
“Kamu udah sarapan belum, Sya?”
Zie menutup pintu kamar, dia baru menyadari kesalahannya karena masuk ke dalam tanpa mengetuk. Marsha sedikit salah tingkah, tapi jika itu Zie jelas tidak apa-apa. Mereka itu soulmate, tidak mungkin juga Zie akan mengkhianatinya meski mendengar apa yang dia bicarakan.
“Jangan terlalu asyik bicara sampai lupa kalian di mana.”
Zie menyindir, menandakan bahwa gadis itu memang mendengar apa yang diperbincangkan Marsha dan Jeremy tadi.
“Kamu nggak kuliah?” tanya Jeremy mendapati Zie malah duduk lalu membuka makanan yang dia bawa. “Apa ituitu?" Jeremy penasaran.
“Mama membuat sushi untukmu, Sya.” Pertanyaan Jeremy memang ditujukan untuknya, tapi Zie memilih menjawab sambil memberitahu Marsha.
“Boleh aku minta?”
“Minta saja ke Marsha,” ketus Zie.
Marsha yang merasa tingkah sahabatnya sedikit aneh pun mencoba mendekati. Ia duduk di depan Zie lalu bertanya apa terjadi sesuatu, kenapa Zie galak ke suaminya.
“Tidak apa-apa!” Zie memutar bola mata malas, dia kesal saja saat ingat Jeremy berada di kafe bersama Mia. “Oh … ya aku diminta memberi keterangan di kantor polisi besok, kalau ditanya apa aku kenal wanita itu, aku harus jawab apa?”
“Hah!”
__ADS_1
Marsha bingung, dia yang sudah memasukkan potongan sushi ke dalam mulut menoleh ke Jeremy. Pipinya yang menggembung dan rahangnya yang bergerak-gerak membuat Jeremy tertawa geli. Pria itu bahkan menasihati agar dia menelan makanannya dulu sebelum bicara.
“Harus jawab apa, Kak?”
“Jawab saja kalau Mia memang datang bersamaku dan kami mengobrol, kita tidak menyadari sedang berada di kafe yang sama.”
Zie dan Marsha saling tatap. Kini dia tahu apa yang harus dikatakan jika dimintai keterangan. Meski begitu kesal juga dia karena melihat sang sahabat seperti diselingkuhi.
Senyap, tak ada yang buka suara lagi. Hingga Jeremy memanggil Marsha yang sedang duduk bersebelahan dengan Zie dan sibuk melihat foto-foto cowok ganteng di internet.
“Sya!”
“Woi!”
“Sya, aku mau ke kamar mandi.”
Zie menurunkan ponsel, sehingga Marsha bisa fokus ke permintaan Jeremy. Gadis itu geli saat Marsha dengan polosnya bertanya apakah suaminya itu mau pipis.
“Harusnya kakak dipakaikan popok dewasa saja, naik turun ranjang bagaimana kalau jahitan operasi kakak terbuka,” omel Marsha, tingkahnya sudah mirip emak-emak yang sedang punya batita.
Saat menunggu sendirian, pintu kamar perawatan itu terbuka. Zie pun merapikan rambut dan menegakkan badan. Ia keget melihat Mia masuk dan tersenyum canggung ke arahnya.
__ADS_1
“Apa Jeremy sedang di kamar mandi?”
“Iya, dia pipis berdua dengan Marsha,” jawab Zie dengan muka sedikit dibuat masam.
Mia pun tersenyum, dia duduk di dekat Zie karena memang butuh bertemu dengan Jeremy untuk membahas apa yang akan dikatakan jika orang bertanya tentang hubungan mereka.
Mia dan Zie tak bicara satu sama lain, merek saling diam hingga bisa mendengar bunyi-bunyian dari dalam kamar mandi.
"A... a.. Ah, kak Je jangan gitu aku basah ini."
"Ya maaf salah siapa kamu berdiri di situ."
"Lalu aku harus berdiri di mana? Kalau kak Je kepleset, kejedot, amnesia, siapa yang akan disalahkan? Aku tidak mau jadi janda kembang."
Mia dan Zie sama-sama salah tingkah, hingga keduanya berdiri bersamaan untuk keluar kamar.
"Kamu mau mencoba makan bakmi di kantin rumah sakit? Enak, aku traktir," ucap Mia.
Tanpa berpikir panjang Zie mengangguk, meski kesal ke Mia tapi setidaknya otak sucinya terselamatkan.
"Sya, mandikan aku!"
__ADS_1
"Mandikan? apa kamu jenazah?"
Mia mengatupkan bibir, dia ingin tertawa tapi juga sesak mendengar perbincangan Marsha dan Jeremy.