Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 8 : Saling Sindir


__ADS_3

Marsha seketika melempar batang panjang yang berada di tangan saat mendapati Jeremy merintih sambil memeluk selangkangaan. Ia sadar sepertinya sudah melukai dua bola cokelat milik pria itu. Membayangkannya saja Marsha merasa ngilu.


“Apa kamu sengaja mau membuatku kehilangan pabrik dan aset berharga?” tanya Jeremy dengan air muka kesakitan. Marsha pun berjongkok tepat di depan Jeremy yang terjengkang di rerumputan.


“Astaga Om, aku tidak sengaja. Sebagai sesama mahkluk berjenis kelamin wanita, mana mungkin aku membiarkan jodoh Om kelak menderita karena Om tidak bisa menghamilinya,” ucap Marsha menunjukkan rasa bersalah. Namun, hanya untuk beberapa detik saja, setelah itu dia kembali menyalahkan Jeremy.


“Salah sendiri Om berjalan tanpa bersuara, aku ‘kan tidak tahu Om sudah berdiri tepat di belakangku.”


“Kamu benar-benar! Sepertinya kesialanku akan terus berlanjut jika masih bersama denganmu,” amuk Jeremy.


“Heh … Om, apa Om mau bilang aku anak pembawa sial? jika iya haruskah aku meminta bibiku Ghea membuatkan sinetron berdasarkan kisah nyata?”


Marsha malah semakin membuat Jeremy tak bisa berkata-kata, gadis itu malah mengandaikan sesuatu hal yang sangat tak masuk akal. Meski Jeremy tahu kalau bibi Marsha yang bernama Ghea memang seorang produser. Wanita itu dulunya artis ternama.


“Apa? kamu mau membuat sinetron dengan judul apa? dijodohkan karena kutang dengan bocah pembawa sial?” Jeremy berusaha bangkit. Ia memilih pergi. Pria itu bahkan berjalan seperti bocah yang baru saja selesai disunat.


“Astaga, dia pemarah sekali,” gerutu Marsha. “Hei … Om, pergilah cek up ke mamiku siapa tahu Om hipertensi,” teriaknya dengan suara lantang.


_


_


“Kupingku gatal, siapa yang sedang membicarakanku?” gumam Kimi yang sedang menjahit luka pasien. Ibunda Marsha itu nampak berkonsentrasi meski gurat kelelahan nampak di wajah.

__ADS_1


Kimi yang seharusnya sudah pulang memilih membantu para dokter yang berjaga di UGD karena kebetulan banyak pasien berdatangan sejak subuh tadi. Mia yang mendengar ucapan Kimi pun kaget. Dokter sekaligus kekasih Jeremy itu belum tahu jika Kimi adalah wanita yang melahirkan gadis yang akan dijodohkan dengan kekasihnya.


“Saya pikir Anda tidak mempercayai hal seperti itu,” ucap Mia.


Kimi pun tertawa, setelah selesai dan menyerahkan sisa pekerjaannya ke perawat, Kimi berjalan keluar dari bilik tempatnya menangani pasien disusul oleh Mia.


“Ya, terkadang ada hal yang tidak ingin kita percayai tapi terjadi. Mungkin itu hanya sugesti,” jawab Kimi. Ia lepas jas snelinya dan menoleh Mia. “Jujur aku bingung apakah mitos harus dipercaya?”


“Maksud Anda?” tanya Mia kebingungan.


“Jika mitos benar ada, aku merasa seharusnya jodoh putriku tidak datang secepat ini karena dia suka duduk di depan pintu,” ucap Kimi lantas mendesah. “Hah … apa aku ditakdirkan menjadi nenek-nenek di usiaku yang masih terbilang muda?”


“Apa?”


_


_


“Masih sakit Om?” tanya Marsha. Ia tidak jadi bermain golf karena Jeremy kesakitan. Pria itu memilih duduk di kafe khusus yang ada di sana.


“Mau nyoba dipukul?” sentak Jeremy.


“Aku ‘kan nggak punya kinderjo Om,” jawab Marsha, dia gigit kepala sendok hot chocolate miliknya yang beberapa menit lalu baru saja diantar oleh pelayan.

__ADS_1


Jeremy membuang muka. Menikah dengan Marsha baginya berarti bukan memiliki istri tapi mengadopsi bocah yang malah akan menambah beban hidupnya sendiri.


“Kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?” tanya Jeremy setelah berhasil menstabilkan tekanan darahnya.


Marsha mengangguk, dia keluarkan kepala sendok dari mulut dan meletakkannya di atas cangkir. “Main golf lah Om, masa mau balap hot wheel.”


Jeremy menggertakkan gigi, tangannya bahkan sudah mengepal karena terlalu geram. Ia pikir Marsha sangat Oon, dia tak tahu bahwa jurus andalan Marsha untuk membuat orang kesal adalah berpura-pura bodoh.


“Aku ingin membicarakan soal pernikahan kita?”


“Astaga Om, ngebet ya?” goda Marsha lagi, dia melihat Jeremy mengeram. Sebelum pria itu mengeluarkan jurus bicara dengan kecepatan cahaya, Marsha lebih dulu berkata, “Om sebaiknya membuatku tertarik, jika tidak aku tidak akan setuju dengan kesepakatan apa pun.”


Jeremy merasa tertampar, sepertinya dia salah menilai Marsha. Gadis di hadapannya ini sepertinya cerdas dan juga licik.


“Om harus tahu karena tragedi kutang itu aku hampir dicoret dari kartu keluarga papiku, pikirkan kerugian moril yang harus aku terima! untung aku tidak kena mental, aku sedang dalam masa pertumbuhan Om, bagaimana kalau sampai masalah ini mengganggu tumbuh kembangku? ” kata Marsha dengan mimik wajah yang dia buat berlebihan, menyebalkan sekali di mata Jeremy.


“Jadi pastikan Om memberiku banyak keuntungan,” ucapnya cepat, setelahnya memalingkan muka sambil menyesap hot chocolate-nya penuh gaya.


“Aku hanya butuh dirimu untuk mematahkan kesialan dalam hidupku, tapi aku keliru karena kamu sendiri sepertinya adalah the real kesialan terbesar bagiku,” ketus Jeremy.


“Om jangan bicara sembarangan, nama lengkapku Marsha Rizia Tyaga, nama tengahku mengandung kata yang artinya menyerempet ke rezeki, meski sebenarnya itu gabungan dari nama papi dan mamiku sih, Richie dan Kimi Zia,” ucap Marsha.


“Hem … pantas kamu banyak bicara. Bahkan bisa bicara tanpa jeda seperti laju kereta, namamu saja kalau disingkat menjadi MRT," sindir Jeremy

__ADS_1


__ADS_2