
“Kenapa menjemputku? Siapa yang memberitahu aku kuliah pagi?”
Marsha memberondong Jeremy dengan banyak pertanyaan, gadis itu tertegun saat pria itu malah menerobos masuk ke dalam rumah untuk ikut sarapan. Jeremy menyapa Richie dan Kimi layaknya orangtua kandungnya sendiri.
“Semalam kenapa kamu tidak masuk ke dalam Je?”
“UHUK …. “ Marsha mendelik, dia menyambar susu tapi masih terlalu panas hingga menjulurkan lidahnya. Jika momen dia tersedak tadi diabadikan, sungguh pasti sangat mirip adegan sinetron ajib di saluran ABI TV milik pamannya - Nic.
“Dari mana Mami tahu?” gumam Marsha di dalam hati. Ia menoleh Jeremy yang menyantap sarapan dengan santai.
“Aku cuma mampir, Mi.” Jeremy menjawab tanpa beban.
Marsha heran kenapa orang-orang yang sudah berusia lebih dewasa darinya sangat lihai menyembunyikan rahasia. Padahal jelas Jeremy datang untuk marah-marah dan mengancamnya kemarin.
Kimi mengangguk, meski tatapan matanya sedikit curiga. Ia menoleh Marsha yang bersikap biasa. Pernikahan tinggal menunggu hitungan bulan, tapi semakin ke sini Kimi semakin mencium bau-bau kebencian antara sang putri tunggal dan Jeremy. Mungkinkah nalurinya benar? Marsha dan Jeremy terpaksa bersama?
__ADS_1
Kimi mengerjab, dia tepis semua pikiran itu karena sudah yakin, hanya Jeremy satu-satunya pria yang bisa menjinakkan Marsha. Putrinya yang banyak tingkah itu bisa takluk dan menurut ke Jeremy. Lihat saja! Marsha bahkan melakukan perintah sang calon suami saat diminta mengambilkan air, gadis itu bertingkah sangat manis.
“Non, duitnya belum diambil nih.”
Pembantu rumah Kimi mendekat, Marsha ternyata melupakan lembaran merah yang sang mami letakkan di atas meja pajangan depan kamarnya. Jeremy yang belum tahu kalau sang calon istri terkena mutilasi jatah bulanan, hanya bisa memandang heran.
Jeremy bahkan menghentikan kunyahan dan menatap Marsha yang menerima uang itu dari tangan sang pembantu. Hingga Richie tanpa diminta membeberkan fakta tentang Marsha yang sudah jatuh miskin. ATM, credit card gadis itu disita oleh Kimi.
Akhirnya Jeremy pun tertawa iblis. Ia menghina Marsha habis-habisan saat berada di dalam mobil berdua dengan sang calon istri.
Cibiran Jeremy tak ditanggapi oleh Marsha, dia tak peduli yang terpenting Zie sudah mengirim uang dari Rey ke Andro.
“Aku menemui pacarmu itu semalam, dan aku mengancamnya untuk tidak lagi memerasmu,” imbuh Jeremy.
“Om … apa-apa’an sih ikut campur, nggak lucu tahu. Lagian dari mana Om tahu alamat rumah Andro, Om pakai mata-mata ya? dasar! Aku nggak suka ya kek gitu.” Marsha mengomel. Ia bersedekap dada dan membuang muka, dadanya panas menahan amarah.
__ADS_1
“Untuk apa pakai mata-mata, aku bisa bertanya ke Queenzie, bestie-mu itu.”
“Zie? Apa dia membocorkan alamat Andro? Dasar pengkhianat. Dia pikir aku tidak akan bisa membocorkan rahasianya juga yang menyukai sepupuku,” gumam Marsha dengan gigi saling beradu. Ia geram merasa ditikam sang sahabat dari belakang.
“Jangan salahkan dia! selama ini Zie diam hanya untuk menjaga perasaanmu. Ia membiarkan kamu jadi sapi perah Andro, cowok tak modal dan hanya bisa menyusu ke pacarnya,” amuk Jeremy. Pria itu tak sadar kalau ungkapannya barusan membuat otak Marsha, yang sepuluh persennya berisi kemesuman bereaksi.
“Om! Jangan sembarangan, ciuman saja kami tidak pernah apa lagi pakai acara susu-menyusu,” bentak Marsha.
Terang saja Jeremy kaget, dia menoleh Marsha yang sudah memasang wajah garang. Bibir gadis itu miring kiri dan kanan karena kesal.
“Apa? Ha?”
Marsha membusungkan badan, dia membuat Jeremy mau tak mau melihat ke bagian yang ukurannya tidak menggugah seleranya sama sekali itu.
“Lihat saja nanti Zie, akan aku beri pelajaran dia!” oceh Marsha.
__ADS_1