Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 146 : Terlalu Besar


__ADS_3

Marsha pulang dengan riang gembira. Ia senang karena perawatannya di salon sangat memuaskan. Gadis itu berpikir Jeremy pasti akan sangat terkesan karena memiliki istri yang pengertian. Menyiapkan diri sebelum peperangan.


Sama halnya dengan Marsha, Jeremy tertawa lalu memasukkan barang yang diperintahkannya dibeli oleh Peter ke dalam saku celana. Empat buah modnok dengan rasa berbeda layaknya permen karet.


Peter tak menyangka dia akan melihat kekonyolan Jeremy yang umurnya bahkan sudah dibilang dewasa.


"Ayo cepat,Pet. Masih ada pekerjaan tidak? aku tidak mau pulang terlalu malam," ucap Jeremy ke Peter dengan tawa lebar.


Peter pun keluar tanpa menjawab, lalu kembali dengan beberapa berkas yang memang harus diselesaikan oleh Jeremy.


"Silahkan, Pak!" ucap Peter sambil meletakkan setumpuk berkas ke meja sang atasan.


_


_


Di rumah, Marsha mengunci pintu kamar. Beberapa lingerie dia jejer di atas ranjang untuk dipakai malam ini. Gadis itu meletakkan telunjuk di pipi, bingung mana yang merupakan selera sang suami. Hingga sebuah ide muncul di kepala Marsha. Dia memakai semua lingerie itu dan mengambil gambar diri. Dikirimnya semua potretnya ke sang suami.


Sementara itu, Jeremy masih fokus dengan pekerjaan, meski di dalam pikirannya bayangan malam pertama sudah memenuhi kepala. Tak lama ponsel pria itu berbunyi beberapa kali, makin lama bunyinya semakin cepat seperti ada orang yang sengaja memberondong pesan kepadanya.


Jeremy mengumpat kesal, dia ambil ponselnya dengan wajah masam, sampai dia melihat nama Marsha dan puluhan foto seksi istrinya dengan berbagai macam dan bentuk lingerie. Rasa kesalnya pun sirna.


[ Aku bingung mana yang kakak sukai, jadi pilihlah satu ]


Jeremy menelan ludah, dia menggeser foto yang dikirim Marsha dan memandanginya satu persatu. Beberapa kali dia memperbesar foto itu. Dada Marsha yang tak begitu berisi bahkan kini terlihat indah di matanya.


[ Pakai yang mana saja yang kamu sukai, semua terlihat bagus di tubuhmu ]


Jeremy meletakkan ponsel setelah membalas pesan Marsha. Dia kemasi berkas yang ada di meja dengan tergesa-gesa.


[ Baiklah aku pakai yang warna krem saja ]


[ Hem... Dua puluh menit lagi aku sampai rumah ]

__ADS_1


"Peter ambil berkas ini. Aku akan lanjutkan besok. Aku mau pulang," teriak Jeremy dengan suara lantang.


Peter bingung karena atasannya itu berjalan keluar dan buru-buru menuju lift, begitu juga dengan Marsha yang langsung buru-buru membereskan kamar di rumah. Ia bahkan melompat ke kamar mandi untuk mandi. Marsha tak bisa membiarkan Jeremy mencumbu tubuhnya yang bercampur keringat.


_


_


"Tuan sudah pulang, apa mau.... "


Jeremy berjalan cepat masuk ke rumah dan tak menjawab sapaan pembantunya. Hal yang dia tuju setelah sampai di rumah hanya satu, kamar di mana istrinya berada. Ia sangat bersemangat, tapi saat sudah hampir tiba di depan kamar dia seketika cemas.


"Apa yang harus aku lakukan? Mandi dulu? Memeluk? Menciumnya?"


Skenario yang ada di kepala membuat Jeremy berpikir cukup lama, hingga dia memutuskan untuk mandi dulu sebelum bercinta dengan Marsha.


Jeremy memegang gagang pintu dan memutarnya, sayang Marsha memang menguncinya dari dalam. Ia pun mau tak mau mengetuk dan memanggil nama sang istri.


"Sya, aku mau masuk!"


"Habis kau Sya, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu tidak akan bisa lari. Malam ini kamu akan menjadi mantan perawan." Marsha menutup mulut. Ia semakin gusar karena Jeremy memanggil namanya lagi.


Marsha mau tak mau membukakan pintu, dia sengaja hanya menyembulkan kepala karena takut ada pembantu yang lewat dan melihat dia memakai baju seksi.


Jeremy terseyum manis, dia pun masuk lalu menutup pintu kamar, sedangkan istrinya itu berdiri takut dengan ke dua tangan di depan badan.


"Kak Je, kenapa sudah pulang?"


"Aku tidak sabar," jawab Jeremy.


"Ti-tidak sabar?" Marsha menggigit bibir bawah, lalu berkata, "A-aku juga tidak sabar."


Berniat untuk Mandi nyatanya Jeremy tak bisa. Ia malah menarik pinggang Marsha lalu memindai wajah gadis itu dalam-dalam.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku dulu!" Ucap Jeremy dengan nada sensual.


"Apa itu? Aku merasa sedang akan menjalani UN. Ujian Nganu," jawab Marsha.


Jeremy tertawa, dia menyambar bibir Marsha dan melumaatnya lembut.


"Dasar MRT. Ya, ini memang UN untukmu. Pikirkan lagi apa kamu benar ingin melakukan itu denganku?"


"Kenapa dipikirkan lagi? kakak 'kan suamiku?" Marsha mengedipkan mata. Bulu mata naturalnya membuat wajah cantiknya semakin terlihat menawan.


"Aku tidak mau kamu merengek atau menangis setelah.... "


Marsha berjinjit mengalungkan tangannya ke leher Jeremy. Dengan Jemawa dia berkata-


"Aku bukan anak kecil, jadi kenapa aku harus merengek dan menangis?"


Jeremy tersenyum dan kembali menyentuhkan bibir mereka, dia percaya saja kalau Marsha pasti akan bersikap layaknya cucu kakek sugiono. Bukankah gadis itu suka menontonnya?


Namun.....


Lima menit


Sepuluh menit


Lima belas menit


"Nggak mau, sakit! Kakak menyakitiku."


Marsha duduk di bawah dengan menekuk kaki, tubuhnya polos dan tak ada sehelai benang pun yang menutupi.


"Marsha, apa kamu tidak tahu kalau awalnya memang harus begitu?"


Jeremy menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menggaruk rambutnya karena bingung dengan tingkah sang istri.

__ADS_1


"Punya kakak terlalu besar!" rengek Marsha.


__ADS_2