
Wajah Tuan Kevin dan Linda nampak senang, sepertinya acara liburan ini hanyalah honeymoon berkedok bisnis bagi mereka. Setelah lelah berputar-putar seharian ke tempat-tempat yang menyenangkan. Mereka memutuskan kembali ke villa.
Namun, di tengah perjalanan Linda meminta berhenti di sebuah SPBU untuk pergi ke kamar mandi. Sebagai sosok paling muda di sana, dan juga istri dari Jeremy. Marsha pun menawarkan diri untuk menemani.
Marsha berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi, dia menawarkan diri untuk membawakan tas dan ponsel milik Linda, karena terburu-buru wanita itu pun menyerahkan ponsel tanpa mengunci layarnya, hingga Marsha bisa melihat dengan jelas kalau wanita itu sedang berbalas pesan dengan kontak yang dia beri nama ‘Si sulung’.
“Anak pertamanya pasti.”
Begitu yang ada di pikiran Marsha. Gadis itu mau tak mau melihat dengan jelas isi percakapan di aplikasi berbalas pesan milik Linda, tapi tak lama dia gemetar. Marsha pun memilih membalik ponsel milik Linda dan berpura-pura tak melihat apa-apa.
“Sudah?” tanya Jeremy mendapati sang istri dan Linda masuk ke dalam. Marsha membuang muka ke luar jendela, dia bingung haruskah memberitahu hal ini ke Jeremy atau tidak.
***
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Mereka pun tiba kembali di villa. Entah kenapa tiba-tiba sikap semua orang terasa berbeda. Marsha memilih untuk tak peduli, dia masuk ke dalam setelah Tuan Kevin dan Linda. Sementara Jeremy memilih mencekal tangan Peter, menarik sekretarisnya itu ke halaman samping, tapi dasar Marsha. Mendapati gerak-gerik mencurigakan dari suaminya dan peter, dia memutar tumit dan mengendap untuk menelinga.
“Carikan Pet, aku tidak mau tahu!” titah Jeremy.
“Pak, saya tadi di mobil sepanjang perjalanan sudah mencari via gulu-gulu, bentuk sekss toys kecoa itu tidak ada. Lagi pula aneh-aneh saja, siapa juga yang mau fantasi liarnya diganggu dengan sosok mahkluk menjijikan itu, mustahil!” cerocos Peter.
“Lalu aku harus bagaimana? Itu keinginan bu Linda, apa aku tawarkan model lain?” tanya Jeremy.” Mana HPmu coba buka!” titahnya.
Peter mematung, dia memindai wajah Jeremy dengan ekspresi dingin lalu berkata,” Apa Anda tidak bisa mencarinya di ponsel Anda sendiri? Bapak sudah membuat saya berubah menjadi mahkluk mesum sejak selesai menonton seni tari tadi.”
“Minta saja Istri Anda berkata jujur kalau dia berbohong soal mainan kecoa itu, Pak!”
Peter menganggukkan kepala, mencoba mempengaruhi Jeremy. Namun, atasannya itu malah memukul lengannya, dan berkata kalau itu sama saja bunuh diri dengan menunjukkan bahwa Marsha tukang bohong.
__ADS_1
“Bagaimana kalau mereka berpikir begini ‘istrinya saja tidak jujur, tidak bisa dipercaya lalu bagaimana membuat kesepakatan besar dengan suaminya’, apa kamu bisa bertanggungjawab jika itu sampai terjadi?” omel Jeremy. “Itu bisa membuat citra diri Marsha menjadi buruk.”
Marsha yang sejak tadi menguping pembicaraan dua pria itu pun menjadi merasa bersalah. Ia sudah membuat Peter kesusahan dan Jeremy pusing. Tak Marsha sangka Jeremy peduli dengan berkata tidak ingin membuat citra dirinya jelek, gadis itu merasa tersanjung dengan sikap sang suami.
“Lalu suruh saja istri Anda itu mencari alat bantu yang baru berbentuk ide itu, atau minta dia membuka pabrik sendiri.”
PLAK
Marsha muncul dan langsung memukul punggung Peter, bibirnya maju mundur dan komat-kamit.
_
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇