Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 94 : Pulang Dari Hotel


__ADS_3

Marsha jelas tak percaya, mungkinkah dia sekarang memiliki kemampuan lain? Menendang saat sedang tidur. Gadis yang sibuk merapikan barang-barangnya di dalam koper itu menggeleng. Lebih baik menganggap Jeremy malu karena memeluknya dari pada membayangkan dia memiliki kekuatan super yang hanya bisa muncul saat tidur saja.


Setelah semua terkemas rapi, Marsha duduk manis menunggu Jeremy selesai dengan barang-barang pribadinya. Mereka nampak normal kali ini. Wajah segar dan penampilan rapi, tapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri, wajah Marsha yang terlalu imut membuat perbedaan usia di antara keduanya sangat kentara.


“Apa harus langsung tinggal di rumah nenek Cantik?”


Marsha baru gelisah saat mobil yang dikendarai suaminya melewati jalan utama menuju rumah sang papi.


“Aku tidak bawa baju lagi,” kata Marsha karena Jeremy tak menjawab keresahannya tadi.


“Tenang saja, kita tidak akan tinggal di sana lama, aku sudah menyiapkan penthouse untuk tempat tinggal kita,” jawab Jeremy.


Pria itu membuang muka menatap ke luar jendela sekilas, sebelum membenarkan letak kacamata hitam yang tersungging di hidung bangirnya.


Marsha tak banyak membantah, dia tahu kebebasan akan lebih mudah didapat jika tidak satu rumah baik dengan orangtuanya maupun Cantika. Marsha yakin, Jeremy juga pasti berpikiran yang sama. Selicik-licik dan sehebat apapun akal dan jurus yang dia keluarkan untuk mencari celah, tak bisa dipungkiri pria di sampingnya ini adalah mahkluk berusia tiga puluh tiga tahun, yang sudah jauh lebih lama hidup di bumi ketimbang dirinya.

__ADS_1


“Penthouse? Wah … aku memang pernah bermimpi tinggal di hunian seperti itu, tak disangka menikah denganmu mewujudkan salah satu mimpiku.” Perkataan Marsha sejatinya hanya sindirian belaka, tapi entah kenapa terdengar seperti rasa syukur dan itu membuat hati Jeremy diam-diam merasa lega.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kediaman Cantika. Sambutan hangat dirasakan Marsha, ternyata saudara-saudara Jeremy masih berada di sana, berkumpul sebelum kembali ke luar kota, bahkan ke luar negeri setelah menghadiri acara mereka.


Berbeda dengan Aprilia yang sombong dengan sengaja tidak menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahannya. Menurut Marsha, saudara-saudara Cantika jauh lebih bersahaja. Namun, manusia tetap manusia, dia bisa berkamuflase menjadi sosok lain di depan orang agar tak terlihat boroknya.


Saat masuk dan menyalami satu persatu saudara sang suami, Marsha merasakan satu perbedaan dari sikap Jeremy ke salah seorang anggota keluarga, yaitu pria yang ternyata adalah anak angkat dari adik Cantika, Jeremy cenderung menjaga jarak, tanpa Marsha tanya pun sepertinya semua orang sudah tahu, pasti ada masalah di antara Jeremy dan pria itu.


_


_


“Apa semua orang sudah pulang?” tanya Rey, dia juga seperti tidak senang dengan kehadiran keponakan sang nenek.


Namun, kali ini Marsha tidak ingin mengulik. Meski dianggap kurang dewasa, tapi gadis itu memiliki prinsip ‘Mind your own business’ , jangan mengurusi urusan orang lain, kecuali dia datang dan meminta solusi akan masalahnya.

__ADS_1


“Sudah, nenek Cantika pergi keluar dan Kak Je – “ Marsha menjeda kata sambil mengerutkan kening seakan-akan sedang berpikir dengan sangat keras. “Dia sepertinya bekerja, atau tidur? Entahlah.”


Marsha tersenyum, dia duduk di kursi dengan leher tinggi tepat di sebelah Rey. Menghardik pria yang secara hirarki adalah adik iparnya, tapi tetap saja harus dia panggil dengan sebutan ‘kak’.


“Ini masih siang dan kamu sudah minum,” kata Marsha.


“Ini hanya bir,” sangkal Rey.


“Kak Rey masih muda, jangan minum minuman seperti ini. Lebih baik kakak minum susu, atau yoghurt, aku pikir itu lebih sehat.” Marsha menggurui, sedangkan Rey langsung menjauhkan kaleng di depannya dari jangkauan.


“Cih …. Nggak gitu juga kali kak.” Bibir Marsha lagi-lagi melempar senyuman manis. “Lha … kenapa kakak tidak bekerja, apa seenak itu kerja di Baskomsel?”


“Tentu! Aku direkturnya.” Rey menyombongkan diri.


“Kalau begitu, bisa tidak beri aku pekerjaan di sana? Aku sungguh ingin mencoba menjadi costumer service.”

__ADS_1


__ADS_2