Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 173 : Rencana


__ADS_3

Marsha menatap Jeremy dengan rasa cemas, suaminya terlihat begitu serius hingga membuatnya ketakutan. Mungkinkah hal yang ingin Jeremy sampaikan adalah hal buruk.


“Kak Je, jangan membuat aku takut!” ucap Marsha dengan ekspresi wajah cemas.


“Aku bahkan belum buka suara, kenapa kamu takut?” Jeremy menatap heran ke sang istri.


“Tapi sikap kakak sudah membuatku takut,” ujar Marsha.


Jeremy malah tertawa, hingga kemudian memilih mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.


“Aku hanya mau membahas soal acara empat bulanan kandunganmu. Aku berencana mengadakannya, sekalian mendoakan kesehatan kamu dan calon bayi kita,” ujar Jeremy menjelaskan.


Marsha pun mengembuskan napas lega, ternyata hal penting itu yang ingin dibahas oleh suaminya bukanlah hal buruk.


“Aku setuju, sekalian kita berbagi untuk saudara kita yang membutuhkan, Bagaimana?” sambung Marsha. “Tapi …, aku tetap ingin bertemu Zie. Ini keinginan bayi kita kak, bukan aku,” ucap Marsha.


Memberikan alasan yang lebih kuat agar tidak dihalangi bertemu langsung dengan Zie. Ia benar-benar penasaran ingin menanyakan hubungan asmara temannya itu dengan Peter.


Tak kehabisan akal, Jeremy pun tersenyum. Pria itu mengambil ponsel dan memberikannya ke Marsha.


“Telepon saja,” kata Jeremy.


“Tapi bayi kita ingin melihat muka Zie, Kak Je.” Marsha mencoba membujuk agar diperbolehkan bertemu Zie.

__ADS_1


“Video call ‘kan bisa.”


Marsha kicep, dia tidak mau menerima ponsel yang disodorkan Jeremy, hingga pria itu akhirnya mendial nomor Zie dan melakukan panggilan video agar sang istri bisa melihat wajah gadis yang diidam-idamkan.


“Ini!”


Jeremy memberikan ponsel ke tangan Marsha yang cemberut. Putri tunggal Kimi dan Richie itu tak menyangka sang suami kini bisa lebih banyak akal darinya. Pria itu bahkan tersenyum lebar, puas karena dia kalah berdebat.


“Kamu puas-puasin bicara dan melihat wajah Zie, aku mau mandi,” kata Jeremy sambil memberikan ponsel ke Marsha. Dia lantas pergi ke kamar mandi dengan wajah semringah penuh kemenangan.


Panggilan video itu sendiri sudah terhubung, Zie keheranan karena Marsha melakukan panggilan video. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu dan mengobrol panjang lebar.


“Ada apa, Sya?” tanya Zie.


Zie awalnya terkejut mendengar pertanyaan Marsha, tapi kemudian menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


“Aku dan kak Peter hanya TTM, Sya. Teman tapi mesra,” jawab Zie diakhiri tawa kecil yang sangat nakal.


Bukannya ikut tertawa, Marsha malah kesal mendengar hal itu, hingga kemudian menasihati, “Berhenti melakukan itu, Zie. Itu nggak baik buat hubungan asmaramu.”


Zie hanya mengedip karena bingung, kenapa Marsha malah tampak sewot dan cemberut. Seketika keheningan terjadi di antara keduanya, sampai Marsha kembali buka suara.


“Udah, kamu jangan TTM-an lagi. Aku mau jodohin kamu sama orang terdekatku, biar kita semakin dekat dan menjadi saudara.”

__ADS_1


“Siapa? Siapa?” tanya Zie. Ia agak gede rasa, berpikir jika Marsha akan menjodohkannya dengan Sean. Namun, wajah gadis itu berubah tak bersemangat saat Marsha ternyata malah menyebut nama adik Jeremy.


“Sama Rey.”


***


Hari berikutnya, Jeremy mengantar Marsha pergi ke rumah Kimi sebelum berangkat kerja. Selain karena sudah lama sang istri tak menginap di rumah orangtuanya, Jeremy juga berniat menyampaikan rencananya terkait acara yang ingin mereka adakan.


“Mi, sebenarnya aku berencana untuk mengadakan acara syukuran, sekalian mendoakan kesehatan Marsha dan calon bayi kami,” ucap Jeremy menjelaskan rencananya.


“Itu bagus, Mami setuju dan pasti akan membantu kalau kalian butuh sesuatu,” ujar Kimi.


“Nanti Mami bantu aku pilih catering dan souvenirnya, ya!” pinta Jeremy.


“Tentu saja, kamu jangan khawatir!” Kimi menepuk pundak sang menantu, dia sedikit lega melihat kondisi Marsha yang sehat.


Setelah beberapa saat berbincang, Jeremy pun pamit berangkat kerja. Kimi iseng mengajak Marsha ke kamar untuk menunjukkan beberapa barang.


Marsha sendiri merasa keheranan, tapi memilih tetap ikut Kimi masuk ke kamar. Ibundanya itu membuka album, memperlihatkan foto-foto saat Marsha masih bayi, juga ada beberapa pakaian bayi yang masih disimpan rapi.


“Kenapa bajunya masih disimpan sampai sekarang?” tanya Marsha keheranan.


“Karena baju ini dulu hadiah dari papimu. Apalagi papi memberikannya dengan cara yang sangat romantis, jadi mana tega Mami membuangnya,” jawab Kimi sambil memandang baju bayi itu.

__ADS_1


Marsha memperhatikan Kimi yang terus mengusap baju, hingga dia menghela napasnya kasar. “Aku juga mau diberi hadiah dengan cara romantis, tapi aku sadar kalau kak Jeremy bukan tipe pria romantis dan peka dengan keadaan.”


__ADS_2