
Jeremy kaget dan langsung menjauhkan badan. dia bergerak ke sana ke mari agar kecoa yang dimaksud Marsha pergi. Sedangkan gadis itu memilih buru-buru menyambar piyamanya dari dalam koper lalu masuk ke kamar mandi. Dia mengganti baju jaring laba-labanya agar Jeremy tidak lebih dalam lagi melancarkan aksi.
“Huh … dia gila, dasar om-om mesum,” gerutu Marsha, seolah tidak sadar bahwa dia lah yang memulai semua ini.
Jeremy masih saja menggeliat jijik, hingga sadar mana mungkin ada kecoa di hotel bintang lima. Ia pun berdecak sebal, menatap pintu kamar mandi dan menyipitkan mata.
“Bocah itu, takut juga rupanya,” gumam Jeremy. Ia melangkah mendekat ke pintu kamar mandi, meggedor pintu sambil mengucapkan kalimat yang membuat bulu kuduk Marsha menari-nari.
“Marsha, ayo mandi bersama!”
“Mandi bersama jidatmu,” gerutu Marsha dari dalam. Ia menelan saliva lagi lantas menjawab, “Aku sudah mandi, Om saja mandi sendiri.”
“Ya sudah kamu keluar!” titah Jeremy. Ia tersenyum miring saat Marsha menjawab dari dalam dengan nada suara sedikit ketus.
“Bentar pakai baju dulu.”
Jeremy tertawa, tapi saat melihat gagang pintu berputar dia memasang ekspresi datar, tapi tak dia duga penampakan Marsha membuatnya terkejut. Mata Jeremy melotot melihat apa yang dikenakan gadis yang pagi tadi sudah resmi menjadi istrinya itu. Penampilan Marsha sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Gadis itu mengenakan piyama dengan warna pink fushia bergambar strawberry di hampir seluruh permukaannya.
__ADS_1
“Sepertinya aku harus mulai terbiasa, ingat kamu itu menikahi anak TK,” gumam Jeremy di dalam hati.
“Sudah ya Om, berhenti untuk membuat keributan. Lebih baik kita bobok karena aku capek,” ucap Marsha dengan sorot mata seolah menyayangkan perbuatan Jeremy.
“Yang mulai duluan ‘kan kamu,” Sambar Jeremy dengan gigi bergemerutuk. Ia tak bisa mengelak, Marsha pasti akan menghinanya habis-habisan suatu saat nanti karena Brontosaurus-nya bereaksi sewaktu digoda.
“Minggir!” bentak Jeremy karena Marsha menghalangi pintu, dia bahkan menggertak sang istri agar pergi menjauh darinya.
“Dih … Uncle Jerami gitu aja sewot.”
Marsha melangkah menuju ranjang, dia membuang kelopak-kelopak bunga yang tadi tertata rapi di atas kasur membentuk lambang cinta.
Kamar pengantin itu memang sudah disiapkan oleh Cantika dan Nova. Dua nenek-nenek itu berharap cucu-cucu mereka akan melakukan malam pertama yang menggelora, agar bisa memberikan cicit segera, tapi ekspektasi tak semanis realita.
_
_
__ADS_1
“Apa pembantu yang kamu selundupkan sudah memberi kabar?”
Sebelum tidur Nova melakukan Joom meeting dengan Cantika. Mereka tidak ingin kalah hits dari anak-anak sekolah - yang sekarang bisa belajar dari rumah.
“Sudah, katanya Jeremy dan Marsha tidak keluar dari kamar. Ini tandanya mungkin mereka sedang ini ono unu,” jawab Cantika setelahnya tertawa. “Pokoknya kita harus membuat cinta bersemi di antara keduanya.”
Nova mengangguk, dia dan Cantika jelas bukan anak kemarin sore. Mereka tahu bahwa tidak ada pancaran cinta di mata Jeremy dan Marsha, untuk itu keduanya berjanji satu sama lain, sebelum masuk ke dalam liang lahat alias meninggal, baik Cantika dan Nova ingin melihat Marsha dan Jeremy saling mencintai dengan tulus.
“Oh … ya apa kamu jadi ikut senggol bacok merebutkan apa itu yang kamu ceritakan kemarin?” tanya Nova penasaran.
Ya, bahasa senggol bacok sudah umum mereka pakai sebagai kiasan untuk memperebutkan barang-barang limited edition di antara kaum sosialita.
Cantika nampak bingung, hingga mulut wanita itu membentuk huruf O. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh sahabat baiknya.
“Ramuan itu ‘kan maksudmu? Mak War? Hah … tenang saja! kabarnya menantu si koin Arab yang biasa menang dalam lelang sudah hamil, jadi dia tidak akan ikut berebut, aku akan mengusahakan mendapatkannya untuk Marsha.”
“Si koin Arab? Memang siapa namanya?” tanya Nova bingung.
__ADS_1
“Dinar, namanya Dinar. Bukankah itu koin Arab?”