Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 148 : Tinggal Ampas


__ADS_3

Badannya kecil


Disentuh besar


Kalau mengaum


Si Marsha langsung nempel


Si bro si bro si bro itu namanya


Zie bernyanyi, setelah itu tertawa terbahak-bahak karena cerita Marsha tentang malam pertamanya. Gadis itu demam sampai tak masuk kuliah karena baru saja di-unboxing Jeremy. Parahnya, hari itu ujian semester hari pertama, tapi mau bagaimana lagi. Marsha saja kesusahan untuk berjalan karena nona vi nya terasa nyeri sejak kemarin.


“Sudah, jangan sembarangan minum anti nyeri. Bilang saja ke tante Kimi! Takutnya anuumu perlu diobras.” Zie tertawa lagi. Ia mengaduh karena sebuah pukulan mendarat ke lengannya dari Marsha.


“Tidak! Mami pasti akan merasa aneh, aku tidak mau dicecar dengan pertanyaan macam-macam.”


Marsha mengerucutkan bibir, dia mendekap erat bantal dan menyandarkan kepala. Sebenarnya dia malu, jadi untuk sekadar meminta obat guna meringankan rasa kurang nyaman yang mendera ke maminya saja dia enggan.


“Wah … tak kusangka akhirnya Marsha jadi mantan perawan.” Zie masih menggoda sang sahabat, bahkan tawa sedetik pun tak hilang dari bibirnya yang berpoles lip gloss merah muda.

__ADS_1


“Kini aku tahu apa itu arti sakit tapi enak,”ujar Marsha. “Meski seperti mengapit duri, tapi aku meminta kak Je melakukannya sampai pagi, dia seperti badak. Zie, aku heran apa yang dia makan.”


“Kamu yang dia makan,” sembur Zie. Ia geli sendiri melihat Marsha, tapi juga kasihan karena sesekali sahabatnya itu meringis.


“Terima kasih ya, Zie. Kamu ikut bolos ujian hari ini agar besok kita bisa ujian susulan bersama,” tutur Marsha.


“Hem … tak masalah, lagi pula aku semalam tidak belajar jadi mending aku bolos ujian.” Zie tersenyum aneh, jelas dia berbohong untuk menutupi alasan sebenarnya.


_


_


“Iya terus, Pet. Iya disitu, enak sekali,” ucap Jeremy. Matanya memejam menikmati pijatan Peter di punggungnya.


“Kamu main berapa ronde sih, sampai pegel linu dan encok seperti ini. Pergi saja ke spa atau tukang urut,” omel Peter. Setengah tidak ikhlas melakukan apa yang Jeremy perintahkan. “Aku berangkat bekerja dari rumah wangi parfum bluberry, dan sekarang bauku mirip aki-aki. Ibuku pasti syok mencium bauku nanti.”


Jeremy hanya menyunggingkan senyum, dia menepuk pundak sebelahnya, memberi kode ke Peter untuk berpindah memberi pijatan ke bagian sana.


“Pet, modnok yang kamu belikan sama sekali tak terpakai. Marsha tidak mau. Sekarang aku takut, bagaimana kalau dia hamil?”

__ADS_1


“Kenapa takut? Selama dia hamil anakmu, beda lagi ceritanya kalau dia hamil dan yang dia kandung bukan anakmu,” jawab Peter tanpa beban. Dia bisa dengan enteng mengatakan itu, karena tak tahu kecemasan Jeremy.


“Pet, Mami Marsha pernah memohon satu hal padaku. Aku tidak boleh membuat putrinya hamil sebelum berumur dua puluh tahun,” ujar Jeremy mengingat permohonan Kimi.


“Jangan terlalu percaya diri! banyak pasangan yang sudah bertempur hampir setiap hari tapi tidak juga gol gol gol ale ale ale. Apa lagi kamu yang hanya sekali mencoba.” Peter melepaskan tangan dari pundak Jeremy. Ia berdiri dan menyudahi sesi pijat plus plus itu. Ya, pijat plus plus, pijat plus curhat.


“Sudah aku bilang tadi. Kami melakukannya sampai pagi.” Jeremy menoleh sang sekretaris sekaligus teman curhatnya.


“Iya sampai pagi, tapi yang ke tiga, ke empat atau bahkan ke lima, bibitmu itu tinggal ampasnya saja. Apa kamu tidak pernah belajar biologi? Pabrik benihmu itu juga perlu istirahat untuk berproduksi.” Peter menggelengkan kepala seolah menyayangkan ketidaktahuan Jeremy.


“Begitukah? Tapi istriku sedang hot hotnya, aku juga tidak menyangka rasanya fantastis.” Jeremy tersenyum lebar, sedangkan Peter hanya memasang muka datar.


“Ah … jomlo sepertimu mana tahu rasanya,” cibir Jeremy. “Kerjaanmu pasti hanya colai di kamar mandi.”


_


_


Hola, Geng Na izin ya. Na ikut lomba di sebelah jadi Up nya sebisa Na dulu. Makasih udah sabar

__ADS_1


__ADS_2