
“Kukira bestie ternyata kau bestai,” oceh putri Richard Tyaga itu. Marsha merasa dikhianati oleh Peter yang sangat dipercaya.
“Sakit!” keluh Peter sambil mengusap punggungnya yang terasa panas karena pukulan telapak tangan istri sang atasan.
Jeremy hanya berdecak, bagaimana pun memang Marsha biang keroknya, pencari gara-gara dengan berbohong dan bahkan menawarkan pada Linda mainan plus dua satu yang hanya imajinasinya itu. Melihat Sekretarisnya dipukul, Jeremy merasa sedikit tidak terima dan meminta Marsha untuk mengucapkan kata maaf ke Peter.
“Heh … maafnya nanti saja!” elak Marsha. “Ada yang lebih penting dari itu, aku ada ide yang bisa membuat Bu Linda melupakan benda itu, aku yakin setelah ini Om pasti akan sangat berterimakasih padaku, tapi jika sampai itu terjadi, Om harus mengabulkan tiga permintaan dariku!”
Jeremy tak langsung mengiyakan apa yang istrinya inginkan, dia menoleh Peter yang masih mengusap punggung seolah meminta persetujuan pria itu.
“Kenapa memandang saya seperti itu, Pak?” tanya Peter.
“Ya karena feelingku mengatakan, aku tidak akan bisa mengerjakannya sendirian.” Jawab Jeremy yang seolah sudah bisa menebak ide Marsha.
“Tega sekali Anda.” Peter memandang sang atasan dengan tatapan iba.
Marsha pun menepuk udara di depan muka Peter, dia mencondongkan kepala di depan dua pria itu lalu menggunakan jari telunjuk meminta mereka mendekat. Bak kerbau dicocok hidungnya, dua pria dewasa itu menurut saja.
“Aku tadi tanpa sengaja membaca pesan Bu Linda dengan putra sulungnya, ternyata hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan ke tiga puluh Tuan Kevin dan Bu Linda, dia kecewa karena anaknya tidak bisa diajak mengadakan acara bersama,” tutur Marsha. “Jadi kalau dari yang aku baca, sebenarnya mereka ingin mengadakan acara tapi anak-anak mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.”
__ADS_1
Jeremy dan Peter saling pandang, dua pria itu seolah berkomunikasi menggunakan batin selama beberapa detik sebelum mengangguk bersamaan.
“Lalu, apa kita buat kejutan untuk mereka?” tanya Jeremy.
“Tentu saja, kita siapkan acara dinner romantis untuk mereka,” imbuh Marsha.
Peter pun mengangguk-angguk, wajahnya begitu sangat santai sampai tiba-tiba berubah muram karena Jeremy dan Marsha menatapnya sambil menyeringai nakal.
“Kenapa? ada apa?” tanya Peter kebingungan.
_
_
“Aku yakin malam ini Tuan Kevin pasti akan menandatangani dokumen kesepakatan bisnis dengan Om.”
Marsha mengurai tangan lalu menoleh Jeremy, dia memandang wajah pria itu dengan wajah berseri-seri.
“Jangan lupa kabulkan tiga permintaanku jika rencana ini berhasil,” kata Marsha.
__ADS_1
“Jangankan tiga, sepuluh pun akan aku penuhi jika memang tuan Kevin akan dengan mudah membubuhkan tanda tangan ke kertas Kerjasama,” ujar Jeremy.
Marsha mengulurkan kelingking lantas menggerak-gerakannya. Ia ingin Jeremy mengikat janji agar tidak bisa dengan mudah mengingkari. Meski awalnya membuang muka dan berdecih, pada akhirnya Jeremy menautkan kelingkingnya ke kelingking Marsha. Istrinya itu bahkan menggoyang-goyangkan kelingking mereka sambil tertawa-tawa.
“Benar-benar!” ujar Jeremy dengan pipi sedikit merona, dia merasa malu karena bertingkah konyol.
“Sudahlah ayo masuk! mandi dan bersiap untuk membuat kejutan untuk Tuan Kevin dan bu Linda, kasihan Peter kita aniaya.”
Jeremy hendak mengayunkan kaki. Namun, Marsha tiba-tiba lebih dulu membuka mulut, sebenarnya sudah dari kemarin dia ingin mengatakan hal ini, tapi selalu lupa.
“Oh … ya, apa Om tidak mau membeli oleh-oleh untuk kakak Mia?”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1