa mendapat pikiran semacam itu?” tanya Jeremy.
Demi harga diri, pria itu meredam rasa kesalnya dan berjalan mensejajari Marsha menuju buggy car yang akan mengantar mereka kembali ke parkiran.
“Di TV banyak, di komik juga ada. Bahkan segera tayang di ABI TV sinetron dengan judul ‘Perjanjian Pernikahan Upik Abu dan Abulawas’.”
__ADS_1
Marsha menggut-manggut, dia menoleh Jeremy yang mulai pening. Pria itu menggosok kening dengan jari telunjuk, membuat bibir Marsha gatal untuk berucap lagi-
“Hei, Om pasti sudah menyelidiki latar belakangku ‘kan? jadi mana mungkin Om tidak tahu kalau aku keponakan Nicholas Sebastian pemilik ABI TV. Aku keponakan Daniel Tyaga - pria terkaya di negara ini, dan Ghea artis yang paling digilai para pria di masanya,” cerocos Marsha. “Aku putri tunggal Richard Tyaga dan Dokter Kimi- pasangan paling murah hati di negara ini,” imbuhnya.
Jeremy mengembuskan napas panjang. Ya, dia jelas sudah tahu dari klan mana gadis bawel yang terus bicara sepanjang jalan ini berasal. Ia juga sadar bahwa harta kekayaan mereka tidak akan habis tujuh turunan dan tujuh tanjakan, apa lagi jika harta keluarga mereka disatukan, sudah pasti semua lini kehidupan akan dikuasai keturunan mereka
Mulai dari bidang kesehatan, pangan, transportasi sampai komunikasi. Benar, karena perusahaan Jeremy bergerak di bidang transportasi dan komunikasi, dia adalah pemilik provider terbesar di negara ini bernama Baskomsel dan sebuah maskapai penerbangan bernama ‘J Air’.
***
“Lalu pacarmu itu, dari keluarga mana dia?”
Pertanyaan Jeremy membuat Marsha terdiam, dia menoleh pria itu saat mereka kini sudah berada di dalam mobil untuk mengantarnya pulang.
“Tidak dari keluarga mana-mana, dia rakyat biasa,” jawab Marsha. “Tapi, aku menyukainya. Aku tipe mahkluk yang susah percaya pada orang apalagi jatuh cinta, dan Andro bisa membuatku merasakan itu.”
“Debaran-debaran cinta lah Om. Ya … elah kek nggak pernah muda aja!”
Jeremy membuang muka, dia seharusnya tidak menanyakan hal itu ke Marsha karena hanya akan membuat hati dongkol. Jeremy memilih diam, hingga Marsha tiba-tiba memintanya berbelok ke kiri, sedangkan dia tahu betul jalan ke rumah Nova dan bahkan rumah keluarga Marsha adalah belok ke kanan. Jeremy pun memilih menepikan mobil dan bertanya ke gadis cerewet di sebelahnya.
“Mau kemana? bukankah aku harus mengantarmu pulang?”
“Iya pulang, tapi aku mau pulang ke rumah tanteku Mina. Aku tidak mau diwawancarai Omano. Apa Om pikir aku akan lolos begitu saja setelah pergi beberapa jam dengan Om? Oh … tentu tidak, Omano pasti akan berubah profesi menjadi wartawan majalah gosip,” cerocos Marsha.
“Ya sudah pulang ke rumahmu sendiri,” jawab jeremy.
“Ke rumah? Oh … tidak mau, karena mamiku kemarin shift malam, jadi dia pasti capek. Kalau dia tahu aku pulang lalu pergi lagi, pasti aku akan kena interogasi.” Marsha menyipitkan mata, dia seperti mengancam pria disebelahnya ini agar mengikuti apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Jeremy sejatinya ingin menolak permintaan Marsha. Namun, bersamaan dengan itu ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Ia meraih benda pipih itu dari dashboard dan membaca pesan yang masuk ke sana. Ternyata Mia memintanya bertemu di sebuah kafe. Jeremy meletakkan kembali ponselnya setelah membalas pesan itu. Sudah jelas dia tidak bisa menolak permintaan sang pujaan hati.
“Baiklah aku antar ke rumah tantemu,” ucap Jeremy. Ia kembali menyalakan mesin mobil dan mengarahkan kemudi sesuai dengan petunjuk Marsha.
Namun, lagi-lagi dia dibuat heran saat gadis itu memintanya berhenti tepat setelah lolos dari pos penjaga komplek perumahan.
“Mana rumah tantemu?” Jeremy menoleh Marsha. Gadis itu sibuk melepas sabuk pengaman dan merapikan baju juga rambut.
“Itu di depan, jarak enam rumah dari sini.”
“Kenapa kamu meminta berhenti di sini? jangan-jangan pacarmu sudah menunggu. Aku tidak mau sampai disalahkan jika terjadi apa-apa denganmu.” Jeremy menolehkan kepala ke kanan juga ke belakang, dia mencari kemungkinan keberadaan kekasih Marsha di sekitar sana.
“Hish … tenang saja! tidak akan ada yang menyalahkan Om. Malah bahaya kalau Om mengantarku sampai depan rumah tante Mina.”
Mata Marsha menyipit tajam dan membuat Jeremy terlonjak kaget. Gadis itu mengangkat tangan kiri menunjuk keluar dari kaca jendela depan.
“Kenapa? ada apa?” Jeremy berusaha tenang, dia mencoba menyembunyikan rasa kaget yang menyergap.
“Rumah-rumah di sini bukan sembarang rumah, penghuninya adalah sekumpulan wanita yang aku rasa mereka adalah agen rahasia, mereka mata-mata.”
Jeremy menelan saliva, dia mengedip dan bahkan dengan bodohnya terpancing ucapan Marsha. “Apa ada sniper juga?”
“Hem … bisa jadi, mereka menamakan diri sebagai geng sulitini blok kamboja, tapi aku lebih suka menyebut mereka Geng Jojoba.” Putri tunggal Kimi dan Richie itu mengangguk, ekspresinya yang serius membuat Jeremy kembali menelan saliva.
“Apa itu Jojoba? Apa itu nama markas mereka?”
“Bukan!" Marsha menggeleng. "Jojoba itu Jompo-jompo Bahagia,” imbuhnya mantap. Ia pun seketika membuat Jeremy tersadar.
__ADS_1
"Sial! bocah ini terus saja berhasil mengerjaiku."