
Marsha hanya diam sepanjang perjalanan setelah makan malam berisi lamaran Jeremy yang semi resmi itu. Ia yang duduk di kursi penumpang tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Cukup baginya mendengar perbincangan orang-orang yang makan malam satu meja dengannya tadi. Ia sudah mendapat banyak info dan menarik kesimpulan sendiri di antaranya -
Pertama, dia akan menikah sekitar lima bulan lagi saat usianya menginjak sembilan belas tahun. Kedua, dia tidak boleh hamil. Ya, untuk ini jelas Marsha sangat setuju. Siapa juga yang mau hamil anak jerami, begitu pikirnya. Di dalam otak Marsha hanya ada nama Andro, hanya cowok itu yang boleh melakukan unboxing padanya. Ketiga, setelah menikah dia akan tinggal bersama Jeremy, kebebasan yang hakiki sudah nampak hilalnya. Marsha memulas senyum, dia tidak bisa membayangkan menjadi pengangguran dan kaya raya karena dijatah empat ratus juta setiap bulan.
“Ah … tapi aku ‘kan harus kuliah,” gumamnya dalam hati. Namun, hal itu tidak membuat kebahagiaannya berkurang.
“Ya Marsha jelas kamu harus kuliah, setidaknya jadilah janda yang pandai."
_
_
Turun dari mobil sesampainya di rumah, Marsha merasakan atmosfer yang berbeda. Gadis itu masih memiliki keyakinan bahwa papi dan maminya setengah hati menerima perjodohan ini. Hanya saja mungkin banyak pertimbangan yang Marsha sendiri tidak tahu, gadis itu memilih untuk tidak memikirkan hal itu, dia masih belia tak terlalu perlu memikirkan urusan orang dewasa.
“Cuci muka, gosok gigi dan tidur,” ucap Kimi.
Wanita itu masih memperlakukan putrinya seperti anak kecil. Marsha yang mendapati perubahan sikap Kimi sejak makan malam tadi pun mematung, hingga memilih untuk berlari dan memeluk pinggang maminya dengan cara memeluk dari belakang.
__ADS_1
“Mami, kenapa Mami sepertinya sedih?” rengek Marsha. Ia curukkan kepalanya dan menghidu aroma tubuh Kimi. Aroma kasih sayang yang membuatnya selalu merasa nyaman.
“Mami tidak sedih, Mami hanya merasa cepat sekali kamu tumbuh sebesar ini. Padahal sepertinya baru kemarin kamu masuk TK,” ujar Kimi.
Richie yang baru saja naik ke lantai atas pun dibuat haru dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini. Ia bahkan mendengar bagaimana Kimi mengungkapkan isi hati sebagai seorang ibu. Richie pun mendekat dan memeluk Kimi dari belakang dengan posisi Marsha ada di tengah mereka.
“Kenapa sih sayang-sayang Papi pada melow gini? Apa kita harus pergi liburan?” tanya Richie dia letakkan dagunya di pundak Marsha. Putrinya itu menoleh dan tersenyum manis.
“Nanti Pi, aku kan harus ujian,” ucap Marsha dengan nada manja.
“Marsha, apa kamu menyukai Jeremy? Dia sepertinya sangat menyukaimu,” tanya Kimi setelah mereka mengurai pelukan.
Marsha tak lantas setuju dengan pendapat sang Mami, tapi demi kelancaran hubungannya dan Andro. Gadis itu pun mengangguk dan bahkan berkata, “Aku juga sangat menyukai Kak Jeremy.”
“Dia benar-benar akan mengayomimu, Mami melihat gurat tanggungjawab di wajahnya. Dia dewasa dan pasti baik hati.”
Richie yang mendengar dengan jelas Kimi memuji calon menantunya pun merasa cemburu. Pria itu mencebik lantas berjalan cepat menuju kamar.
__ADS_1
“Papi kenapa sih?” tanya Marsha dengan nada setengah berteriak.
“Entahlah dia itu, mungkin iri karena sekarang di hidup kita ada satu pria tampan selain dirinya,” sambung Kimi.
Pasangan anak dan ibu itu tertawa, sebelum sebuah suara terdengar menggelegar dari dalam kamar. “Aku mendengar kalian, Kimochi habis kau malam ini,” teriak Richie.
“Astaga Mami, apa ucapan Papi bisa diartikan bahwa dia ingin memproses adik bayi malam ini?” goda Marsha.
_
_
_
Bersambung dulu
Hei … hei, kangen ga? jangan lupa komen dan like ya geng. Mulai besok Marsha akan aku up rutin InsyaAllah.
__ADS_1