Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 53 : Ke Rumahmu


__ADS_3

Jeremy ketakutan sendiri, dia tidak ingin Peter sampai mendirikan tembok yang menjulang tinggi di antara mereka. Pria itu sadar masih sangat membutuhkan sekretarisnya itu.


“Tidak Pak, terima kasih! Saya tidak lapar.” Peter menolak bak anak perawan yang diajak kawin.


“Peter, jangan seperti itu! Penolakanmu membuatku terlihat seperti orang jahat!” Jeremy tahu bahwa dia sudah melakukan kesalahan, sikapnya tadi memang berlebihan, tapi bukankah ini bukan kali pertama dia bersikap seperti itu, lalu kenapa Peter nenanggapinya berlebihan?


“Ayo kita pergi ke restoran barbeque. Lupakan dulu dokumen sialan ini,” ucap Jeremy sambil membanting tumpukan berkas di meja. “Aku akan memeriksanya setelah perutku sudah kenyang. Aku sudah sangat lapar dan tak bisa berpikir.”


Peter mengangguk tanpa bersuara, dia membuat Jeremy semakin serba salah sendiri.


“Peter!!” Kali ini suara Jeremy terdengar membentak.


“Saya hanya bercanda, Pak! Mari kita pergi!" Ajaknya dengan tawa lebar karena berhasil mengerjai sang atasan.


_


_


Setelah selesai berbelanja, awalnya Rey ingin mengajak Marsha untuk makan di luar. Namun, gadis itu ingin pergi ke rumah nenek Cantika. Dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan wanita tua itu.


Permintaan Marsha itu disambut Rey dengan baik. Tidak ada alasan untuknya menolak permintaan Marsha. Rey pun melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah sang nenek.

__ADS_1


“Tapi aku tidak yakin nenek ada di rumah, dia bilang terkadang pergi jalan-jalan atau arisan bersama teman-temannya,” ucap Rey.


“Tidak apa-apa, kalaupun nenek pergi kita bisa mengobrol berdua,” jawab Marsha.


Sebenarnya, ini hanya siasat Marsha untuk mendekati Cantika dan mengeksplor isi rumah di mana Jeremy tinggal. Ia harus mengambil hati Cantika, agar besok setelah menikah wanit itu akan lebih membelanya ketimbang Jeremy.


Ya, Marsha sadar tidak akan bisa lepas dari jerat pernikahan tak terduga ini. Sudah tidak ada harapan untuk lari, jadi tidak ada salahnya untuk mencoba beradaptasi.


Sesampainya di rumah Rey langsung membuka pintu. Meski sudah membunyikan bel tapi pembantunya kalah cepat.


“Maaf, Mas Rey!” ucap pembantu sopan.


Rey dan Marsha pun langsung menuju ruang keluarga. Mereka melihat Cantika duduk di salah satu single sofa di ruangan yang didominasi warna putih itu. Mata Cantika fokus pada layar TV- menonton sinetron yang dia gemari. Bahkan Rey takut mengganggu hingga memilih berpura-pura batuk.


“Uhuk! Nek ….”


Cantika menoleh, dia kaget mendapati Marsha berdiri di samping cucunya. Ia pun tersenyum lebar dan langsung memeluk gadis itu.


“Tumben sekali Marsha. Lha … Jeremy mana?”


“Kakak jelas masih di kantor, kami pergi jalan-jalan berdua mencari sepatu. Aku hampir mengantar Marsha pulang, tapi dia bilang ingin bertemu dengan nenek,” jawab Rey. Ia menjelaskan panjang lebar karena Cantika sudah menyipitkan mata, serta melemparkan tatapan curiga kepadanya.

__ADS_1


“Kalian sudah makan belum?” tanya Cantika setelah Marsha mengangguk untuk mempertegas alasan Rey tadi.


Inilah pertanyaan yang sangat dinantikan keduanya. Perut Rey dan Marsha sudah berdendang ala musik India sejak tadi.


“Tadinya kami mau makan di luar, tapi … calon kakak iparku yang cantik ingin bertemu dengan Nenek.”


“Ah, benarkah itu? Aku sangat terharu. Baiklah, aku akan menyiapkan makanan spesial untuk kalian.


“Biarkan aku membantu nenek,” ucap Marsha mendengar ucapan Cantika. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan emas dan menunjukkan raut muka antusias.


“Tidak perlu! kamu itu tamu, Marsha. Pantang bagi kami untuk membiarkanmu melakukan pekerjaan—”


Marsha menggeleng cepat dan membalas ucapan Cantika barusan, “Kenapa Nenek berkata seperti itu? bukankah aku akan menjadi bagian dari keluarga ini? Apa aku ini orang asing sampai Nenek menganggapku tamu?”


Cantika merasa sangat senang mendengar jawaban manis itu keluar dari bibir Marsha. Hingga dia berpikir, gadis itu memang tepat untuk dijodohkan dengan Jeremy.


Tak perlu menunggu lama, Cantika pun menuju dapur bersama Marsha. Hidangan yang akan mereka buat mungkin sangat sederhana, tetapi semua itu terasa istimewa bagi Cantika.


Sementara kedua wanita itu berada di dapur, Rey memutuskan untuk duduk di ruang tengah menonton sinetron yang sebelumnya ditonton oleh Cantika. Meski beberapa kali, dia menggelengkan kepala melihat adegan yang menurutnya sangat konyol.


“Heh … kenapa pria itu jahat sekali ke istrinya? Apa dia ingin istrinya itu direbut pria lain?” gerutu Rey.

__ADS_1


__ADS_2