
“Kalau kamu mengaku istriku, maka lakukan tugasmu sebagai istri. Siapkan kebutuhanku, bersikap manis padaku, dan … “
Mata Marsha menyipit menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan Jeremy. Pria itu menelan ludah lalu terbata-bata seperti salah tingkah.
“Dan ambilkan aku air minum, aku haus!”
Marsha membuang napas kasar dari hidung. Ia turun dari ranjang lalu menuju kulkas kecil yang ada di kamar mereka. Gadis itu mengambil satu botol air, membuka tutupnya lalu menyerahkannya ke tangan sang suami. Setelah itu Marsha kembali berbaring memunggungi Jeremy dan menarik selimut sampai sebatas leher.
“Matikan lampunya!” titah Jeremy.
“Apa Om tidak punya kaki?” amuk Marsha.
“Katanya kamu tadi ingin diakui sebagai istri, nurut donk apa kata suami,”goda Jeremy.
“Ya … ya … ya aku akan melakukannya, siapa tahu besok Om sudah tidak ada di dunia ini alias mati.”
Marsha berucap sembarangan, meski begitu Jeremy tak sampai ambil hati. Namun, ada yang bilang ucapan adalah doa, Marsha tak sadar bahwa ucapannya bisa menjadi kenyataan.
_
_
__ADS_1
Siang itu selesai kuliah, Marsha mengajak Zie ke kafe. Karena lupa membelikan sahabatnya oleh-oleh, Marsha pun memberikan arak ke temannya itu, yang dia ambil dari mini bar rumah Cantika.
“Apa kamu sudah gila, Sya? Aku bisa diikat oleh mamaku lalu dikibarkan di atas tiang lapangan kantornya.”
Zie geleng-geleng kepala. Ia kembalikan arak itu ke Marsha sambil berkata, “Tidak perlu merasa bersalah, aku tahu kamu pasti lupa membeli oleh-oleh untukku.”
Marsha pun nyengir kuda. Ia peluk Zie lalu meminta maaf akan kebodohannya. Ia memberikan kembali arak itu dan meminta Zie memberikannya ke sang papa.
“Berikan ke paman Airlangga! Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kapan-kapan aku nginep di tempatmu ya!” ujar Marsha.
“Ngomong-ngomong kapan keluargamu membuat pesta lagi?” Zie tiba-tiba bertanya, meski dia ragu dan tahu Marsha akan meledeknya habis-habisan setelah ini.
“Apa? kamu pasti ingin bertemu Sean, kan? dasar!” cibir Marsha. “Memang apa sih bagusnya mahkluk itu, kenapa kamu bisa sangat menggilainya?”
“Suamimu!” tunjuk Zie. Ia melihat Jeremy.
Namun, pria itu ternyata tak seorang diri, Jeremy bersama seorang wanita yang mengekor di belakang, dan wanita itu tak lain adalah Mia.
Marsha langsung menunduk, dia meminta Zie menutupi dirinya. Untung saja tempat duduk mereka agak jauh dari pintu masuk, hingga Jeremy tak menyadari keberadaan mereka.
“Marsha, apa suamimu berselingkuh?” tanya Zie penasaran.
__ADS_1
Marsha menggeleng sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Meski tak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh dua orang itu, tapi Marsha yakin Jeremy dan Mia pasti membicarakan tentang hubungan mereka.
***
“Maaf mengajakmu bertemu dadakan,” ucap Jeremy. Ia menatap Mia yang juga sedang memandangi wajahnya.
“Apa kamu kemarin bertemu Marsha? Kamu berkata ke dia kalau kita sudah putus,” imbuh Jeremy.
Mia mengangguk lemah, seharusnya dia tolak saja ajakan Jeremy untuk bertemu, tapi Mia sadar, jika tidak dibicarakan secara langsung ini hanya akan menjadi sesuatu yang menggantung, dan dia tidak ingin hal ini sampai terjadi.
“Apa kamu serius berkata putus ke Marsha?”
Mia lagi-lagi mengangguk, sedangkan Marsha masih terus mengamati dari balik badan Zie.
“Zie geser dikit, aku tidak kelihatan ini!”
“Heh… sudah berdiri saja dan dekati sana, lagi pula dia ‘kan suamimu,” amuk Zie.
Marsha menggeleng, dia masih menatap Mia dan Jeremy. Hingga tak sadar di dekat mejanya seorang pria sejak tadi juga sedang memperhatikan gerak-geriknya. Pria itu nampak mengetikkan sesuatu dan mengirimnya.
[ Tuan Nathan, target Anda sudah saya kunci hanya tinggal dieksekusi ]
__ADS_1
[ Lakukan! aku ingin Kimi merasakan de javu ]