Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 164 : Salah Sangka


__ADS_3

Nova melihat Marsha yang terlihat sedih, hingga kemudian mendekat untuk bertanya ke cucunya itu.


“Kamu kenapa apa ada yang sakit?” tanya Nova sambil mengamati wajah Marsha, merasa jika sang cucu tidak bahagia.


“Aku nggak kenapa-napa kok Oma,” jawab Marsha menyembunyikan kesedihan.


Nova tidak percaya begitu saja, berpikir jika pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Marsha.


Kebetulan di saat yang bersamaan, Kimi dan Richie datang ke rumah sakit dan kini sudah berada di kamar inap Marsha. Nova menyadari jika Marsha terlihat semakin tertekan saat Kimi datang, bahkan gadis itu kini menundukkan kepala.


Nova akhirnya paham kenapa Marsha terlihat murung, dia juga tahu soal Kimi yang meminta Jeremy agar tidak membuat Marsha hamil sebelum berusia dua puluh tahun.


Marsha tidak berani menatap sang mami, dia terus menunduk karena takut wanita yang melahirkannya itu marah.


Kimi sendiri datang baik-baik, dia tersenyum ke semua orang yang ada di sana, sebelum kemudian menatap sang putri.


“Bagaimana kondisimu?”


Marsha masih merasa jika Kimi hanya sekadar basa-basi saja, dan hal ini membuatnya masih menunduk karena takut.


“Anak sudah masuk rumah sakit sejak pagi, tapi ibunya malah baru datang sekarang. Atau jangan-jangan sebenarnya kamu tidak suka mau punya cucu?” sindir Nova tanpa menatap Kimi.


Kimi pun terkejut mendengar ucapan Nova, padahal dia tidak pernah sekalipun berpikir demikian.


Richie mencium gelagat tidak mengenakkan dari ucapan ibunya, hingga kemudian mencoba membela sang istri.


“Bukan begitu, Ma. Kimi tadi sudah melihat kondisi Marsha, lalu pulang sebentar untuk membersihkan diri dan baru ke sini bersamaku,” ujar Richie menjelaskan.

__ADS_1


Marsha melihat Kimi yang tertekan karena ucapan Nova, hingga memilih meraih tangan Kimi dan menggenggamnya erat.


“Oma, ini sudah malam. Lebih baik Oma pulang dan istirahat,” ucap Marsha yang secara tidak langsung mengusir secara halus sang nenek.


Nova terkejut mendengar ucapan Marsha, dia juga sadar dan tidak ingin memperkeruh keadaan. Akhirnya Nova pamit dari sana dan berjanji akan kembali lagi besok pagi.


Setelah Nova pergi, Richie mengajak Jeremy membicarakan masalah pekerjaan, sedangkan Kimi kini duduk di kursi yang berada di samping ranjang Marsha.


Marsha terus menatap Kimi, dia tahu jika ibunya itu pasti sedih dan kecewa karena dia hamil secepat ini.


“Mami nggak bahagia ya tahu aku hamil?” tanya Marsha. Ia menatap sendu sang ibunda.


Kimi tentu saja terkejut mendengar hal itu, kemudian menggelengkan kepala pelan.


“Mami bukannya nggak bahagia, Sya. Mami hanya khawatir dan cemas akan kondisimu,” jawab Kimi menepis pikiran sang putri.


Kimi mencoba menerima semua yang sudah terjadi, bagaimanapun juga dia tidak bisa menolak janin yang sudah tumbuh di rahim Marsha.


“Aku pikir Mami sedih dan marah karena aku hamil,” ucap Marsha sambil menundukkan kepala.


“Mami hanya takut kamu hamil di usia muda, Sya. Banyak resiko yang harus dihadapi.” Kimi pun berusaha jujur ke Marsha akan ketakutannya.


“Aku yang salah, Mi. Jadi Mami jangan salahkan kak Je. Aku hamil karena melarangnya memakai pengaman. Aku yang salah, terlalu bersemangat karena penasaran dengan semua gaya yang pernah aku lihat.”


Marsha tanpa sadar keceplosan. Ia tak sadar sudah membuat Kimi mendelik mendengar pengakuannya.


Kimi malah merasa malu karena Marsha bisa sejujur itu. Dia pun berdeham untuk memecah kecanggungan.

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian, Kimi dan Richie akhirnya meninggalkan rumah sakit karena sudah larut malam. Kini di kamar itu hanya ada Jeremy dan Marsha.


Jeremy tidur di ranjang khusus yang disediakan untuk penunggu pasien, sedangkan Marsha terlihat gelisah dan belum bisa tidur.


Marsha menoleh Jeremy, hingga kemudian memanggil suaminya itu.


“Kak Je, apa kakak sudah tidur?” tanya Marsha.


Jeremy yang belum benar-benar tidur, lantas membuka mata dan menoleh ke Marsha.


“Ada apa? Kamu butuh sesuatu?”


“Kak Je tidur sini, aku nggak bisa tidur sendirian.” Marsha menggeser posisi berbaringnya agar Jeremy bisa tidur di sana.


“Tapi nanti sempit,” tolak Jeremy.


Marsha merengek karena sang suami menolak, dia bersikukuh agar Jeremy mau tidur di sebelahnya.


Akhirnya Jeremy pun menuruti keinginan Marsha daripada istrinya itu rewel semalaman. Namun, ternyata alasan itu hanya dibuat-buat oleh Marsha agar suaminya bangun. Seperti biasa dia tidak bisa tidur dalam kondisi masih menggunakan bra.


“Kak, aku sebenarnya nggak bisa tidur karena masih pakai bra. Mau aku buka susah," keluh Marsha sambil menunjukkan sebelah tangan yang terpasang selang infus.


"Bantu bukain!" pintanya.


Jeremy geleng-geleng kepala, kenapa tidak bilang dari tadi malah menggunakan banyak alasan. Akhirnya Jeremy menelusupkan kedua tangan di balik piyama Marsha, hendak membuka pengait bra istri kecilnya itu.

__ADS_1


Namun, tak mereka sangka di saat bersamaan, seorang perawat yang hendak mengecek infus dan suhu tubuh Marsha masuk, dia sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Jeremy. Perawat itu buru-buru kabur karena berpikir jika Marsha dan Jeremy hendak bercinta di sana.


"Astaga Kak, perawat itu pasti berpikir kakak mau mengajakku tawuran."


__ADS_2