Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 80 : Hari H


__ADS_3

Semua orang bergegas naik ke lantai atas di mana kamar Marsha berada, pembantu bernama Rukiyah yang awalnya adalah pembantu Mina itu, awalnya ingin mengantarkan minuman yang diminta Marsha, tapi saat masuk ke dalam dia syok melihat Marsha berguling-guling dan menghentakkan kaki.


“Sya, kamu kenapa?”


Kimi panik, tapi putrinya itu malah terlihat heran. Marsha duduk di atas ranjang dan memandangi semua orang satu persatu.


“Sya, kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Zie, dia berjalan mendekat meski takut Marsha akan menggigitnya. Di dalam pikiran gadis itu, sang sahabat bisa saja berubah menjadi zombie.


“Zie!” panggil Marsha dengan wajah memelas.


“Iya!”


“Aku demam,” rengek Marsha, dan seketika semua orang melongo.


Rukiyah pun mendapat cubitan di pinggang dari Mina karena mengabarkan hal yang tak benar tentang keponakannya. Pembantu itu tertawa lalu mendekat dan memberikan air lemon dingin yang diminta Marsha.


“Ya ampun Sya, kamu pasti nervous karena besok mau menikah,” kata Sara. "Tenang saja! dulu tantemu Mina juga menikah muda, dia menikah dengan pamanmu Nic di umur dua puluh satu tahun.”

__ADS_1


Marsha terdiam, dia sudah mendengar cerita itu berkali-kali, bahkan saat itu tantenya Mina langsung hamil, tapi sayang keguguran.


“Marsha … Marsha nanti juga kalau kamu tahu gimana enaknya kuliah kamu pasti pilih jadi mahasiswa abadi.”


Kini giliran Mina yang terkena cubit. Kimi melotot karena mulut saudara tirinya itu seperti tidak terfilter dengan baik di depan Marsha. Mina tahu akan kesalahannya, dia memundurkan badan dan bersembunyi di belakang Sara.


“Coba Mami periksa, besok hari pernikahanmu, jangan sampai kamu drop. Apa kamu mau infus vitamin C?” Kimi mendekat dan dengan cekatan dia meraba kening putrinya.


_


_


Zie tengkurap sambil menyanggah dagu, dia menatap Marsha yang masih berbaring dengan selang infus di tangan. Cairan vitamin yang diberikan Kimi sudah masuk ke tubuhnya, demam gadis itu juga berangsur turun.


“Hem … besok statusku akan berubah dari Nona menjadi Nyonya, “ ujar Marsha, dia menatap Zie dengan sorot mata berkaca-kaca. “Zie, kamu harus janji bakal tetep mau temenin aku jalan-jalan, kita tetep kek sebelum aku nikah, seneng-seneng dan bego-begoan.”


“Kok kamu jadi melow sih, Sya!” Zie menegakkan badan, dia seketika memeluk Marsha yang duduk bersandar pada kepala ranjang. “Marca, mau kamu udah nikah, cerai dan jadi janda, kita tetep teman, jangan khawatir!”

__ADS_1


Marsha menganggukkan kepala lalu menggoda sang sahabat dengan berkata,”Kamu kok kayak nyumpahin aku jadi janda? Kalau nanti aku beneran jadi janda, kamu harus tanggung jawab.”


Zie menjauhkan badan, terang saja gadis itu ketakutan dengan ucapan Marsha, dia pun memukul bibirnya dua kali lalu meminta maaf.


“Aku becanda Queenzie,” seloroh Marsha, dia membuka sebelah tangan dan Zie pun menghambur memeluknya.


***


Pagi pun tiba, Marsha bersiap untuk pernikahannya dengan Jeremy. Akad digelar di kediaman Richie, mereka tak lagi berpkir untuk melakukannya di KUA. Selain karena trauma dengan drama penculikan Marsha, semua orang juga sudah tahu dan tak perlu ditutup-tutupi, bahkan resepsi pernikahan pun akan digelar siang, tepatnya jam sebelas nanti.


Marsha sibuk mematut diri, kebaya dengan bawahan batik melilit cantik di tubuh rampingnya. Ia menggunakan sanggul sederhana modern karena tidak ingin ribet. Gadis itu masih berdiri di depan cermin, sebelum tiba-tiba memanggil satu-satunya brides mate yang dia punya.


“Zie!”


“Hem … ada apa?” tanya Zie yang duduk di tepian ranjang sambil bermain ponsel.


“Bagaimana ini? tolong panggilan Mami, Omano atau nenek Sara.”

__ADS_1


“Memang ada apa? apa ada masalah?” Zie mematikan ponsel dan memandang heran Marsha. “Aku bisa membantumu kalau kamu butuh bantuan,” imbuh Zie.


“Aku kebelet pipis.”


__ADS_2