Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 158 : Takut Hamil


__ADS_3

Marsha dan Jeremy yang kepalang tanggung membiarkan pembantu mengetuk pintu kamar bergantian. Mereka bukannya tidak mendengar suara pembantu yang memberi informasi ada Kimi dan Richie datang, tapi sengaja. Jeremy bahkan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sedang bergerak di atas tubuh Marsha. Hingga istrinya itu tertawa geli sambil terus mendesaah karena ulahnya.


“Ayo cepat bersihkan dirimu!”


Jeremy melempar baju dan celana Marsha, gadis itu buru-buru masuk ke kamar mandi untuk mencuci bagian tubuhnya yang terasa lengket, karena baru saja melakukan kegiatan - yang membuat hormon kebahagiaannya bekerja untuk beberapa minggu ke depan.


Berpura-pura bodoh, Jeremy pun menyapa mertuanya juga Cantika, disusul Marsha yang berjalan mendekat sambil mengikat rambut.


“Tumben Mi.”


Marsha memeluk tubuh Kimi, menghidu aroma sang Mami yang sangat dia sukai. Aroma kasih sayang.


“Mami kangen, Sya. Kita udah seminggu lho nggak ketemu.”


Marsha mengangguk dan menunjukkan raut muka bersalah. Setelah Kimi dia ganti memeluk Richie. Marsha bahkan mengeratkan tangan ke pinggang sampai Jeremy dibuat sedikit envy.


“Sudah peluk Papinya, peluk aku aja sini!”


Tanpa rasa malu Jeremy menunjukkan kecemburuaan, tapi Marsha menggeleng dan malah semakin menjadi-jadi, dia menggoda sang suami dengan mencium pipi Richie berkali-kali.


“Sorry Je, tapi kamu tidak bisa mengingkari kenyataan ini. Cinta pertama Marsha adalah Papi.”

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar ucapan Richie. Malam itu ditemani secangkir teh mereka berbincang hal-hal random, salah satunya mengenai kuliah Marsha.


***


Pagi itu di ruang kelas, Zie terlihat fokus mendengarkan kuliah dari dosennya. Ia mencatat beberapa hal penting tapi tidak dengan Marsha. Sahabatnya itu malah merebahkan kepala dan tidur. Takut jika sampai Marsha dihardik oleh sang dosen, Zie pun menyenggol kaki gadis itu untuk membangunkan.


“Marsha, are you Ok?”


Wajah Marsha terlihat sangat lelah, sambil mengusap mata dan malas-malasa akhirnya dia bangun dan mencoba mendengarkan kuliah yang diberikan sang dosen.


Namun, kondisi Marsha sepertinya kurang baik. Saat kuliah selesai dan hendak menuju kantin bersama Zie untuk mengisi perut, gadis itu berbelok berlari ke kamar mandi karena merasa mual.


Zie cemas, dia susul Marsha yang sudah berlari secepat kilat. Sahabatnya itu menunduk dan menumpahkan isi perutnya ke wastafel.


Mereka tidak memikirkan sesuatu yang macam-macam, sampai Zie ingat selama ini dirinya dan Marsha selalu mendapat tamu bulanan di waktu hampir bersamaan.


“Sya, jangan-jangan kamu hamil.”


Marsha yang baru saja membasuh mulut dengan air keran dibuat terkejut. Bola matanya bergerak liar, dia terlihat susah payah menelan saliva.


“Ha-ha-hamil?

__ADS_1


“Coba ingat-ingat kapan terakhir kamu mendapat tamu bulanan,” kata Zie.


“Aduh!”


Marsha menepuk jidat sendiri. Tak lama dia keluar dari dalam kamar mandi meninggalkan Zie. Marsha berjalan cepat menuju apotik yang tak jauh dari kampus. Meski pernah berkata tidak apa-apa kalau Jeremy sampai menghamilinya, tapi tetap saja ada perasaan was-was di dalam hati Marsha. Ia gelisah, mungkinkah suaminya ‘setopcer’ ini.


Zie lagi-lagi ditinggalkan sendiri, dengan bibir yang mengerucut dia pun menyusul Marsha.


Kini mereka duduk berhadapan di depan mini market yang berada tepat di samping apotik. Sambil menikmati minuman dingin dalam genggaman, Zie melirik kantung plastik berisi tespek yang baru saja Marsha beli.


“Apa kamu tahu cara menggunakan alat itu?” tanya Zie penasaran.


“Aku akan mencari tahu di gulugulu nanti.”


Zie hanya bisa diam, dia lebih tertarik ke Marsha yang sedang menyesap buah lemon yang dibeli di minimarket itu. Tak hanya buah, Marsha juga membeli pisau untuk memotong-motong lemon itu menjadi beberapa bagian.


“Sya, tidak perlu menggunakan tespek itu, karena aku yakin kamu memang hamil.”


Marsha berhenti menyesap buah masam yang dibeli. Wajahnya kini menunjukkan kegelisahan karena mengingat pesan sang mami ke Jeremy.


“Zie, tapi aku tidak boleh hamil dulu sama mami.”

__ADS_1


“Hah... Apa? kenapa begitu?”


“Entahlah, mungkin karena mami dokter, jadi dia tahu resiko hamil di umurku yang masih sembilan belas tahun ini,”lirih Marsha. “Zie, aku takut!”


__ADS_2