Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 177 : Kelahiran


__ADS_3

Kondisi Marsha tiba-tiba melemah, semua dokter dan perawat mencoba tenang meski sebenarnya mereka sangat panik.


Kimi berada di atas kepala Marsha, terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan putrinya. Hingga air mata yang deras mengalir tidak dirasa, sudah sekuat tenaga menahan, tapi nyatanya Kimi tetap tidak sanggup melihat kondisi sang putri.


***


Di luar, Jeremy yang baru saja datang, berlari sekuat tenaga dan langsung menghampiri Rey. Ia panik sekaligus bingung.


“Bagaimana kondisi Marsha, Rey?” tanya Jeremy dengan wajah cemas.


“Marsha sekarang ada di ruang operasi,” jawab Rey.


Jeremy serasa ditampar, dia semakin panik karena takut terjadi sesuatu ke istrinya.


“Tekanan darah Marsha sangat tinggi, bahkan dia hampir tidak sadarkan diri. Sebab itu dokter menyarankan agar Marsha segera melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya,” ujar Rey. Ia menceritakan ke sang kakak apa adanya.


Lagi pula tidak ada gunanya menutupi kondisi Marsha, karena Jeremy juga sudah tahu sejak awal akan resiko kehamilan yang dialami sang istri.


Kedua kaki Jeremy terasa lemas, dia bahkan limbung dan hampir jatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding. Dia takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Marsha dan calon anak mereka.

__ADS_1


***


Di dalam ruang operasi. Kimi benar-benar ketakutan hingga kedua tangannya gemetar. Kimi takut jika terjadi komplikasi ke Marsha. Bahkan saat perawat memasang kantong darah, Kimi begitu kebingungan, padahal hal itu biasa dilakukan saat melakukan operasi jika memang dibutuhkan.


Namun, karena terlalu takut hal ini membuat Kimi seperti tidak bisa menerima semua yang dilakukan oleh tim medis yang menangani Marsha.


Indikator yang menunjukkan detak jantung bayi semakin melemah, membuat dokter Rere langsung melakukan prosedur operasi sesar, seperti berpacu dengan waktu, dokter itu tak ingin sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Hingga beberapa menit kemudian, wajah dokter Rere yang tegang seketika mengendur, akhirnya bayi Marsha berhasil dikeluarkan.


Namun, nyatanya kelegaan dokter Rere tak berlangsung lama karena bayi itu tidak langsung menangis.


“Kenapa bayinya tidak menangis?” tanya Kimi panik.


Dokter anak yang ikut dalam operasi itu pun langsung mengambil alih. Dia dan perawat membersihkan lubang hidung bayi, lantas menepuk-nepuk punggung bayi itu. Hingga pada akhirnya suara tangis bayi pun pecah di ruang operasi.


Air mata semakin meluncur bebas dari kelopak mata Kimi saat mendengar cucunya menangis, tapi rasa haru itu hanya sekejap dirasa karena menyadari jika sang putri masih mendapatkan penanganan karena kondisi yang tidak stabil.


Sementara itu di luar ruangan, Rey membantu Jeremy untuk tetap berdiri dengan tegap, dia mencoba menguatkan sang kakak sambil berdoa agar Marsha dan bayinya selamat.

__ADS_1


“Dia pasti baik-baik saja, Kak.” Rey terus memberikan dukungan ke Jeremy.


Rey sendiri tahu bagaimana perasaan Jeremy, kakaknya itu pasti sangat cemas karena kondisi kandungan Marsha yang memang sejak awal beresiko tinggi.


Jeremy sendiri tidak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya seolah tercekat hingga tidak ada kata yang bisa diucapkan. Dia tidak akan pernah bisa tenang sampai mendapatkan kepastian akan kondisi istrinya.


Hingga saat keduanya masih harap-harap cemas menunggu, terdengar suara bayi yang menggema begitu keras. Kedua kaki Jeremy semakin lemas, hingga dia terduduk di lantai sampai bersujud untuk mengucap syukur.


Melihat kakaknya yang begitu bahagia, Rey pun sampai menitikkan air mata. Jeremy bangun, kemudian memeluk Rey untuk meluapkan kebahagiaan yang tiada tara.


“Bayinya sudah lahir, selamat Kak.” Rey menepuk-nepuk punggung Jeremy.


Namun, meski ada kelegaan setelah mendengar suara bayi, tapi Jeremy tetap cemas karena belum tahu bagaimana kondisi Marsha.


Keduanya masih menanti, hingga beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka. Perawat mendorong ranjang pesakitan yang membawa Marsha, di sana Kimi juga mengikuti perawat yang memindahkan Marsha ke ruang observasi.


Jeremy panik saat melihat Marsha yang tak sadarkan diri dengan wajah sangat pucat, dia takut jika sampai terjadi sesuatu dengan sang istri .


"Mi, kenapa dia pucat sekali?"

__ADS_1


__ADS_2