
Celotehan Marsha membuat Nova kesal. Ia pun memilih membiarkan saja cucunya itu dan mencoba mengecek kesiapan acara syukuran sore nanti. Wanita itu memandangi punggung Marsha yang menjauh, lalu menatap ke arah tangga utama rumah. Beruntung, pembantunya yang ahli perpijatan turun.
“Udah selesai? kok cepet banget,” tanya Nova penasaran.
“Belum Nyonya, saya lupa bawa minyak gosok cap ajib buat pijatnya,” jawab pembantu itu dengan senyum jenaka.
“Sini!”
Nova memberi kode agar pembantunya itu mendekat, dia pun membisikkan sesuatu. Sebuah misi yang harus dilakukan.
“Tanya ke Jeremy, kenapa punggungnya sampai sakit, nanti laporkan ke aku,” bisik Nova.
Pembantu itu mengangguk paham sambil berkata siap dengan ibu jari teracung ke depan wajah Nova. Ia bergegas mengambil minyak gosok andalannya sebelum melakukan misi rahasia.
Sekitar setengah jam kemudian, pembantu itu sudah selesai dengan tugasnya. Ia nampak memeluk tembok sambil memberi kode ke Nova.
“Nyah … Nyonyah,” panggilnya.
__ADS_1
Terang saja pembantu lain dan orang-orang yang ada di sana kebingungan, terlebih mendapati reaksi Nova. Wanita tua itu langsung memasukkan kue lapis - yang niatnya dia icip ke dalam mulut dalam sekali lahap. Nova tergesa bahkan mengusapkan tangan ke sisi bajunya.
“Iyuh … Omano,” cicit Marsha yang jijik melihat tingkah sang nenek.
“Bagaimana? Apa dia bilang alasannya?” Nova tak sabar untuk mendengarkan informasi yang didapat sang pembantu.
“Itu …. “
_
_
“Capek aja, seharian berdiri terus malamnya aku di KDRT Marsha.”
Mulut Nova menganga lebar mendengar cerita dari sang pembantu, dia berpikir Jeremy memakai kata kiasan, untuk menjelaskan bahwa sudah menghabiskan malam yang menegangkan layaknya KDRT bersama cucunya.
“Astaga, ini artinya memang Marsha hebat. Juara!” puji Nova sambil tertawa riang.
__ADS_1
***
Sore harinya, acara syukuran pun digelar. Semua keluarga besar Nova pun datang, salah satunya adalah wanita bernama Aprilia yang merupakan sepupu Nova. Nampak Kimi hanya tersenyum kecil saat menyalami wanita itu, begitu juga dengan Marsha. Gadis itu tahu kalau Aprilia dulu sangat julid sampai membuat maminya ingin menggugat cerai sang papi. Wanita itu bahkan tidak datang di acara akad nikah dan resepsi Marsha dan Jeremy, dengan alasan menunggui cucunya yang datang dari luar negeri.
Acara syukuran itu pun berlangsung khidmat. Marsha memilih tak banyak bicara, dia sepertinya sadar ini acara sakral dan harus menjaga sikap. Hingga saat acara pamungkas tiba, Nova berkata ke orang yang memimpin doa.
“Tolong doakan juga semoga Marsha dan Jeremy segera mendapatkan momongan, kalau perlu kembar tiga.”
Kimi menoleh dengan netra membeliak lebar, tapi seketika dia sadar sedang berada di mana lalu memilih tersenyum meski canggung. Ia jelas pernah berkata, tidak mengizinkan Marsha dan Jeremy untuk segera memiliki momongan.
Jeremy dan Marsha boleh hahahihi, mau dua kali sehari, tiga kali sehari, sampai pabrik susu kental kentul menantunya kering pun Kimi tak peduli, tapi yang pasti jangan sampai Marsha hamil sebelum usia putrinya itu menginjak dua puluh tahun.
Meski begitu, Kimi tak bisa mencegah permintaan Nova di depan banyak orang. Hanya saja dia tak ikut mengamini doa yang dipanjatkan. Kimi memilih berdoa sendiri, berharap Marsha hamil saat usianya sudah dua puluh tahun.
“Om, kenapa kamu mengaminkan doa ini?” bisik Marsha, ternyata dia tak bisa diam sampai acara selesai, mulutnya sudah terasa gatal.
“Lalu aku harus bagaimana, Marca?” Jeremy memilih menjawab dengan melempar balik pertanyaan, dia berucap tanpa menggerakkan bibir.
__ADS_1
“Diam saja lah Om, kalau Om bilang amin, artinya Om pengen menghamili aku.”
“Ya Tuhan, pinjamkan aku pintu ke sana ke sini milik doranyamon,” gumam Jeremy di dalam hati. Ingin rasanya dia berpindah planet asalkan tidak bersama Marsha.