
"Marsha ...Marsha, kamu itu seharusnya bisa menahan emosi. Mana mau Kak Jeremy memberikanmu uang kalau tingkahmu seperti itu.”
Zie memprotes sikap Marsha saat sang sahabat bercerita sudah mencoba meminta uang ke Jeremy, sejak tadi mereka berada di kamar Marsha. Zie mendengarkan dengan seksama, bagaimana Marsha bicara di panggilan telepon dengan tunangannya. Gadis itu mendengar sendiri cara bicara Marsha. Temannya itu sama sekali tidak seperti seseorang yang sedang meminta, tak ada melas-melasnya, hingga membuat Zie geleng-geleng kepala.
“Si Jerami itu memang menyebalkan!” gerutu Marsha masih kesal karena Jeremy banyak bertanya tadi.
“Astaga! Ingin rasanya kutambal mulutmu dengan madu agar bisa bicara manis. Kamu itu sedang butuh dan hanya dia yang bisa ngasih, seharusnya kamu lebih lembut dan manis saat bicara dengannya,” ujar Zie yang makin keheranan dengan sikap temannya itu.
Bukannya mendengarkan apa yang diucapkan Zie, Marsha malah kesal karena dirinya terkesan diminta memohon agar mendapatkan uang. Sejatinya pantang bagi Marsha mengemis seperti ini, andai bukan demi Andro, dirinya juga tidak akan pernah sudi meminta uang sepeser pun dari Jeremy.
“Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak bisa kalau diminta bersikap baik kepada Om itu,” cerocos Marsha memasang wajah sebal.
“Hubungi lagi. Kali ini bersikaplah lebih manis. Ingat, untuk saat ini hanya calon suami yang kamu sebut Om itu yang bisa menolong. Memangnya kamu punya cadangan lain?” Zie masih mencoba meyakinkan jika hanya Jeremy solusi satu-satunya untuk masalah Marsha.
“Menyebalkan sekali jika harus bergantung dengannya.” Marsha bersedekap dada dan menyandarkan punggung dengan kasar.
“Ayolah, ingat katanya Andro sedang butuh.” Zie membujuk karena Marsha tak memiliki jalan lain.
Gadis itu akhirnya menghubungi Jeremy sekali lagi meski terpaksa. Masih dengan penolakan yang sama, pria itu meminta alasan yang sangat kuat mengapa perlu memberi sejumlah uang kepada gadis itu. Dan tidak ada cara lain, Marsha memutuskan untuk berkata apa adanya.
“Oke, aku akan jujur. Jadi ….” Marsha sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Jadi apa? Cepat katakan!”
“Jadi, Andro membutuhkan laptop. Aku sedang tidak punya uang untuk membelikannya.” Marsha akhirnya mengatakan alasan dirinya ingin meminta uang.
“Apa! Apa kamu ini bodoh!” Suara Jeremy terdengar meledak karena kesal.
“Jangan mengataiku bodoh!” protes Marsha. Dia memiliki pedoman hidup, tidak ada satu orangpun yang boleh mengatainya seperti itu.
“Kamu memang bodoh! Bisa-bisanya kamu berencana membelikan pacarmu itu laptop.”
“Dengar ya, Om. Bukankah kita sudah sepakat kalau aku dan Andro masih bisa berhubungan. Jadi kenapa Om tiba-tiba tidak senang?” tanya Marsha kesal.
“Ini bukan tentang perjanjian itu. Aku hanya heran denganmu yang masih saja bodoh! Bagaimana bisa kamu dimanfaatkan seperti ini dan mau-mau saja!” Jeremy menjeda lisan. “Sampai kapan pun aku tidak akan memberi uang satu sen pun jika untuk cowok itu!”
Setelah bicara Jeremy mengakhiri panggilan itu begitu saja. Marsha memandang ponsel dengan mulut menganga, geram karena Jeremy masih tidak memberinya uang meski dirinya sudah jujur.
Melihat reaksi Marsha saja sudah cukup membuat Zie bisa menebak hasilnya. Sepertinya Jeremy memang bukan pria yang mudah dimintai tolong.
“Lihat! Tidak berhasil juga. Ah, sia-sia saja aku menghubunginya!” geram Marsha ingin membanting ponsel, tapi terlalu sayang karena itu ponsel satu-satunya dan tahu belum bisa beli yang baru.
Marsha berdiri kemudian mondar-mandir di kamar seperti setrikaan. Dia harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk bisa membelikan laptop Andro. Hingga satu nama melintas di kepala, dan membuat senyum merekah di wajah gadis itu.
“Ayo ikut aku!” ajak Marsha, dia mengambil jaket dan juga tasnya yang tergeletak di sofa.
__ADS_1
“Mau ke mana?” tanya Zie dengan dahi berkerut.
“Ke rumah Jeremy,” jawab Marsha bersiap pergi.
“Lah? Bukannya dia tidak mau meminjamkan uang?” tanya Zie kebingungan.
“Sudah, pokoknya antar aku ke sana.” Marsha tidak langsung mengatakan ide di kepalanya.
Zie pun akhirnya menurut, dia mengantar tanpa tahu tujuan utama Marsha. Hingga mereka pun sampai di rumah Jeremy, gadis itu bergegas melepas seat belt lalu turun.
“Kamu tunggu di mobil saja dulu!" perintah Marsha. Ia pun keluar dari mobil, lantas berjalan ke rumah setelah dibukakan pagar oleh penjaga.
Marsha kini sudah berdiri di depan pintu. Dia pun menekan bel berulang kali, berharap orang yang ingin ditemuinya berada di rumah.
Tak berselang lama, pintu pun terbuka dan Rey tampak berdiri di hadapan Marsha sekarang. Gadis itu bernapas lega karena orang yang dia cari ada di sana.
“Marsha?” Rey terkejut melihat Marsha datang.
“Rey, aku butuh bantuanmu,” ucap putri Richie dan Kimi itu dengan cepat.
Rey mengerutkan dahi mendengar ucapan Marsha, kemudian meminta gadis itu masuk terlebih dulu.
“Bantuan apa?” tanya Rey. Dia merasa aneh karena Marsha meminta bantuannya, bukankah jika ada masalah seharusnya Marsha meminta tolong ke sang kakak.
__ADS_1
“Begini, aku sedang dihukum orangtuaku, sekarang aku tidak punya uang lagi. Bolehkah aku meminjam uangmu. Aku ingin membeli laptop.” Marsha langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
“Ha? Meminjam uang?” Rey masih mencerna dulu ucapan gadis di sana. “Kamu tidak punya laptop?” Rey semakin merasa aneh.