Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 118 : Kenapa Harus Menikah?


__ADS_3

Pagi itu Cantika nampak lebih ceria dibanding biasanya. Rey bahkan dibuat bingung karena saat menghidangkan sarapan di meja, sang nenek tertawa lalu berjengket-jengket seperti menari India.


"Apa hal baik baru saja terjadi?" tanya Rey yang penasaran. "Kenapa nenek bahagia sekali?"


Cantika tak menjawab dan malah mencium pipi Rey. Wanita tua itu berjalan masuk kembali ke dapur, lalu tak lama keluar dengan piring berisi hidangan lain untuk disajikan.


"Nenek, nenek benar-benar!"


Rey hanya mengedikkan bahu karena heran. Dia memilih duduk tenang dan menyantap sarapan. Namun, diam-diam matanya terus menatap ke arah pintu masuk ruang makan, Rey berharap Marsha turun karena dia sangat ingin melihat gadis itu.


"Bukankah Marsha dan kakak sudah pulang, apa mereka terlalu lelah sampai belum bangun?" tanya Rey ke Cantika.


Jawaban sang nenek pun membuat hati Rey mencelos. Cantika berkata, "Mereka pasti sangat lelah, namanya juga pengantin baru. Kamu pasti tahu, mereka paling lembur tiap malam."


Rey tersenyum tipis, merutuki kebodohannya yang menanyakan tentang Jeremy dan kakak iparnya ke cantika. Ia memilih bergegas menghabiskan sarapan, kemudian meninggalkan rumah lebih dulu dari kakaknya.


"Di mana Rey? Kenapa sejak pulang aku belum melihatnya?"

__ADS_1


Jeremy turun sendiri ke ruang makan tanpa Marsha beberapa menit kemudian, pertanyaannya barusan malah dibalas dengan pertanyaan juga oleh Cantika.


"Di mana Marsha? Apa dia belum bangun?"


Jeremy mengangguk, dia berpikir bahwa pertanyaan Cantika hanyalah pertanyaan basa-basi biasa, tapi siapa sangka di balik pertanyaan itu tersimpan harapan besar bahwa dirinya dan Marsha sudah bersatu, untuk mewujudkan cita-cita Cantika memiliki cicit segera.


"Rey sudah berangkat tadi, dia begitu bersemangat mengurus perusahaan, tapi Jer apa kamu tidak merasa aneh?"


"Aneh? Tentang apa?" Jeremy mengerutkan kening mendengar kalimat sang nenek.


"Hem... Benar."


Jeremy tak banyak mengeluarkan kata, dia masih menunggu ke mana arah pembicaraan Cantika.


"Tapi, kenapa dia seperti tidak tertarik pada wanita? Jujur nenek takut dia bagian dari jeruk minum jeruk."


"Nenek jangan sembarangan, aku tahu Rey. Dia menyukai wanita, biarkan saja dia. Nenek jangan mencampuri urusan percintaan Rey, aku tidak setuju juga semisal dia menikah muda, jadi biarkan Rey menikmati masa mudanya. Cukup Marsha yang dipaksa menikah denganku sehingga kehilangan masa mudanya."

__ADS_1


Jeremy tak sadar bahwa ucapannya barusan mengandung dua makna. Pertama, menyalahkan Cantika. Kedua, menyayangkan nasib yang menimpa Marsha. Ia pun menggeleng pelan lantas menenggak air minum di meja.


"Gila! Kenapa juga aku jadi perhatian ke gadis itu?" Gumam Jeremy di dalam hati.


_


_


Karena terlalu lelah Marsha bangun kesiangan. Gadis itu lari tunggang langgang masuk ke kamar mandi untuk bersiap pergi kuliah.


Marsha menggosok gigi sedikit kasar, ingin rasanya dia mencubit pipi Jeremy yang diyakininya sengaja tidak membangunkan dirinya. Marsha tiba-tiba saja merasa sangat sedih. Bagaimana tidak? biasanya ada sang mami yang membangunkan, bahkan menyiapkan segala keperluannya.


"Kenapa aku harus menikah?" lirih Marsha sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi. "Aku masih ingin diurus mami, aku ingin tetap menjadi anak kecil Mami."


Marsha merasa down, tak biasanya dia menjadi lemah seperti ini. Marsha pun menunduk menekuri jemari kaki yang menapak dinginnya lantai kamar mandi.


"Mami, aku rindu Mami!"

__ADS_1


__ADS_2