
Jeremy menunggu dengan terus berdoa, dia tidak bisa jika sampai harus kehilangan Marsha. Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya Marsha menunjukkan tanda-tanda sudah mulai sadar. Jemarinya mulai bergerak perlahan, hingga kepalanya pun bergerak dengan kelopak mata yang berkerut.
“Sya, kamu sudah sadar.” Jeremy langsung bangun dari posisi duduknya. Hingga kemudian menggenggam telapak tangan sang istri.
Marsha sendiri masih berusaha membuka kelopak mata, suaranya masih terasa berat karena efek obat bius yang masih ada di tubuh. Dia bisa mendengar suara Jeremy, tapi tidak bisa membalas ucapan pria itu.
Jeremy pun dengan sabar menunggu Marsha sadar sepenuhnya, yang terpenting sekarang baginya Marsha sudah ada tanda-tanda untuk bangun.
“Kak Je.” Suara Marsha terdengar begitu lemah.
“Iya, aku di sini,” bisik Jeremy sambil mengusap kening Marsha.
“Kamu menginginkan sesuatu?” tanya Jeremy kemudian.
“Aku haus,” lirih Marsha menjawab pertanyaan Jeremy.
Marsha pun akhirnya membuka kelopak mata, wajah pertama yang dilihatnya setelah sadar tentunya adalah wajah sang suami yang sangat kusut.
Jeremy tidak berani memberi Marsha minum dulu, hingga akhirnya memilih menekan tombol untuk memanggil perawat datang ke ruangan itu.
Beberapa menit kemudian Dokter datang bersama perawat, hingga kemudian mengecek kondisi vital Marsha yang baru saja sadar. Kimi dan Richie juga langsung datang ke kamar inap Marsha begitu mendapatkan informasi kalau putrinya sudah sadar. Wanita itu begitu lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi pada putrinya.
“Semua dalam kondisi baik, kini tinggal masa pemulihan agar bisa beraktivitas seperti biasa,” kata dokter saat baru saja selesai mengecek kondisi Marsha.
Jeremy dan yang lainnya pun lega, ketakutan mereka selama beberapa jam ini akhirnya usai.
“Di mana bayi kita? Aku mau lihat. Apa Kak Je sudah lihat bayi kita?” tanya Marsha teringat akan bayinya.
__ADS_1
“Sudah, aku sudah lihat. Sekarang lebih baik istirahat dulu, jangan memikirkan hal lain dulu,” ucap Jeremy.
Marsha menatap Jeremy, merasa jika sang suami terlihat muram.
“Kak Je, kenapa kamu terlihat tidak bahagia?” tanya Marsha. Bahkan tanpa disadari buliran kristal bening luruh dari kelopak matanya.
Semua orang yang melihat pun bingung, hingga kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkan Marsha berdua dengan Jeremy.
“Aku bahagia, bagaimana bisa tidak bahagia,” kata Jeremy agar Marsha tidak berpikiran berlebih.
“Bayi kita sangat cantik, mirip sekali denganmu,” ucap Jeremy lagi.
“Aku hanya merasa bersalah saat melihatmu dalam kondisi seperti ini. Aku takut kehilanganmu.”
Jeremy terus bicara untuk meluapkan apa yang dirasakan, sampai dia tidak sadar jika sudah menitikkan air mata. Marsha melihat Jeremy menangis, hingga semakin sedih karena hal itu.
Jeremy mencoba menahan air matanya, kemudian tersenyum untuk melegakan hati sang istri.
“Sekarang kamu jangan memikirkan hal lain. Fokuslah pada kesehatanmu, cepatlah pulih agar bisa bangun, duduk, juga jalan, karena itu adalah prioritas utama.” Jeremy bicara dengan suara pelan.
Marsha pun mengangguk mendengar ucapan Jeremy.
“Tapi aku mau lihat bayi kita,” kata Marsha.
“Baiklah, aku akan minta ke perawat untuk membawanya ke sini,” balas Jeremy agar Marsha tidak sedih.
Jeremy akhirnya meminta perawat untuk membawa bayi mereka ke kamar. Ternyata Kimi yang membawanya ke kamar, wanita itu menggendong bayi mungil yang nampak terlelap tidur.
__ADS_1
“Lihat, cantik ‘kan?” Kimi memperlihatkan bayi itu ke Marsha.
Bola mata Marsha kembali berkaca-kaca melihat bayinya. Sampai akhirnya menangis haru karena tidak menyangka jika dia akan memiliki bayi mungil dan sangat cantik. Dia tidak pernah menyangka jika sekarang sudah memiliki anak.
Kimi dan Richie juga sangat bahagia karena kini memiliki cucu, semua orang yang ada di kamar itu pun begitu bahagia.
“Apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya?” tanya Kimi ke Jeremy.
“Sebenarnya belum, aku akan memikirkannya dulu dengan Marsha,” jawab Jeremy.
“Benar juga, jangan terburu-buru dan asal-asalan memberi nama anak,” ucap Kimi kemudian.
Akhirnya bayi Marsha di ruangan itu selama tiga jam, hingga kemudian dibawa kembali ke ruangan observasi khusus bayi karena kondisinya yang dirasa masih lemah.
Marsha sendiri masih berbaring karena belum banyak bergerak, ditatapnya Jeremy yang terlihat kusut dan lelah.
“Kak Je, istirahatlah kalau capek,” kata Marsha meminta Jeremy berbaring di ranjang penunggu pasien.
Jeremy menggelengkan kepala, memilih duduk di kursi samping ranjang Marsha.
“Kita harus bahas nama untuk putri cantik kita dulu,” kata Jeremy.
“Emm … sebenarnya aku punya satu nama, tapi takut Kakak tidak setuju,” ujar Marsha.
“Siapa? apapun nama yang akan kamu berikan aku akan menyetujuinya." Jeremy meraih tangan Marsha, menggenggamnya erat kemudian mencium punggungnya.
"Itu.... "
__ADS_1