
“Kakak tidak apa-apa ‘kan?”
Jeremy terdiam. Ia seperti masih tak percaya. Membayangkan jika speaker tadi sampai jatuh menimpa kepala, mungkin saja dia sudah pindah dunia. Pria itu masih diam menatap wajah Marsha yang entah dari mana tiba-tiba bisa ada di dekatnya. Gadis itu nampak sangat cemas, begitu juga beberapa orang yang langsung memanggil petugas hotel.
“Ti-dak, aku tidak apa-apa,” jawab Jeremy dengan terbata. Rai pun mendekat dan menyodorkan air minum kepadanya.
“Bagaimana sih hotel ini, bagaimana kalau sampai mencelakai tamu?” Richie murka, tapi Kimi mencoba meredam amarah dengan berkata semua bisa dibicarakan yang penting calon menantu mereka tidak terluka. Sementara itu, Jeremy masih tak habis pikir bagaimana bisa dia hampir tertimpa kesialan lagi. Mungkinkah karena membicarakan Marsha tadi?
_
_
__ADS_1
Sore itu, Marsha bertemu dengan Rey di sebuah kedai gelato. Pria itu memangku dagu melihat gadis di depannya yang bercerita banyak hal.
Sangat cerewet begitu pikir Rey, tapi entah kenapa semakin lama dia malah semakin tertarik. Pria itu bahkan membiarkan es krimnya meleleh di cup karena terlalu fokus dengan ocehan Marsha. Sang kakak tidak menceritakan dengan jelas bagaimana bisa dia dijodohkan dengan Marsha, tapi gadis itu malah bercerita dari A sampai ke Z ke dirinya.
“Kalau disuruh pilih antara Kak Jer dan aku untuk dijodohkan denganmu, siapa yang akan kamu pilih?” tanya Rey.
“Kak Jer,” jawab Marsha. Meski budak cinta tapi dia bukan lah gadis bodoh. Marsha tahu batasan mana yang bisa diceritakan dan tidak, dia juga paham kalau bagaimanapun Rey adalah adik kandung calon suaminya, jangan sampai pria itu tahu dia sebenarnya terpaksa menikah dengan Jeremy.
Rey pun terbahak, dia menegakkan punggung lalu berucap, “Aku sungguh kecewa karena aku benar-benar menyukaimu.”
Rey terbahak, dia pun mengungkapkan perasaannya lagi. Kata-kata yang bagi Marsha hanyalah sekadar gurauan dan bualan, karena dia berpikir Rey pasti berniat memastikan perasaannya ke Jeremy.
__ADS_1
“Kalau dia menyakitimu, kamu bisa datang padaku.”
Marsha menggeleng, dengan jemawa gadis itu membalas, “Kak Jer tidak mungkin menyakitiku, dia sangat sayang padaku.” Meski sebenarnya dalam hati Marsha ingin berkata ‘Dia tidak akan mungkin menyakitiku karena aku juga tidak akan pernah menaruh hati padanya’.
Rey tersenyum lantas menyambar es krim miliknya, dia menikmati setiap rasa manis yang menempel di lidahnya untuk sedikit menawarkan rasa getir yang dia rasakan. Rey sadar bahwa menyukai Marsha adalah perbuatan terlarang dan seharusnya dia hindari, tapi mau bagaimana lagi gadis itu benar-benar sudah mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
“Mulai bulan depan aku akan bekerja sebagai direktur di Baskomsel,” ucap Rey yang seketika membuat Marsha tersedak. Pria di depannya ini dengan sigap menarik beberapa lembar tisu dari wadah lalu memberikannya.
Bukan apa-apa, Marsha hanya takut jika sampai Rey menyadap percakapan atau pesannya. Ia tahu bahwa provider bisa mengakses data pengguna untuk itulah dibutuhkan nama dan nomor identitas untuk mendaftar.
“Kenapa kamu sepertinya kaget?” selidik Rey.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya tersedak saja,” dusta Marsha sambil sibuk mengusap bibir dengan tisu yang diberikan oleh Rey sambil terbatuk kecil.
“Tenang saja! aku tidak akan menyadap panggilanmu,” balas Rey yang semakin membuat Marsha terbatuk.