
Marsha cemberut, dia terpaksa harus membatalkan kencannya dengan Andro karena Kimi tidak memberi izin. Wanita yang melahirkannya itu mengajak dia pulang. Awalnya mereka berdebat, Marsha kekeh ingin pergi hingga gadis berumur delapan belas tahun itu kalah, dan membatalkan rencananya jalan-jalan bersama sang pacar.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Marsha melakukan gerakan tutup mulut. Sejak dari rumah Mina dia bersedekap dada dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi, matanya fokus menatap depan. Ia kesal - tidak tahu kenapa sang mami bisa terpengaruh dengan gosip yang menurutnya murahan. Marsha yakin bahwa Andro tidak matre seperti yang bu Dewan dan tantenya tuduhkan.
“Kamu mau makan apa malam nanti?” tanya Kimi membuka percakapan, dia toleh sekilas sang putri kesayangan yang masih saja diam bak patung selamat datang.
“Makan ati biar mami senang,” jawab Marsha. Bibirnya bergetar-getar. Ia ingin marah tapi tidak berani.
“Ati apa? ayam? Kambing? Sapi atau musang?”
“Mami!” Marsha akhirnya meledak juga, dia menatap Kimi yang bahunya mengedik berusaha menahan tawa.
“Mami kenapa sih setuju sama perjodohan itu? Mami tahu ‘kan masa depanku itu masih panjang dan cerah? Kenapa aku harus dikawinkan sama om-om itu? berikan aku alasan dan kenapa papi juga sampai ikutan setuju, padahal aku tahu papi tidak ingin cepat-cepat punya mantu,” cerocos Marsha kemudian.
“Pergaulanmu sudah sangat keterlaluan Marsha, kamu harus diikat agar tidak kebablasan. Kamu sudah berani nonton video porno, dan …. “ Kimi menjeda kata, dia toleh kembali sang putri yang terlihat memperhatikannya dengan seksama. “Mami juga tahu kamu suka baca novel dua satu plus.”
“Hah …?” Marsha kicep, dia memutar bola mata berusaha mencari alasan untuk yang satu itu.
“Ya … ‘kan cuma baca Mi, lagian ‘kan aku sudah punya kartu tanda penduduk, aku sudah delapan belas plus.” Marsha membela diri, berharap Kimi mempertimbangkan alasannya kali ini.
“Hem … iya, kalau kamu melakukan itu sekarang, tapi Mami yakin kamu sudah sejak dulu melakukan hal itu. Jujur Mami ngeri Sha, belakangan banyak pasien di bawah umur yang datang ke rumah sakit dengan kondisi pendarahan karena melakukan aborsi illegal. Mami takut, nenek Sara pernah bilang punya anak perempuan itu seperti memegang sebutir telur, kalau sudah jatuh dan pecah tidak akan bisa utuh lagi, siapa yang mau mengambil telur yang sudah pecah dan jatuh ke tanah?” tanya Kimi tanpa sedikit pun nada menggurui sang putri.
“Tukang Martabak,” sambar Marsha sekenanya.
“Kamu mau makan martabak yang telurnya bercampur tanah?” tanya Kimi lagi tak mau kalah berdebat dengan sang putri.
__ADS_1
“Telur apa dulu tadi yang jatuh? Bebek apa ayam?”
“Oke, apa kamu mau coba dua-duanya? Kalau begitu Mami akan minta tukang martabak depan komplek rumah buatin martabak dari telur ayam dan bebek, tapi telurnya dijatuhin dulu sampai pecah dan bercampur tanah,” tantang Kimi.
“Nggak!” Marsha menolaknya dengan cepat.
Kimi pun tertawa lantas menoleh menatap kaca spion samping sebelum berbelok. Bukan tanpa alasan dia dan Richie menerima perjodohan yang dilakukan Nova untuk Marsha. Kimi dan Richie jelas bukan orang bodoh yang dengan mudah percaya cerita Nova soal tragedi kutang.
Pasangan itu memutuskan menerima perjodohan sang putri dengan banyak pertimbangan.
Pertama, menurut mereka pria yang jauh lebih dewasa memang paling cocok agar bisa mengimbangi sifat Marsha.
Ketiga, tidak bisa dipungkiri bibit, bobot, bebet Jeremy membuat mereka berpikir – sudahlah terima saja.
Keempat, feeling Kimi sebagai wanita yang melahirkan Marsha berkata bahwa putrinya itu akan bahagia bersama Jeremy.
***
Waktu berputar hari berganti, Marsha harus berangkat sekolah seperti biasa. Satu bulan lagi dia akan menghadapi ujian akhir dan setelahnya gadis itu akan menjadi seorang mahasiswi.
Mematut diri di depan cermin, Marsha berdandan dengan sangat cantik. Ia memoleskan lip gloss pink dan mewarnai pipinya tipis-tipis dengan blush on berwarna senada. Tak lupa parfum impor dia semprotkan hampir ke semua bagian badan. Ibarat Marsha sudah berjalan jauh sampai ke Marauke, aroma parfum itu masih tercium dari Sabang.
Terkadang Marsha akan menggelayuti Richie sebelum sarapan. Ia akan merayu sang papi dengan hal-hal yang sedang dia pikirkan. Dan kali ini dia melakukan hal itu lagi.
__ADS_1
Marsha ingin melancarkan aksi untuk membahas perjodohannya dan Jeremy. Meski bersikap santai dan bahkan berniat bersepakat dengan pria itu, tapi Marsha pikir mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jika bisa tidak menikah dengan Jeremy, kenapa harus menikah?
“Papi ganteng banget, papinya siapa sih?”
Richie tersedak teh yang baru saja dia sesap. Bahunya bahkan mengedik, pria itu lantas menoleh Marsha yang sudah melingkarkan tangan ke lehernya.
“Mau apa Sha? Tidak usah merayu, tidak perlu kamu bilang Papi sudah tahu kalau Papi ganteng, kalau Papi nggak ganteng mana mau mamimu nikah sama Papi,” jawab Richie. Ia membuat Kimi yang sedang mengoles selai ke roti tertawa.
Marsha hanya tertawa, masih mencoba mengambil hati sang papi.
"Bilang aja, mau apa?"
“Aku mau Papi bilang ke Omano kalau aku nggak mau dijodohin sama Uncle Jerami,” jawab Marsha. Ia bahkan meletakkan dagu ke pundak Richie dengan memasang muka sedih.
“Kenapa sih Omano nggak mikir, mungkin saja dia sudah punya kekasih, bukankah kalau seperti ini nanti aku akan dicap jelek? Aku akan disebut pelakor. Lagi pula aku kan masih anak ingusan, masih peleer."
Brttt ….
Richie menyemburkan teh yang baru saja dia sesap lagi, sedangkan Kimi pisau yang dia gunakan untuk mengoles selai sampai terjatuh ke lantai.
“Eh … salah, meler maksud aku,” kata Marsha membenarkan ucapannya sendiri, setelah itu dia menggigit bibir bawah dengan ekspresi tanpa dosa.
Bagaimana bisa Marsha dengan polosnya menyebut nama bola-bola cokelat renyah di depan sang papi, dan bagaimana bisa Kimi dan Richie tidak takut dia akan terjebak pergaulan bebas? bahasa yang Marsha gunakan saja begitu sangat....
Ah.. sudahlah!
__ADS_1