
“Dari pada mengajariku bermain golf lebih baik Om mengajariku mengendarai mobil seperti ini,” ucap Marsha saat dia dan Jeremy sudah berada di dalam mobil pria itu.
“Kenapa?” tanya Pria cool yang duduk di sebelahnya.
“Karena papi melarangku, dia bilang aku sembrono dan bisa celaka jika membawa mobil sport seperti ini,” ucap Marsha santai, dia mencebik melihat Jeremy yang dia pikir sedang tebar pesona. Padahal pria itu tanpa tebar pesona pun memang sudah memesona.
“Aku ingin bertanya, tapi kamu harus menjawab dengan jujur. Kenapa bisa kamu malam itu masuk ke kamarku dan menyebabkan tragedi kutang itu?” Jeremy menoleh kaca spion samping, sedangkan Marsha memilih melengos setelah mendengar pertanyaan pria itu.
“Siapa juga yang mau itu terjadi, bukankah paginya Om dengar sendiri aku mengelak, aku memberikan pembelaan tapi Omano dan nenek Cantik tidak mau mendengar,” ucap Marsha. Dan Jeremy tahu bahwa gadis itu memang jujur.
_
_
“Bukti kutang ini sudah jelas Marsha, Oma yang membelikannya untukmu dengan bordiran nama khusus. Ini kutang limited editon keluaran Niel Fashion.”
Marsha pun saat itu tak bisa mengelak, sedangkan Jeremy yang berdiri tepat di sebelahnya nampak bingung menyikapi tuduhan konyol yang diucapkan Nova.
__ADS_1
“Tidak bisa! kalian harus dinikahkan segera!”
Marsha menggoyangkan pundak, mengingat kalimat itu cukup membuatnya takut juga. Tingkahnya itu membuat Jeremy menoleh lantas berkata-
“Kenapa? lihat siapa yang sepertinya memiliki sakit ayan,” sindirnya ke gadis yang sebenarnya tidak ingin dia ajak bermain golf itu. Jeremy hanya ingin mengajak Marsha untuk membicarakan sebuah kesepakatan.
Setelah berpikir semalaman, Jeremy berpikir mungkin Marsha adalah jimat keberuntungan. Kesialannya mungkin saja akan hilang saat gadis itu benar-benar dia nikahi. Dan urusan Mia, dia akan membicarakannya dari hati ke hati dengan kekasihnya itu.
***
Turun dari mobil, Jeremy dan Marsha sudah ditunggu oleh satu unit buggy car yang akan membawa mereka menuju lapangan. Ini jelas bukan pengalaman baru bagi Marsha, tapi dia tetap terlihat antusias. Beberapa kali dia mengambil foto, seperti yang dia bilang. Ia adalah anak hits yang tidak perlu diajari bagaimana cara bergaul.
Pria itu menggeleng menuruti keinginan Marsha, karena dia pikir setelah ini gadis itu lah yang harus menuruti keinginannya.
Mereka pun tiba di lapangan, dua orang kedi membantu keduanya membawa barang. Hingga Jeremy meminta dua kedi itu untuk menunggu mereka dan tak perlu ikut berjalan. Hal ini dia lakukan karena ingin membicarakan masalah pernikahan dengan Marsha. Ia tidak ingin orang lain menelinga.
Jeremy masih sibuk berbicara dengan dua kedi itu, sedangkan Marsha sudah berjalan menjauh dan seolah berlatih memukul bola agar bisa masuk ke dalam lubangnya.
__ADS_1
“Jika masuk aku dan Andro memang akan menjadi pasangan forever,” ucap Marsha setelah itu memukul bola.
Namun sayang, bola itu membelok dan melewati lubang. Gadis itu pun kecewa dan mengambil satu bola lagi dari kantongnya. Ia kembali meletakkannya dan berniat memukulnya lagi, tapi kali ini dia mengucapkan kalimat lain.
“Kalau masuk aku dan si Jerami memang ditakdirkan hidup bahagia.”
Sial, tepat setelah bola itu dipukul olehnya angin yang cukup kencang berhembus, bola itu menggelinding masuk ke dalam lubang dan membuat mata Marsha membeliak lebar.
“Tidak! tidak boleh!” ucap Marsha yang buru-buru menggeleng dan memukuli mulutnya sendiri. Gadis itu tidak sadar bahwa Jeremy sudah berjalan mendekat. Marsha pun mencoba memukul sekali lagi, dan kali ini dia berniat memukul dengan sembarangan agar bola itu tidak masuk ke lubang.
“Kita ulangi, jika bola ini masuk ke lubang, Jerami dan aku akan hidup bahagia dan memiliki banyak anak.”
Marsha menggerakkan stik golfnya. Nahas, dia terlalu bersemangat hingga mengayunkan stik itu terlalu kencang ke arah belakang. Berakibat bagian bawah stik mengenai sesuatu di antara bagian pangkal paha milik Jeremy. Pria itu memekik kesakitan, Marsha bahkan terjingkat dan menoleh ke belakang.
“Apa kamu mau membuatku tidak bisa memiliki anak?” teriak Jeremy murka. Pria itu bahkan melepaskan stik golfnya untuk memegangi asetnya yang berharga.
“Kinderjo-ku,” ucap Jeremy sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
“Hah … kinderjo? Apa Om suka sama kinderjo?” tanya Marsha dengan polosnya.